Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label Pengusaha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengusaha. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Desember 2012

Kisah Bekas Kenek Jadi Pengusaha Sukses di London

Suara Pance Pondaag menyanyikan Demi Kau dan Si Buah Hati menemani Firdaus Ahmad menyetir Mercedes 120 CDI di jalanan London yang padat pada suatu siang akhir Februari lalu. Mobil jembar yang sanggup mengangkut sepuluh orang itu adalah kendaraan “dinas” laki-laki 54 tahun ini dari rumah ke restorannya.


Nusa Dua Restaurant berdiri di sudut Dean Street 11, Soho, di jantung ibu kota Inggris itu. Bangunan tiga lantai ini satu-satunya restoran Indonesia di kawasan belanja dan tempat nongkrong anak-anak muda itu. “Sejak Presiden Barack Obama datang ke Indonesia, menu favorit di sini nasi goreng,” kata Daus.


Selain itu, ada banyak makanan khas Indonesia di daftar menu: ayam kremes, sayur asem, sambal terasi, tahu isi, soto ayam, tempe, dan kerupuk udang. Saya makan di sana ketika restoran masih tutup menjelang sore. Tapi, di depan pintu, pelanggan dari pelbagai ras yang akan makan malam sudah antre mengular.


Resto ini adalah buah kerja keras Daus selama 20 tahun. Ia tiba di London pada akhir 1981 dengan tiket pesawat yang dikirim saudaranya, sopir di Kedutaan Besar Indonesia di London. Daus nekat berangkat ke Inggris karena penghasilan sebagai kondektur angkutan kota Kampung Melayu-Bekasi tak menentu.


Mendarat di Bandar Udara Heathrow yang sibuk, lulusan SMA 1 Indramayu ini termangu dua jam. Ia tak tahu jalan keluar. Ia amati setiap penumpang. Asumsinya, orang yang kusut pasti baru mendarat setelah penerbangan yang jauh. Ia ikuti mereka menyeret koper. “Saat itu saya baru tahu arti ”exit” itu keluar,” katanya, terbahak. Daus lalu bekerja di restoran Indonesia sebagai pencuci piring. Tapi resto ini tak berumur lama. Pemiliknya ketahuan mengakali pajak. Pemerintah mengambil alih dan menjualnya. Pembelinya adalah tukang masak asal Malaysia. Resto itu kini jadi rumah makan Asia yang tukang masaknya adalah pemilik lama, bekas majikan Daus.


Seorang pengusaha Singapura kemudian mendirikan Nusa Dua Restaurant. Daus diajak bergabung dan naik pangkat jadi chef. Tapi perkongsian ini hanya bertahan tiga tahun. Pengusaha itu tak sanggup membayar cicilan modal. Royal Bank of Scotland (RBS) menyitanya. Daus kelimpungan tak punya pekerjaan.


Pada 1991 ia sudah menikahi Usya Suharjono, perempuan manis yang tengah kuliah kesekretariatan di London. Ayah Usya adalah wartawan radio BBC seksi Indonesia. Ia mengikuti orang tuanya ke London setelah lulus SMA 2 Jakarta Pusat pada 1983. Daus punya ide mengambil alih Nusa Dua.


Usya maju sebagai negosiator dengan bank karena ia fasih berbahasa Inggris. Daus hingga kini masih gagap. Kepada tiga anaknya, ia berbicara dalam bahasa Indonesia, tapi dijawab dalam bahasa Inggris. Usya membujuk bahwa resto itu merugikan RBS karena tak mendatangkan untung, sementara pajak tetap harus dibayar. Daus meyakinkan mereka akan mengelola rumah makan dengan jaminan membayar cicilan 1.000 pound tiap bulan tepat waktu. ”Jika tahun pertama pembayaran tak jelas, bank silakan ambil alih lagi,” katanya. Deal. RBS ternyata setuju.


Sejak itu, Daus yang pegang kendali. Ia belanja, ia memasak, ia pula yang melayani pembeli. Karena makanan racikannya enak, pelanggan lama kembali, dan pembeli baru berdatangan. Restorannya mulai untung dengan omzet 10 ribu pon (Rp 140 juta) setiap pekan. Dalam waktu enam tahun, utang 100 ribu pound lunas. Tabungannya mulai kembung. Daus membeli sebuah rumah seluas 300 meter persegi seharga Rp 5,2 miliar di sudut jalan dekat sekolah anaknya. Rumah sembilan kamar itu kini disewakan kepada pelancong asal Indonesia dengan tarif 19,5 pound semalam. Meski tak ada papan nama, orang tahu rumah bata merah di sudut jalan kompleks elite Colindale itu ”Wisma Indonesia”.


Daus-Usya tinggal tak jauh dari situ. Tiga mobil nangkring di garasi. Semuanya Mercedes yang harga satu unitnya rata-rata Rp 1,4 miliar. Daus kerap bolak-balik London-Bekasi untuk menengok keluarga besarnya di Jatiasih.  Setelah semua pencapaian ini, Daus hanya punya satu cita-cita: pulang kampung setelah anak-anaknya mandiri dan membuat taman pendidikan agama untuk anak-anak miskin.


 


 


 


 


 


 


Sumber artikel: tempo.co dan redaksi


Sumber gambar: flabtasticfive.co.uk

Ini Jurus Bagi Pengusaha Agar Dipercaya oleh Bank

Alhamdulillah saya pernah berhasil mendapatkan pinjaman dari sebuah bank yangagunan dua buah ruko yang saya belipada tahun 2006 dan 2007, yang menarik adalah saat ini plafon kredit yang saya terima melebihi dari harga jual properti itu sendiri.


Apalagi salah satu ruko tersebut saya cicil dari hasil keuntungan bisnis saya sebelumnya.Setelah dijalanin, ternyata bisa juga ya, karena dulu saya masih belum sepenuhnya memahami apakah bisa bank memberikan pinjaman lebih besar dari nilai agunannya. Ada beberapa hal yang saya pelajari disini:


1. Pentingnya membayar cicilan on time (membangun kredibilitas). Kalau saya menggunakan sistem autodebet, sehingga memperkecil resiko lupa membayar bayarnya.


2. Pentingnya selalu menabung omset bisnis yang didapat. Walaupun omset tersebut langsung ditarik lagi untuk keperluan operasional atau belanja bahan baku. Karena bank bisa hanya berpatokan pada transaksi yang tercatat, bukan asumsi atau pun pernyataan.


3. Membangun relasi dengan banyak bank. Sehingga kita dengan bebas bisa melelang kepada mereka siapa yang bisa memberikan penawaran pinjaman tertinggi. Pada awalnya saya adalah nasabah dari bank yang lain, akan tetapi karena mereka tidak mau menaikkan plafonnya , langsung saya tawarkan ke bank yang saya gunakan sekarang dan mereka langsung setuju.


4. Bank sebenarnya lebih melihat perfoma bisnis kita, bukan dari nilai agunannya. Makanya banyak kejadian walaupun nilai agunannya miliaran, akan tetapi bankhanya bisa mengeluarkan dana jauh dibawahnya, karena sebenarnya bisnisnya belum perform di mata bank.


5. Bank lebih concern kepada cashflow, bukan hanya penjualan. Jadi jaga baik-baik masa piutang rata-rata sependek mungkin. Kalau bisa sih ngga ada piutang.


6. Untuk yang berbisnis di perdagangan, lebih baik mengambil sistem pinjaman PRK (pinjaman rekening koran) karena sistem perhitungan bunganya yang menggunakan sistem harian dan sesuai dengan plafon yang kita pergunakan pada saat itu


7. Pahami ilmu finansial, sehingga kita dapat me leverage aset-aset kita dengan maksimal sehingga mereka yang bekerja keras untuk kita.


8. Menjaga gaya hidup, karena masih darah muda, dulu sempet terpikir untuk modifikasimobil atau punya mobil mewah sekelas Alphard yang sekarang sekarang trend (saya hobinya otomotif) tapiuntungnya saya segera menikah, jadi ada yang ngerem.


Akhirnya mengalokasikan pendapatan ke hal-hal yang lebih produktif (Bener juga kalau menikah itu membuka pintu rejeki. Kalau sekarang targetnya adalah bagaimanacaranya agar bisa beli properti satu lagi murnidari hasil aset properti saya sebelumnya. Setelah itu, baru beli mobil murni dari hasil paper asset saya (beberapa bulan terakhir sih sempet nembus 10% perbulan, tapi bulan ini baru dapat 2%).


Penulis adalah Andi Sufariyanto yang merupakan finalis Program Wirausaha Muda Mandiri (WMM) 2008 mewakili wilayah Jawa Timur. Bisnis usahaya berupa produk perawat kulit dan tubuh (body and skin care) merek Pourvous.


Alumnus D3 Teknik Mesin Institute Teknologi 10 November Surabaya (ITS) ini juga menjabat sebagai Chief Operational Officer Adila Group.


 


 


 


 


 


Sumber : detik.com


Sumber gambar : blogspot.com

Bebaskan Pengusaha dalam Bayang-bayang Setan

Kesibukan bisnis, tidak seharusnya melalaikan Anda dari mengingat Allah. Jaga sholat, tunaikan zakat dan ibadah lainnya. Itu semuanya hanya dapat terwujud bila Anda sadar akan adanya kehidupan di akhirat, yang mana hanya ada dua pilihan: surga atau neraka.


Sebagai umat yang beriman kepada Allah Ta’ala dan Hari Akhir, kita pasti menyadari bahwa kita akan menjalani dua kehidupan: di dunia dan kelak di akhirat. Seindah dan seenak apa pun kehidupan kita di dunia, semuanya hanya sementara dan segera berlalu. Suratan takdir Ilahi tidak akan pernah membiarkan kita berhenti walau sejenak di dunia. Setiap detik, menit, jam dan hari yang kita lalui terus mendekatkan kita ke kehidupan akhirat yang kekal nan abadi.


“Setiap yang berjiwa akan mati. Dan sesungguhnya pada Hari Kiamat sajalah disempurnakan pahala. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (QS. Ali Imran: 185)


Demikianlah faktanya, kita benar-benar terperdaya oleh permainan hidup dunia, sehingga kita mengira bertambahnya umur berarti “panjang umur”.


Suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat satu ilustrasi sederhana tentang kehidupan dunia. Beliau bersabda, “Apalah artinya kekayaan dunia bagi diriku. Keberadaanku di dunia ini tak ubahnya bagaikan seorang musafir yang sedang singgah berteduh di bawah pohon yang rindang, tak lama lagi ia pasti segera meninggalkannya.” (HR. At-Tirmizy)


Pohon yang rindang di tengah hamparan padang pasir tentu tampak indah dan menyenangkan. Namun seindah apa pun tempat persinggahan tetap saja kita sebagai musafir tidak akan berlama-lama di bawahnya, guna meneruskan perjalanan hingga tiba di tempat tujuan.


Bebaskan Diri Anda dari Bayang-bayang Setan


Dengan menyadari bahwa kehidupan dunia yang tampak indah hanya sementara dan akan segera dilanjutkan dengan kehidupan akhirat, pastilah kita terdorong untuk mempersiapkan diri. Betapa tidak. Terperdaya dengan indahnya dunia yang fana berarti penyesalan di akhir masa. Demikianlah semangat yang berkobar dalam jiwa orang-orang yang beriman kepada Allah Azza wa Jalla dan Hari Akhir sejak dahulu.


“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qashash: 77)


Wajar bila dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menganjurkan kita untuk banyak mengingat kematian. Dengan mengingat kematian, kita semakin dekat dengan Allah dan setiap kita lupa akan kematian, kita semakin dekat dengan ambisi hidup dunia.


Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan, yaitu kematian. Tidaklah ada seorang pun yang mengingatnya sedangkan ia dalam kesusahan hidup, melainkan menjadikannya merasa lapang. Sebaliknya, tidaklah ada seorang pun yang mengingatnya, sedangkan ia dalam kondisi kelapangan hidup, melainkan menjadikannya merasakan sempitnya kehidupan dunia.” (HR. Ibnu Hibban dan Al-Baihaqy)


Dengan memahami hal itu, kita dapat memahami sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut: “Tempat yang paling Allah cintai ialah masjid, sedangkan yang paling Allah benci ialah pasar.” (HR. Muslim)


Imam An Nawawi menjelaskan, hikmah masjid sebagai tempat paling dicintai Allah karena masjid adalah tempat untuk menjalankan ketaatan kepada Allah, dan dibangun dalam rangka mewujudkan ketakwaan kepada-Nya. Sedangkan pasar, biasanya menjadi tempat praktek-praktek penipuan, riba, sumpah palsu, ingkar janji dan lalai dari mengingat Allah.


Berbagai praktek nakal dan jahat dalam perniagaan menjadi bagian dari rayuan setan kepada para pedagang, agar hanyut dalam hingar bingar kehidupan dunia dan lalai akan akhirat, sebagaimana Allah tegaskan ketika menceritakan pasukan iblis, yang artinya, “Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan ikut sertalah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh setan kepada mereka melainkan tipuan belaka.” (QS. Al-Isra’: 64)


Ibnu Jarir dan Ibnu Katsir menjelaskan, segala bentuk kemaksiatan kepada Allah dalam hal harta benda, baik ketika mencarinya atau membelanjakannya, itu adalah wujud dari andil setan dalam urusan harta benda kita. (Tafsir Ibnu Katsir, 3/64)


Berbagai kesibukan sebagai pedagang tidak seharusnya menjadikan Anda lalai dari mengingat Allah, dengan menegakkan sholat, menunaikan zakat dan lainnya. Itu semuanya dapat terwujud bila Anda sadar akan adanya kehidupan di akhirat yang ketika itu hanya ada dua pilihan: surga atau neraka.


Allah Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual-beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang. (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas.” (QS. An-Nur: 37-38)


Demikianlah, betapa pada ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa kesadaran akan akhirat dapat membentengi para pedagang dari bayang-bayang godaan setan. Dan sebagai indikator nyata akan kesadaran Anda tentang kehidupan akhirat ialah semangat Anda untuk menyedekahkan harta kekayaan Anda di jalan Allah.


Sahabat Qais bin Abu Gharzah mengisahkan, “Suatu hari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam mendatangi kami di pasar, lalu beliau bersabda, “Sejatinya pasar ini banyak dinodai oleh perbuatan sia-sia dan dusta, maka campurilah dengan banyak sedekah.” (HR. An-Nasa’i)


Semoga menggugah Anda untuk terus mengobarkan semangat iman Anda kepada Allah Azza wa Jalla dan Hari Akhir, sehingga hidup Anda senantiasa dalam naungan keberkahan ibadah kepada Allah Azza wa Jalla. Wallahu Ta’ala A’alam Bisshawab. (PM)


 


 


 


 


 


Sumber artikel: Majalah Pengusaha Muslim Edisi 32/2012 dan redaksi


Sumber gambar: dit.ie