Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label perhiasan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perhiasan. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 Juni 2012

Usaha perancang perhiasan bikin kantong makin tebal

Merancang perhiasan bisa menjadi profesi yang menguntungkan. Asalkan kreatif memilih bahan baku dan peka memadukan warna perhiasan, seseorang bisa menjadi perancang perhiasan tanpa perlu sekolah khusus. Dari profesi ini bisa menghasilkan duit puluhan juta rupiah.

Keindahan perhiasan ternyata tidak datang dengan sendiri. Sebuah perhiasan yang anggun dan indah merupakan hasil sentuhan dan keterampilan jemari seorang perancang perhiasan profesional.

Salah satu yang menekuni profesi perancang perhiasan ini adalah Dessy Maria Azis. Ia terjun ke dunia perhiasan sejak 2008 lalu. Kini ia menjadi perancang perhiasan di toko perhiasan etnik Rez-Q di Jakarta.

Wanita berusia 45 tahun itu menjadi perancang perhiasan karena menyukai perhiasan etnik. Bahkan, Dessy pernah merancang perhiasan etnik sendiri lantaran kesulitan mencari perhiasan etnik di pasaran.

Untuk mewujudkan rancangan sebuah perhiasan yang indah, Dessy meminta bantuan perajin perak di kota Yogyakarta atau Solo.

Dan, bak gayung bersambut, perhiasan buah tangan perdana Dessy itu ternyata banyak disukai teman dan kerabatnya.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Dessy untuk menawarkan jasa membuat rancangan perhiasan etnik. Tanpa disangka, rancangan itu banyak yang memesan, termasuk dari Singapura dan Malaysia.

Hingga kini, saban bulan Dessy melayani 200 permintaan rancangan perhiasan. Perhiasan yang dirancang antara lain: kalung, gelang, cincin, bros, dan aksesori.

Untuk merancang perhiasan itu Dessy memanfaatkan bahan baku emas, perak dan tembaga. Selain ia memanfaatkan batu akik, druzy, kecubung, garnet, tirus, dan mutiara mabe. Seluruh bahan baku tersedia di dalam negeri. "Semakin etnik dan unik maka semakin banyak yang suka," katanya.

Tarif jasa rancangan perhiasan dari Dessy itu beragam. Mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 700.000 per unit perhiasan. Dessy mematok tarif mengacu pada kerumitan desain serta harga bahan baku. Dari usaha ini, dalam sebulan Dessy setidaknya bisa mengantongi omzet hingga Ro 50 juta dengan laba sebesar 50%.

Yang jelas, kebanyakan pelanggan Dessy menginginkan desain perhiasan yang eksklusif. Itulah sebabnya, Dessy hanya membuat 10 item dari setiap desain. "Konsumen tidak ingin model pasaran," jelas Dessy.

Selain Dessy, ada Louisa Dominique. Louisa ini sudah sembilan tahun menjadi perancang perhiasan. Kini ia sudah memiliki toko perhiasan sendiri bernama Olie Collection di Batam.

Dalam menawarkan jasa, Louisa sering mendapat pesanan rancangan paket perhiasan. Setiap paket perhiasan itu terdiri dari anting, cincin, kalung, gelang, hingga liontin.

Ia mengaku profesi sebagai perancang perhiasan saat ini cukup menjanjikan. "Apalagi penggemar perhiasan juga makin banyak," kata Louisa.

Bahan baku perhiasan besutan Louisa terdiri dari emas perak, mutiara, batu kristal, dan safir. "Tugas perancang perhiasan bukan mendesain saja, tapi juga memaksimalkan bahan yang ada," kata Louisa.

Untuk menekuni profesi ini butuh kepekaan dalam memberikan warna dan memberi tampilan. Yang tak kalah penting adalah imajinasi, profesi ini sangat membutuhkan imajinasi yang tinggi agar bisa menghasilkan perhiasan yang menarik.

Soal tarif perhiasan ini, Louisa mengaku tidak ada standar bakunya. Wanita lulusan ilmu desain grafis itu bilang, tarif tergantung dari eksklusivitas karya. Sejauh ini Louisa rata-rata mematok tarif jasa pembuatan perhiasan mulai Rp 85.000 sampai Rp 1 juta dengan omzet Rp 30 juta per bulan.
Selasa, 15 Mei 2012

Kemilau bisnis desain aneka perhiasan

Perhiasan sangat dibutuhkan para wanita sebagai aksesori penyempurna penampilan. Asal bisa memenuhi selera pasar, bisnis ini menjanjikan. Kuncinya, desain perhiasan harus benar-benar menarik. Jika sukses merebut hati wanita, omzet puluhan juta siap mampir ke kantong.

Selama ini, perhiasan lekat dengan keseharian wanita sebagai penyempurna penampilan. Tak heran, bila bagi sebagian besar wanita, kebutuhan akan perhiasan ini cukup tinggi. Namun, sebagai penyempurna penampilan, tentu desain perhiasan tidak bisa asal buat.

Perlu tenaga-tenaga terampil yang dapat menghasilkan perhiasan dengan desain semenarik mungkin. Tak peduli perhiasan tersebut berupa gelang, kalung, anting, cincin, atau bros. Begitu pun dengan bahannya, seperti manik-manik, kulit kerang, hingga perak. Semua tentu butuh desain yang menarik.

Salah satu pemain desain perhiasan ini adalah Bagus Alit Susena, asal Tabanan, Bali. Sejak 2010, ia merintis bisnis perhiasan dengan bendera usaha bernama Indira Silver. Sesuai nama bendera usahanya, ia lebih fokus memproduksi perhiasan berbahan perak.

Menurut Bagus, tidak semua orang bisa menekuni usaha ini. Soalnya, dibutuhkan kreativitas tinggi dalam pembuatan desain perhiasan. Agar bisa menghasilkan desain menarik, tentu dibutuhkan pengalaman.

Mendesain perhiasan memang tergolong rumit karena ukurannya kecil-kecil. "Semakin rumit desain suatu perhiasan, semakin mahal juga harganya," jelas Bagus.

Apalagi, jika desain tersebut merupakan pesanan konsumen. Ia sendiri masih membuat desain secara manual dengan menggunakan media lilin. Lantaran masih manual, dibutuhkan waktu sehari penuh agar bisa menghasilkan desain yang menarik.

Salah satu motif yang sering dibuat Bagus adalah desain cincin dengan motif bunga. Selain cincin, ia memproduksi gelang, anting, pin, liontin, dan kalung.

Untuk menarik minat pelanggan, Bagus berusaha membuat desain perhiasan tetap memiliki ciri khas tersendiri, dan kualitasnya tetap dipertahankan.

Ia mengaku, hasil desain perhiasannya kerap diikutsertakan dalam beberapa pameran di luar negeri. Itu sebabnya, kata Bagus, sebagian besar konsumennya berasal dari luar negeri, seperti Eropa dan Jepang. Sementara konsumen dalam negeri, hanya segelintir saja yang berminat lantaran harganya cukup tinggi.

Ia membanderol harga perhiasan mulai dari Rp 123.456-Rp 1,3 juta per unit. Sebulan, ia meraup omzet Rp 20 juta dengan laba bersih 20% dari omzet.

Pemain lain yang sukses menekuni usaha ini adalah Eka Mardiansyah, pemilik Double M Silver di Denpasar, Bali. Menurutnya, bisnis desain perhiasan masih cukup menarik karena masih sering dicari banyak orang.

Kendati demikian, persaingan usaha ini sudah semakin ketat. Makanya, setiap pemain perlu menonjolkan kreativitas masing-masing di setiap produk yang dihasilkan. "Kreativitas desainer menentukan kunci sukses dalam memenangi persaingan," ujarnya.

Kreativitas ini juga menyangkut kemampuan memenuhi keinginan pelanggan atau custom. Menurutnya, desain custom menjadi tantangan tersendiri bagi usaha ini. Dari sekian banyak model desain, yang paling banyak dicari adalah desain simetris dan natural. "Tapi, semua desain dan pola harus bisa dikuasai," ujarnya.

Namun, ia menilai, kreativitas yang beragam itu pula yang membuat tidak ada standardisasi mengenai harga dari penyedia jasa desain perhiasan ini. Sebagai contoh, Eka membanderol harga produk perhiasan mulai dari Rp 800.000-Rp 1 juta per unit. "Harga tersebut ada yang mencakup biaya jasa produksi dan ada pula yang murni hanya ongkos desainnya, jadi tergantung kerumitannya," ujarnya.

Dalam sebulan, ia bisa menerima belasan hingga dua puluhan pesanan. Omzetnya sekitar Rp 15 juta saban bulan dengan margin sekitar 40% dari omzet.

Selain mendesain perhiasan, Eka juga menyediakan jasa pembersihan dan reparasi perhiasan. Menurutnya, belum banyak pemain yang menyediakan layanan ini. "Dengan penambahan layanan ini kami berharap bisa bersaing dengan pemain lainnya," jelasnya.

Sukses menekuni bisnis desain perhiasan juga dirasakan Matahari Terbit yang berlokasi di Bandung, Jawa Barat. Syahbudin Ramli desainer Matahari Terbit mengaku, bisa membuat 15-30 desain perhiasan.

Desain buatannya itu diaplikasikan pada bahan perak dan emas. Perhiasan hasil desainnya itu dijual mulai Rp 6 juta-Rp 8 juta per buah. "Selama ini saya lebih banyak membuat desain dengan model yang elegan dan simple, sehingga tidak terlihat berlebihan saat dikenakan," ujarnya.

Selain di dalam negeri, produk perhiasan hasil rancangannya juga banyak dipasarkan di luar negeri. Di Indonesia, pelanggan Matahari Terbit berasal dari Riau, Jawa Timur, Jawa Tengah, Kalimantan, dan Sumatera. Sementara di luar negeri sampai ke Dubai, Turki, Amerika, dan Italia.

Menurut Syahbudin, lama pengerjaan desain perhiasan bervariasi tergantung tingkat kesulitannya. "Desain yang sederhana bisa satu hari, namun yang sulit bisa sampai dua minggu," ujarnya.