Ketua AJI Eko Maryadi menyayangkan peliputan sensasional yang mengeksploitasi korban. Seperti menayangkan secara berulang kondisi korban dan keluarga dengan mengeksploitasi kesedihan, menampilkan foto korban, histeria keluarga korban secara berlebihan. "Jurnalis untuk tidak membuat berita spekulatif atas terjadinya peristiwa musibah tersebut," kata Eko dalam rilis yang diterima merdeka.com, Minggu (13/5).
AJI mengajak media mempertimbangkan perasaan keluarga korban dalam melakukan pelaporan jurnalistik. "Mereka yang sedang berduka bagian dari publik yang memiliki hak untuk mendapatkan informasi secara proporsional, tidak hanya semata sebagai objek berita," katanya.
Eko menegasakan para pemimpin redaksi media jangan mengabaikan aspek peliputan berperspektif korban, sebagai tanggung jawab moral jurnalistik profesional dan beretika. "Tidak sepantasnya media menjual produk jurnalistik dari tangisan dan penderitaan korban apakah lewat oplah, page view, atau rating," katanya.
AJI meminta Dewan Pers dan Komisi Penyiaran Indonesia berperan aktif mengawasi pemberitaan yang cenderung provokatif dan melanggar kode etik jurnalistik. Selain itu, AJI menyampaikan bela sungkawa atas musibah jatuhnya pesawat Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak, Bogor, yang kemungkinan menewaskan seluruh penumpangnya, termasuk lima orang jurnalis.
[war]
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori AJI /
berita sukhoi /
dewan pers /
jurnalisme berimbang /
jurnalisme spekulatif /
komunikasi massa /
News
dengan judul Pemberitaan Sukhoi Sudah Mengarah Kepada Komoditas Pemberitaan. Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL https://berita-ku.blogspot.com/2012/05/pemberitaan-sukhoi-sudah-mengarah.html. Terima kasih!
Ditulis oleh:
Rumput Liar - Minggu, 13 Mei 2012





Belum ada komentar untuk "Pemberitaan Sukhoi Sudah Mengarah Kepada Komoditas Pemberitaan"
Posting Komentar