Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label bimbel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bimbel. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 Juni 2012

Rezeki datang dari siswa yang tertarik eksakta

Usaha bimbingan belajar (bimbel) spesialisasi pada bidang pelajaran tertentu ternyata masih ramai peminat. Buktinya, beberapa bimbel masih bisa eksis dan mengeruk keuntungan 20% hingga 30% per bulan. Kalau sukses, dua tahun impas.

Pelajaran eksakta seperti matematika, kimia, dan fisika masih jadi momok bagi sebagian siswa. Orang tua pun banyak yang tidak menguasai pelajaran ini. Padahal, di sisi lain, banyak orang masih menganggap siswa yang mendapat nilai bagus dalam bidang pelajaran ini lebih gampang berburu sekolah di jenjang yang lebih tinggi maupun mencari pekerjaan di masa depan.

Tak mengherankan, demi membantu buah hati menguasai pelajaran-pelajaran ini, para orang tua rela memanggil guru privat atau mendaftarkan anaknya ke lembaga bimbingan belajar (bimbel). “Paling tidak ada 30 anak per bulan yang men-daftar ke bimbel kami,” ujar Jenny Oktowarti, Franchise Development Manager Sinotif. Malah, di masa-masa memasuki tahun ajaran baru, bisa 60 siswa mendaftar di setiap gerai.

Jenny bilang, sejak berdiri pada tahun 1997 Sinotif mengkhususkan diri pada bimbel pelajaran eksakta. “Pelajaran lain bisa hafalan, sedangkan eksakta butuh pemahaman,” katanya. Melihat peluang ini, sejak 2009 lalu Sinotif menawarkan kerja sama waralaba. Hasilnya, saat ini jaringan Sinotif sudah berkembang menjadi 21 cabang dari semula hanya tujuh cabang (1997). Cabang terbaru Sinotif baru buka pada Maret lalu di Tanjung Duren, Jakarta.

Prospek bisnis bimbel spesialis bidang pelajaran ilmu eksakta yang cerah juga dilihat oleh oleh Bimbingan Belajar Peter yang berpusat di Malang, Jawa Timur. Oleh sebab itu, Purnamasari Dewi, pengelola bimbel ini, berani berekspansi ke ibu kota, membuka dua cabang.

Masih soal prospek usaha, pemilik Bimbingan Belajar Katalis Corporation Indra Sugiarto mengungkapkan, selama menjalankan usaha bimbel, dia belum pernah mengalami penurunan omzet. Dalam sebulan, Katalis Corporation yang juga membidangi bimbel pelajaran eksakta bisa meraup omzet sekitar Rp 24 juta.

Potensi pasar boleh saja memang oke, bagaimana dengan potensi laba yang bisa dijaring bisnis ini? Jenny bilang, keuntungan yang dia dapat dari usaha ini sekitar 20% hingga 30% dari omzet. Karena itu, berdasarkan pengalaman dia, rata-rata modal setiap cabang bisa balik dalam tempo dua tahun.


Kalangan atas

Pasar yang disasar oleh bimbel spesialis seperti Sinotif ataupun Peter adalah kalangan menengah atas. Maklum, tarif yang dipasang cukup tinggi. Sinotif membanderol tarif per siswa per tahun Rp 6 juta untuk siswa SD, Rp 8 juta untuk siswa SMP, dan Rp 10 juta bagi siswa SMA per tahun. Sementara Peter membanderol harga per semester mulai Rp 3 juta.

Jenny menambahkan, untuk meminimalkan risiko, biaya bimbel selama setahun harus dibayarkan sekaligus di depan. Ini strategi untuk menghindari kerugian, bila dalam sebulan tidak ada siswa baru yang mendaftar. “Dengan begini, mitra tetap bisa menutupi kekurangan perusahaan,” katanya.

Menurut para pengelola, tarif yang dikenakan pada siswa terbilang mahal karena penyelenggaraan pelajaran menggunakan sistem semi-privat. Setiap kelas hanya diisi sedikit siswa dengan satu guru yang sama. Tujuan metode ini supaya guru bisa mengikuti perkembangan siswa dan bisa memberikan laporan kepada orang tua mengenai perkembangan anak. Oleh sebab itu, siswa juga diberi garansi, apabila selama mengikuti bimbel dan hasil ujian kurang dari 80%, uang bimbel akan dikembalikan.

Anda tertarik? Ayo, kita bedah seluk-beluk mengawali dan menjalankan bisnis ini.


Waralaba Sinotif

Untuk menjadi terwaralaba Sinotif, modal yang harus Anda siapkan cukup besar, yakni sekitar Rp 1,2 miliar. Investasi tersebut antara lain digunakan untuk belanja peralatan bimbel Rp 235 juta, belanja perlengkapan dan kebutuhan renovasi gerai Rp 600 juta, franchise fee untuk 5 tahun Rp 350 juta, dan untuk biaya izin usaha Rp 15 juta. “Modal investasi ini tidak mutlak karena menyesuaikan luas lokasi usaha,” kata Jenny.

Selain memiliki modal, Anda juga harus sudah menyiapkan lokasi usaha yang dekat dengan sekolah dan perumahan. Luas minimal 400 meter persegi.

Untuk bergabung dengan Sinotif tidak harus memiliki pengalaman mengajar. “Yang terpenting Anda harus memiliki latar belakang bisnis,” kata Jenny. Sebab sebagai terwaralaba, tugas Anda hanya fokus pada pengembangan bisnis. Urusan mengajar diserahkan kepada guru. Anda juga tak perlu repot mencari guru, sebab Sinotif yang akan merekrut dan menguji para pengajar tersebut.

Dalam sebulan, pengeluaran usaha ini antara lain meliputi management fee Rp 4,5 juta, biaya manajemen variabel 10% dari omzet, listrik, air, dan telepon sekitar 4 juta, gaji 10 pegawai Rp 30 juta, biaya perawatan bimbel Rp 5 juta, pajak reklame sekitar Rp 1,5 juta, sewa lokasi usaha Rp 21 juta per bulan, dan biaya promosi Rp 10 juta. Selain melalui brosur, Sinotif juga rutin mengadakan pameran di pusat perbelanjaan. Karena menjangkau kalangan atas, lokasi pusat perbelanjaan sangat tepat untuk berpromosi.

Dengan jumlah 30 siswa dengan biaya Rp 6 juta maka omzet per bulan bisa mencapai Rp 180 juta. Dengan total pengeluaran Rp 94 juta per bulan, maka keuntungan yang Anda dapat Rp 86 juta per bulan.



Bimbel mandiri

Bila Anda ingin membuka usaha bimbel secara mandiri, modal yang disiapkan jauh lebih kecil. Indra bilang modal yang disiapkan cukup Rp 20 juta. Dana itu digunakan untuk membeli perlengkapan dan peralatan bimbel serta promosi awal untuk merekrut siswa.

Untuk menjalankan usaha ini Anda harus memiliki latar belakang mengajar. Dengan cara itu, Anda bisa mengetahui pelajaran mana yang dibutuhkan oleh siswa. Untuk itu, sebelum menjalankan usaha ini sebaiknya Anda mencari pengalaman di bimbel lain. Dengan pengalaman tersebut, selain memperdalam ilmu mengajar juga belajar manajemen usaha ini.

Anda bisa merekrut para mahasiswa semester akhir jurusan eksakta sebagai tenaga pengajar. Selain sudah menguasai ilmu eksakta, tarifnya lebih murah, mulai Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per pertemuan. Anda tinggal mendampingi mereka. Dengan pengalaman Anda bekerja di bimbel lain, maka tidak akan sulit untuk mencari tenaga pengajar.

Karena skala usaha masih kecil, tenaga pengajar yang dibutuhkan hanya tiga orang. Sebagai langkah awal, lokasi usaha cukup berukuran 50 m². “Bila usaha berjalan, baru memperluas lokasi,” kata Indra.

Bimbel mandiri biasanya mematok harga yang lebih murah. Sebagai gambaran, Indra mematok biaya Rp 800.000 per bulan untuk delapan kali pertemuan. Dengan jumlah 30 siswa, omzet yang didapat bisa mencapai Rp 24 juta. Supaya tidak membebani peserta bimbel, biaya dibayarkan setiap pertemuan. “Untuk pengeluaran per bulan biasanya cuma Rp 10 juta,” kata Indra. Pengeluaran bulanan meliputi biaya listrik, penggandaan modul, spidol, pulsa karyawan, biaya keamanan, gaji karyawan, sewa lokasi usaha, dan promosi.

Promosi cukup melalui brosur dan jejaring sosial. “Sebab, pengajar sangat dekat dengan dunia internet,” ujar Indra.

Dalam menjalankan usaha ini, Anda harus pasang target. Dalam setahun paling tidak harus bisa menambah luas lokasi usaha. Bila dalam setahun tidak ada perkembangan usaha, sebaiknya lakukan evaluasi untuk melanjutkan usaha atau berhenti.
Selasa, 15 Mei 2012

Usaha bimbel masih menggiurkan

Berdasarkan wawancara KONTAN dengan beberapa pengelola bisnis bimbel, prospek bisnis di dunia pendidikan sepertinya masih cerah. Namun, bisnis ini harus disertai dengan kreativitas dan kualitas pengelolaannya.

KONTAN mengulas tiga bimbel yang bergerak di bisnis ini. Dari tiga pemain tersebut, dua bimbel mengalami pertumbuhan mitra dan kemajuan usaha. Namun satu stagnan, alias tidak mengalami kemajuan. Berikut beberapa ulasannya.

Bimbel GalanUI

Waralaba Bimbel GalanUI sudah berdiri sejak Agustus 2008. Kemudian baru pada Juni 2010, GalanUI mulai membuka tawaran kemitraan Bimbel GalanUI.

Berdasarkan catatan KONTAN, sampai Januari 2011, GalanUI telah memiliki empat mitra. Setelah setahun lebih berselang, GalanUI mengalami perkembangan.

Menurut pendiri GalanUI, Ikhsan Muttaqin, saat ini bimbel yang dikelolanya ini sudah memiliki sembilan mitra yang tersebar di daerah Pasar Rebo, Pekayon, Cibubur, Matraman, dan Depok. Sementara pada bulan Juni mendatang,

GalanUI akan memiliki sebanyak 12 mitra. "Kami targetkan tahun ini mitra bisa bertambah sebanyak tiga hingga empat mitra," jelasnya.

Karena mengalami kemajuan dan minat dari masyarakat, saat ini GalanUI juga meningkatkan biaya bimbel. Jika sebelumnya, GalanUI mematok biaya kursus sebesar Rp 135.000 per siswa dalam sebulan, maka saat ini meningkat menjadi Rp 150.000 per bulan untuk siswa SD, dan Rp 160.000 per bulan untuk siswa SMP. Untuk menarik perhatian siswa, GalanUI membatasi jumlah siswa maksimal 10 orang per kelas.

GalanUI juga menaikkan biaya investasi awal. Jika sebelumnya sebesar Rp 25 juta, saat ini menjadi Rp 40 juta. Adapun untuk royalty fee, GalanUI memberikan kelonggaran selama enam bulan pertama mitra tidak usah membayar royalti. Namun pada bulan ketujuh harus membayar biaya royalti sebesar 10% dari omzet per bulan.

Ikhsan optimistis bisnis bimbel miliknya terus mengalami kemajuan. Soalnya, GalanUI ketat dalam mencari calon pengajar, tujuannya supaya kualitas pelajaran tetap terjaga.

Guna meningkatkan jumlah mitra dan lebih dikenal masyarakat, GalanUI rajin mengikuti pameran. Ikhsan bilang, tiap tahun pihaknya selalu mengikuti pameran dari Wirausaha Muda Mandiri. "Selain itu, kami juga aktif di komunitas-komunitas," ujarnya.

Bimbel Salemba

Bimbel Salemba berdiri sejak tahun 2003. Bimbel yang berbasis di Bintaro, Tangerang Selatan itu, telah memiliki 40 mitra. Mitra Bimbel Salemba tersebar di daerah Jabodetabek, Padang, Medan, Lampung hingga Semarang.

Jumlah mitra Bimbel Salemba ini lumayan meningkat pesat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebagai perbandingan, saat diulas KONTAN pada 2010, Bimbel Salemba baru memiliki sekitar 10 mitra. Salah satu daya tarik bimbel ini ialah karena membidik segmen khusus yakni pelajar SMA atau yang ingin sukses mengikuti seleksi masuk Universitas Indonesia. "Tapi, kami tetap menyediakan paket bimbel tingkat SD dan SMP. Hanya saja, kami mengutamakan untuk yang SMA atau baru lulus SMA untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi," ujar Kaeran, Manager Pengembangan dan Bisnis Bimbel Salemba.

Secara umum jumlah siswa di tiap cabang Bimbel Salemba berkisar antara 50 orang hingga 150 orang, dengan tarif paket bimbel antara Rp 4 juta hingga Rp 7 juta per siswa. Alhasil omzet setiap tahun ajarannya bisa mencapai Rp 200 juta - Rp 600 juta.

Adapun laba bersih bisa mencapai 35% dari total omzet. Dengan demikian setiap mitra diperkirakan bisa balik modal antara 1 - 2 tahun.

Adapun paket investasi yang ditawarkan Bimbel Salemba semakin mahal. Bila dulu investasi untuk biaya lisensi yang dikutip sekitar Rp 25 juta, kini ada dua paket investasi yang tawarkan. Pertama, individual lisensi senilai Rp 33 juta. Kedua, master lisensi seharga Rp 60 juta. Keduanya untuk kerja sama selama lima tahun.

Kedua paket ini mendapatkan layanan yang sama, mulai dari pelatihan sumber daya manusia dan promosi. Namun, untuk individual lisensi hanya membolehkan investor membuka satu gerai saja. Sedangkan master lisensi memungkinkan investor membuka sejumlah gerai termasuk bekerja sama dengan pihak ketiga untuk membuka gerai lain di satu kota.

Kaeran menambahkan, prospek bisnisnya ini masih terbilang bagus dan tetap diminati sejumlah investor. Namun, investor memang perlu menyiapkan lokasi yang sangat strategis, terutama yang dekat dengan sekolah sekaligus perumahan. "Sekitar minggu kemarin ya baru pembukaan mitra yang di Aceh dan Bali," tandasnya.

Tiara Bimbel

Kalau Bimbel Salemba dan GalanUI yang berbasis di Jakarta bisa tumbuh pesat, Tiara Bimbel, asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, tidak demikian. Tiara Bimbel justru tidak bisa berkembang.

KONTAN pernah mengulas bisnis ini pada April 2011 silam. Pada saat itu, bimbel yang didirikan pada tahun 2004 ini memiliki tujuh cabang, dua di antaranya milik mitra dan lima yang lain merupakan milik sendiri.

Setelah setahun berselang, bisnis Tiara Bimbel tidak mengalami kemajuan. Bimbel yang mulai menawarkan kemitraan pada tahun 2010 ini tidak kunjung bertambah mitranya. Pemilik Tiara Bimbel, Rusydi mengatakan, bimbel miliknya tersebut memang tidak mengalami perkembangan signifikan sejak 2011. "Jadi kami sekarang sedang konsolidasi internal," jelasnya.

Ia bilang, sebagian besar calon mitra tidak begitu berminat dengan tawaran kemitraan dari Tiara Bimbel. Padahal sebelumnya sudah ada calon mitra dari Batam dan Jakarta, namun, karena tidak cocok tempat, akhirnya mereka mengurungkan niat mereka untuk bermitra.

Tiara Bimbel fokus pada bimbingan anak TK dan SD. Tiara Bimbel memberikan materi pelajaran seperti baca tulis, berhitung, sempoa, IPA, IPS, matematika, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tiara Bimbel memungut biaya pendaftaran dari siswa sebesar Rp 300.000 dan biaya kursus Rp 300.000 sampai Rp 400.000 per siswa, untuk delapan kali pertemuan dalam sebulan.

Tiara Bimbel menawarkan tiga paket waralaba. Paket A dengan investasi Rp 25 juta dan biaya royalti 8,9% dari omzet per bulan. Paket B bernilai investasi Rp 22,5 juta dengan biaya royalti 19,8%. Paket C Rp 20 juta dengan biaya royalti 40% sebulan.

Dengan investasi awal hanya Rp 25 juta, terwaralaba mendapatkan perlengkapan senilai Rp 7 juta, renovasi Rp 5 juta, dan biaya survei untuk wilayah Jakarta Rp 3 juta. Di luar itu, terwaralaba harus membeli modul, lembar kerja anak, baju, dan tas.

Tiara Bimbel meminta para terwaralaba memilih lokasi di pinggir jalan yang mudah dijangkau. Tempat tersebut bisa berbentuk rumah atau ruko dengan ukuran 70 meter persegi. Lokasi Bimbel pun sebaiknya memiliki halaman luas sebagai tempat parkir serta arena bermain.

Nah, apakah Anda masih tertarik menjajal bisnis bimbingan belajar?
Rumput Liar bimbel, PELUANG USAHA, Usaha