Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label Pelanggan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pelanggan. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Desember 2012

Menggunakan Twitter Untuk Menjaring Calon Pelanggan

Memanfaatkan dunia maya sebagai media promosi online memang tidak membutuhkan banyak biaya. Kemudahan inilah yang mulai dimanfaatkan para pelaku usaha untuk mendongkrak omzet penjualan produk dan memperkenalkan brand bisnis yang sedang mereka kembangkan. Sebagai contoh bisa kita lihatkesuksesan Steak Hotel by Holycow! dan keripik pedas Maicih yang belakangan ini namanya melambung di pasaran karena keaktifan mereka berpromosi di sosial media khususnya twitter.


Sebagai seorang pemula, tentunya Anda penasaran untuk mengetahui kiat apa saja yang dilakukan owner Steak Hotel by Holycow! dan keripik pedas Maicih dalam mempromosikan brand bisnisnya di situs pertemanan seperti twitter. Karena itu, untuk memperluas wawasan kita dalam memanfaatkan sosial media, mari kita simak bersama pengalaman dua pengusaha sukses ini ketika mereka menggunakan twitter untuk menjaring calon pelanggan.


Steak Hotel by Holycow!


Meskipun Steak Hotel by Holycow! hadir dengan aneka menu steak hotel bintang lima dengan harga yang relatif sangat terjangkau, namun awalnya belum banyak konsumen yang mengetahui keberadaan bisnis tersebut. Sampai akhirnya sang owner berinisiatif untuk memasarkan bisnis steak holycow melalui sebuah akun di jejaring social buatan Jack Dorsey (twitter). Dari sanalah nama Steak Hotel by Holycow! mulai dikenal banyak konsumen dan hampir sekitar 95% pelanggannya mengetahui steak Holycow dari percakapan di akun twitter.


Menggunakan akun @holycowsteak di twitter, sang owner mengajak masyarakat umum untuk saling berinteraksi dan berkomunikasi langsung dengan pihak Holycow. Cara ini ternyata cukup ampuh, banyak konsumen yang berkunjung ke kedai Holycow berkat informasi yang mereka peroleh dari twitter. Dan untuk mengoptimalkan pemasaran online yang dijalankan, pihak Holycow memberikan satu porsi tiramisu gratis bagi setiap pelanggan yang menyebut (mention) @holycowsteak pada tweet yang mereka buat. Terbukti, strategi ini sangat efektif sehingga banyak konsumen yang dengan suka rela mempromosikan Steak Holycow baik melalui twitter maupun pemasaran word of mouth (dari mulut ke mulut).


Keripik Pedas Maicih 


Tak kalah heboh dengan pemasaran @holycowsteak, keripik pedas Maicih juga sukses memanfaatkan twitter marketing untuk menjaring banyak pelanggan. Menawarkan kripik singkong dengan cita rasa yang super pedas, camilan Bandung ini sengaja dipasarkan dengan cara yang unik, yakni berpindah-pindah (istilah kerennya gentayangan) dan hanya bisa dilacak calon konsumen melalui akun twitter @maicih.


Strategi promosi tersebut cukup menarik minat konsumen, sehingga tidak heran bila banyak konsumen yang mulai penasaran hingga rela antri sepanjang satu kilometer hanya untuk mendapatkan keripik pedas maicih yang jumlah pembeliannya pun pada saat awal peluncuran masih sangat dibatasi. Uniknya strategi pemasaran yang dipilih Maicih, membuat produk tersebut banyak diperbincangkan khalayak ramai di dunia maya, khususnya melalui akun twitter.


 


 


 


Sumber artikel: bisnisukm.com dan redaksi


Sumber gambar: business2community.com

Sukses Bisnis Restoran karena Pelanggan Happy

Membangun dan mengelola bisnis restoran membutuhkan perhatian penuh dari pemiliknya. Kecintaan terhadap pekerjaan menjadi pendorongnya. Kalau Anda berminat atau berencana membangun bisnis restoran, pastikan Anda memiliki passion dan mau terlibat langsung di dalamnya. Di samping itu, agar sukses berbisnis restoran, miliki juga strategi tepat dalam menjalankan usaha kuliner.


Kesuksesan Pitaya Phanphensophon, CEO Grup COCA (perusahaan kuliner asal Bangkok, Thailand), dalam mengembangkan restoran yang menyediakan hidangan Thailand modern, Mango Tree Bistro, di 60 negara, dapat menjadi salah satu inspirasinya. 

Pitaya mewarisi bisnis restoran keluarga yang terlah berdiri sejak 55 tahun silam. Pria yang suka memasak namun tak ingin disebut sebagai Chef ini merupakan generasi kedua restoran Mango Tree Bistro. Pitaya sendiri telah mengelola restoran sejak 23 tahun silam.

Rahasia sukses Pitaya adalah fokus membuat pelanggan happy sejak pertama kali datang ke restoran, saat menikmati suasana dan hidangan di dalamnya, hingga mereka pulang dengan hati senang.

”Anggap saja seperti mengundang teman makan di rumah, apa yang Anda harapkan dan akan dilakukan saat mengundang teman? Anda tentu ingin membuat mereka senang. Begitupun dengan restoran, buat pelanggan senang, mulai sejak mereka masuk restoran,” jelas Pitaya di sela pembukaan Mango Tree Bistro di Epicentrum Walk Kuningan, Jakarta, Jumat (3/11/2012).


Membuat pelanggan datang dan pulang dengan hati senang menjadi perhatian utama Pitaya dalam menjalankan bisnis restorannya. Untuk memastikan pelanggan puas dan senang, ia mengaku harus tegas membuat dan menjalankan aturan. 

Bapak empat anak yang mengaku mendapatkan pleasure dari memasak ini juga melatih dan mengontrol staf-stafnya dengan tegas, demi memastikan pelanggan senang.

”Pelanggan yang tidak happy tidak bisa ditoleransi. Kalau staf saya tidak bisa membuat pelanggan happy, lebih baik cari pekerjaan lain.


Harus ada peraturan dan batas yang jelas, yang tidak bisa dilanggar, agar staf bisa memahami tugas dan pekerjaannya,” jelasnya tegas.

Pitaya menegaskan pentingnya aturan main dalam mengelola sumber daya manusia dalam bisnis restoran. Ia memahami, setiap karyawannya akan datang ke kantor dengan masalah personal masing-masing. Namun baginya, begitu mulai bekerja, semua staf di restoran harus mampu membuat pelanggan senang, dengan pelayanan dan hidangan yang disajikan. Menurutnya, aturan yang jelas dalam bisnis restoran inilah yang menjadi kunci suksesnya mengelola karyawan dan mendapatkan pelanggan yang happy.

Selain manajemen yang baik, bisnis restoran bergantung pada kualitas makanan dan minuman.


Bagi Pitaya, penting untuk menghidangkan makanan dan minuman dengan tujuan.

”Apa pun yang disiapkan harus ada alasan di baliknya. Mengapa Anda menyajikan makanan tersebut, apa yang ingin disampikan oleh chef melalui masakannya. Saya punya tim untuk mengembangkan restoran, namun saya juga menganalisa setiap makanan yang disajikan,” jelas Pitaya.

Menurutnya, untuk menjalankan bisnis restoran atau bistro dengan minimal 50 staf, si pemilik bukan hanya perlu terlibat langsung namun mau bekerja kerasa dengan penuh kecintaan terhadap profesi.

”Saya bekerja 10 jam per hari. Setiap bangun tidur, sebelum mulai bekerja saya olahraga, untuk menjaga fisik dan agar tidak gemuk. Pekerjaan di bisnis restoran sangat banyak dan kita harus mencintai pekerjaan itu,” tuturnya.


Pitaya mengelola bisnis restoran melanjutkan usaha keluarga sepeninggal ayahnya, 30 tahun silam. Ia pun menerima tanggung jawab penuh yang diberikan kepadanya sepenuh hati. Pasalnya, pria yang menggemari fotografi ini telah akrab dengan bisnis restoran karena telah menjadi bagian darinya sejak belia.

”Saya memiliki restoran ini karena tradisi dalam keluarga China yang mewarisi bisnis kepada anaknya. Waktu kecil, saya bangun pagi untuk berangkat ke sekolah dan bapak saya pergi ke pasar. Saya tinggal di restoran,” ungkap pria 54 tahun yang berlatar belakang pendidikan ekonomi, lulusan sebuah universitas di Kanada.

Sukses melanjutkan bisnis restoran keluarga, Pitaya berencana pensiun tiga tahun ke depan. Tapi pensiun bagi Pitaya bukan berarti berhenti beraktivitas.


Ia ingin fokus menjadi konsultan, mengajar, menjalankan hobinya di bidang fotografi, menulis buku melanjutkan buku pertamanya.

Fokus berbisnis restoran telah menguras waktunya. Masa pensiun inilah yang akan dimanfaatkannya untuk menjalankan hobi juga traveling. “Saat berbisnis restoran tak ada waktu untuk hobi dan travel. Saya suka fotografi, menjadi fotografer amatir yang serius,” ungkapnya.

Meski memiliki bisnis restoran, dari empat anaknya tak ada satu pun yang diarahkannya untuk menjadi Chef. “Namun ada anak perempuan saya seorang nutrisionist,” ujarnya.  Seperti yang dilakukan orangtuanya,


Pitaya juga menyekolahkan anak-anaknya dengan pendidikan terbaik, di luar negeri. 

Meski tak memiliki latar belakang pendidikan yang terkait dengan kuliner, kebiasaan memasak dan makan bersama di rumah menjadi bekal utama Pitaya dan keluarganya dalam memahami bisnis kuliner. 

”Kami belajar memasak dari meja makan. Saya dan anak perempuan saya seringkali menganalisa makanan di meja makan. Meja makan bisa membangun bonding dalam keluarga, mengajarkan cara berkomunikasi yang baik saat harus mengomentari masakan istri saya misalnya. Di meja makan kita juga bisa belajar mengenai makanan,” jelasnya.


Dari meja makan inilah, Pitaya belajar memberikan hidangan terbaik bagi pelanggannya. Memastikan pelanggan restorannya mendapatkan suasana makan seperti di rumah, akrab, menyenangkan, sambil menyantap hidangan yang dinikmati bersama orang-orang terdekat. 

Suasana hangat dan momen bahagia ala rumahan inilah yang dibawa Pitaya dalam restorannya dan menjadikannya sukses menggaet pelanggan di kota besar di Bangkok, London, Dubai, Tokyo, dan Jakarta.


 


 


 


 


 


Sumber : kompas.com


Sumber gambar : tripadvisor.com

Senin, 16 Juli 2012

Jurus Menghadapi Keluhan Pelanggan di Twitter

TWEETERTwitter saat ini sudah kian diandalkan oleh perusahaan untuk lebih dekat dengan para pelanggan. Hanya saja, terkadang keberadaan akun produk atau perusahaan di Twitter malah dijadikan kambing hitam, memang tentu masih ada keluhan dari pelanggan yang memang rasional sehingga perlu penanganan segera.

Namun ada kalanya, pengelola akun perusahaan harus hati-hati dalam memilah mana keluhan yang harus ditanggapi atau cuma kerjaan orang iseng.

Berikut sejumlah kiat dari pengamat media sosial Jim Ducharme yang dilansir dari Social Marketing Forum:

1. Sebelum Anda merespons keluhan yang masuk, cobalah untuk mengecek profil akun Twitter tersebut. Sehingga Anda tahu sedang berhadapan dengan siapa. Pengecekan termasuk dilakukan kepada kicauan-kicauan sosok tersebut yang terdahulu.

Dari investigasi kecil-kecilan yang telah dilakukan setidaknya Anda diajak untuk menyelami pola pikir dan kelakuan dari orang tersebut. Hal ini penting sebelum memberi respons lebih lanjut. Jika orangnya bermasalah, siapa tahu ada agenda setting di balik serbuan tweet negatif yang dilancarkannya.

2. Jangan membuat permasalahan yang ada pada produk atau perusahaan, dibawa sampai ke urusan personal. Cobalah untuk menghadapi keluhan-keluhan yang masuk dengan kepala dingin

3. Jika Anda tidak yakin 100% dengan respons yang bakal dikirimkan, sebaiknya minta pendapat dari orang lain sebelum Anda menekan tombol ‘send’. Ingat, think before posting!

4. Baca ulang respons yang akan dikirimkan untuk memastikan typo (salah ketik) sekaligus memastikan apa yang ingin dikirimkan. Hal ini sekaligus akan mencerminkan seberapa profesional Anda.

5. Luluhkan mereka yang bersuara nyinyir dengan kebaikan dan empati. Bagaimanapun menyebalkannya, pelanggan yang berkeluh kesah tetap saja pelanggan. Hadapi mereka dengan cara-cara yang baik, siapa tahu mereka bisa luluh karenanya.

6. Gunakan cara yang lebih personal untuk mengayomi pelanggan dalam menyelesaikan masalah mereka. Bisa menggunakan email personal atau menghubunginya secara langsung.

7. Buktikan dengan perbuatan. Ketika melakukan kontak dengan pelanggan, tentu saja harus disertai dengan aksi nyata untuk penyelesaiannya. Sebab jika masalah ini berlarut-larut maka bukan tidak mungkin hal ini hanya akan memancing kicauan keluhan lainnya.

8. “Ingat 4 kata saktinya: ‘Apa yang bisa dibantu?’” tandas Ducharme.

Jurus Menghadapi Keluhan Pelanggan di Twitter

TWEETERTwitter saat ini sudah kian diandalkan oleh perusahaan untuk lebih dekat dengan para pelanggan. Hanya saja, terkadang keberadaan akun produk atau perusahaan di Twitter malah dijadikan kambing hitam, memang tentu masih ada keluhan dari pelanggan yang memang rasional sehingga perlu penanganan segera.

Namun ada kalanya, pengelola akun perusahaan harus hati-hati dalam memilah mana keluhan yang harus ditanggapi atau cuma kerjaan orang iseng.

Berikut sejumlah kiat dari pengamat media sosial Jim Ducharme yang dilansir dari Social Marketing Forum:

1. Sebelum Anda merespons keluhan yang masuk, cobalah untuk mengecek profil akun Twitter tersebut. Sehingga Anda tahu sedang berhadapan dengan siapa. Pengecekan termasuk dilakukan kepada kicauan-kicauan sosok tersebut yang terdahulu.

Dari investigasi kecil-kecilan yang telah dilakukan setidaknya Anda diajak untuk menyelami pola pikir dan kelakuan dari orang tersebut. Hal ini penting sebelum memberi respons lebih lanjut. Jika orangnya bermasalah, siapa tahu ada agenda setting di balik serbuan tweet negatif yang dilancarkannya.

2. Jangan membuat permasalahan yang ada pada produk atau perusahaan, dibawa sampai ke urusan personal. Cobalah untuk menghadapi keluhan-keluhan yang masuk dengan kepala dingin

3. Jika Anda tidak yakin 100% dengan respons yang bakal dikirimkan, sebaiknya minta pendapat dari orang lain sebelum Anda menekan tombol ‘send’. Ingat, think before posting!

4. Baca ulang respons yang akan dikirimkan untuk memastikan typo (salah ketik) sekaligus memastikan apa yang ingin dikirimkan. Hal ini sekaligus akan mencerminkan seberapa profesional Anda.

5. Luluhkan mereka yang bersuara nyinyir dengan kebaikan dan empati. Bagaimanapun menyebalkannya, pelanggan yang berkeluh kesah tetap saja pelanggan. Hadapi mereka dengan cara-cara yang baik, siapa tahu mereka bisa luluh karenanya.

6. Gunakan cara yang lebih personal untuk mengayomi pelanggan dalam menyelesaikan masalah mereka. Bisa menggunakan email personal atau menghubunginya secara langsung.

7. Buktikan dengan perbuatan. Ketika melakukan kontak dengan pelanggan, tentu saja harus disertai dengan aksi nyata untuk penyelesaiannya. Sebab jika masalah ini berlarut-larut maka bukan tidak mungkin hal ini hanya akan memancing kicauan keluhan lainnya.

8. “Ingat 4 kata saktinya: ‘Apa yang bisa dibantu?’” tandas Ducharme.