Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label Pasar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pasar. Tampilkan semua postingan
Kamis, 20 Desember 2012

Efrin Kreasi, dari Bambu Lokal Tembus Pasar Ekspor

Efrin KreasiBerawal dari kesukaannya terhadap berbagai benda seni, Saepulloh rajin menyambangi berbagai pameran kerajinan. Hingga akhirnya, 10 tahun lalu, dia memberanikan diri menghasilkan karya sendiri dari bahan baku yang banyak ditemui di Jawa Barat, bambu.


Pohon bambu memang sangat bermanfaat, berbagai produk kebutuhan sehari-hari dibuat dengan bahan baku ini, mulai dari dinding rumah, tempat tidur, hingga berbagai barang kerajinan.


Di Jawa Barat, bambu juga dikenal dengan produk budaya berupa alat musik, Angklung. Di tangan Saepulloh, bahan baku ini diolah menjadi produk kerajinan bernilai tinggi dan berhasil dipasarkan hingga ke luar negeri.


Tidak mau menjadi pengikut pasar dan tergerus ketatnya kompetisi melawan produk kerajinan bambu dari China yang di jual murah di dalam maupun luar negeri, dia berusaha memberikan kualitas terbaik, mulai dari desain, tingkat kerumitan, hingga daya tahan.


Efrin Kreasi memilih bambu ukuran kecil dari daerah Subang sebagai bahan baku utama yang kadar airnya lebih sedikit sehingga bambu cepat kering. Dirinya juga menambah zat kimia tertentu untuk mempertahankan kualitas bambu.


“Ada juga konsumen tidak ingin diberi pelapis. Kami pastikan setiap bambu yang digunakan benar-benar kering agar tahan lama. Jangan sampai ada keluhan, apalagi sudah jauh-jauh ekspor,” ujarnya.


Berbagai produk dari bambu diproduksi, mulai dari pensil, pulpen, lampu meja, hingga barang kenangan suatu daerah atau negara, seperti Perahu Pinisi dari Indonesia, Twin Tower Petronas Malaysia, hingga Burj Al Arab di Dubai.


Pesanan miniatur dari bambu bertema bangunan yang menjadi simbol suatu daerah diperolehnya langsung berkat kegigihannya rajin mengikuti berbagai pameran sejak memulai usaha ini pada 2002.


“Saya ikut pameran sendiri, bersama istri memasarakan produk kami. Ada yang bertanya apakah bisa membuat miniatur bangunan. Saya coba dan kembangkan, tidak mau menjiplak begitu saja, kemasan pun dipikirkan dengan cermat dan desain sendiri,” ujarnya, baru-baru ini.


Pembeli biasanya meminta contoh miniatur buatannya. Diperlukan kreativitas untuk membuat bangunan tersebut terlihat unik tanpa meninggalkan konsep yang ingin ditonjolkan.


Pameran menjadi caranya berjualan, promosi, sekaligus menggaet pembeli potensial. Namun, tidak semuanya menyenangkan. Kegiatan tersebut juga berpotensi merugikan, banyak orang memantau dan menjiplak desain yang dibuatnya dengan susah payah.


Jaga Merek


Berbicara mengenai penjiplakan oleh produsen lain, pria yang menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas ini sudah mematenkan merek yang dibuatnya. Dia juga mengenali setiap karya yang pernah diproduksi.


Kreativitas dan fokus pada setiap detail pengerjaan yang dituangkannya pada setiap jenis produk membawa para pembeli melakukan pemesanan berulang. Saat ini Saepulloh rutin mengirimkan barang pesanan pembeli dari Malaysia sebulan sekali, dari Singapura dua bulan sekali, dan dari Dubai setahun empat kali.


Harga produknya pun terjangkau, sebuah Kapal Pinisi dijualnya mulai dari Rp 35.000 per buah, sementara miniatur Twin Tower mulai dari Rp 75.000 per buah, dan Burj Al Arab Rp 150.000 per buah.


Pesanan spesial dalam jumlah besar pun sering datang. Hal tersebut kadang menjadi kendala, khususnya masalah permodalan. Pria yang akrab dipanggil kang Ipul ini memilih pembiayaan ULaMM (Unit Layanan Modal Mikro) dari Permodalan Nasional Madani.


Perkenalannya dengan ULaMM dimulai pada 2009, bergabung di 2010, hingga kini. Kang Ipul beberapa kali mengambil dana dari ULaMM yang digunakannya sebagai modal kerja.


“Pertama kali mengajukan tetapi belum berhasil karena kendala administrasi, tetapi rekan di ULaMM sangat membantu sehingga akhirnya pengajuan yang kedua kali berhasil,” ujarnya.


Produk keluaran PT PNM (persero) ini menjadi pilihan saat memerlukan modal produksi dalam jumlah cukup besar.


Meskipun banyak perusahaan pembiayaan lain menawarkan, hubungan dengan para personil ULaMM Lembang membuatnya merasa nyaman. Apalagi, proses pengajuan hingga pencairan sangat cepat, rata-rata tiga hari kerja.


Tidak hanya modal lebih saat pesanan besar datang, Kang Ipul pun mengerahkan ibu-ibu di sekitar tempat tinggalnya di Desa Cikole, Lembang, Bandung.


Para ibu rumah tangga ini mengerjakan pesanan pensil boneka yang memerlukan ketelitian detail lebih, padahal sekali pesanan besar rata-rata 1.000 batang. Produksi biasa, Efrin Kreasi kini telah memiliki enam orang karyawan.


Jumlah tersebut di luar produksi rutin untuk pemasaran di Pulau Jawa, Bali, hingga Kalimantan. Sesekali pesanan khusus datang, seperti jam dinding dan lampu duduk. Biasanya dipesan oleh penginapan.


Banyak penginapan yang menonjolkan unsur alam dan tradisional sebagai daya tarik. Sebuah lampu dibanderol Rp 175.000–Rp 300.000 per buah. Lampu duduk dan jam dinding buatan Ipul diminati pembeli asing, tetapi dirinya masih belum berani menyanggupi permintaan.


“Saya masih kesulitan bagaimana pengemasan barang yang besar untuk keluar negeri. Takut rusak, sayang,” ujarnya.


Sebagai kepala rumah tangga, Ipul bertekad untuk membesarkan usahanya dengan produk yang tidak pasaran, tetapi mudah diterima oleh pasar. Bagaimana usahanya ini bisa mendatangkan penghasilan tetap dan berdampak positif bagi lingkungan sekitarnya.


Meskipun hanya lulusan SMA, tetapi saya memiliki keinginan kuat untuk maju, bersaing dan memajukan daerah dengan produk ini. “Usaha ini masih kecil, tetapi harapan saya besar untuk mengembangkannya,” ujarnya.


Dipenghujung tahun ini, Efrin Kreasi memiliki keinginan untuk membeli mesin grafir dengan kisaran harga Rp 45 juta. Saepulloh berharap target tersebut bisa terealisasi tahun depan dengan mempertahankan omzet Rp 80 juta-Rp 100 juta per bulan.


 


 


 


 


 


 


Sumber berita: bisnis-jabar.com dan redaksi


Sumber gambar: bisnis-jabar.com

Menu restoran bawal bintang mahal di pasar

ikan bawal bakarBawal Bintang (Trachinotus blochii) merupakan salah satu jenis ikan bawal air laut yang saat ini tengah populer dan sangat diminati. Banyak restoran-restoran di kota besar menyajikan menu olahan bawal bintang.


Di restoran makanan Jepang, salah satu menu favorit olahan bawal bintang adalah sushi. Lantaran banyak peminatnya, budidaya bawal bintang menjanjikan peluang yang cukup menguntungkan.


Bawal bintang memiliki bentuk tubuh gepeng, agak membulat dengan ekor yang bercagak. Warnanya perak keabu-abuan sehingga kalau kena sinar matahari, ikan ini akan tampak berkilau. Sementara, sisiknya halus dan bertipe sisir atau ctenoid.


Budidaya bawal bintang merupakan hal yang baru di Indonesia. Upaya budidaya ikan asli Taiwan ini sudah dilakukan sejak 2002. Saat itu, Balai Budidaya Laut (BBL) Batam membeli benih bawal bintang buat diteliti dan dibudidayakan.


Setelah melalui penelitian yang cukup panjang, baru pada 2005, pembenihan ikan ini dilakukan di dalam negeri. Saat ini, sudah mulai banyak nelayan yang membudidayakan ikan dengan merek dagang Silver Pompano ini.


Salah satunya adalah Machsin (58) yang tinggal di Desa Pengawisan, Sekotong Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB). Machsin mulai membudidayakan bawal bintang sejak April lalu.


Awalnya, Machsin membeli 4.000 ekor benih bawal bintang dari BBL. Harga setiap ekor benih Rp 3.500 dengan ukuran 8 centimeter (cm) – 10 cm. Ia membudidayakan bawal bintang pada keramba yang terletak di laut, sekitar 800 meter (m) dari pinggir pantai Sekotong.


Ukuran keramba 16 meter persegi dengan mata jaring berukuran lima meter. Ikan ini baru bisa dipanen setelah enam bulan hingga tujuh bulan, dengan ukurannya mencapai 4 ons. “Kurang dari itu, tak ada yang mau beli,” kata Machsin saat ditemui KONTAN, November lalu.


Sekali panen, Machsin bisa meraup omzet Rp 45 juta. Ia menjual ikan itu pada pengepul di Lombok Barat. Oleh pengepul, ikan dijual ke restoran-restoran di Bali.


Pakan bawal bintang berupa pelet yang bisa dibeli seharga Rp 1.400 per kg. Selama empat bulan pertama budidaya, Machsin bisa menghabiskan 1 kuintal pakan. Namun, ketika usianya sudah empat bulan, 1 kuintal pakan ikan itu bisa habis dalam sehari.


Pembudidaya lainnya adalah Ibnu Hajar di Jakarta. Ia telah membudidayakan bawal bintang sejak 2008 di bawah bendera usaha CV Kaputi Lestari. Lokasi budidaya ada di Kepulauan Seribu, Jakarta.


Menurut Ibnu, budidaya ikan ini menguntungkan karena permintaannya tinggi. “Nilai jualnya juga lebih tinggi dari bawal lain,” kata Ibnu yang mengantongi omzet Rp 300 juta per bulan.


 


 


 


 


 


 


 


Sumber  : kontan.co.id


Sumber gambar : blogspot.com

Cobalah Kenali Kemauan Pasar

Competition is beautiful. Persaingan itu indah. Begitulah impresi yang diperoleh saat menyaksikan kompetisi bisnis yang amat ketat di antara para pemain bisnis ritel Indonesia saat ini. Mereka saling memperagakan strategi mutakhir dan formula pemasaran yang mengasyikkan  disimak.


Konsumen di kota-kota besar pada awal  tahun 1980-an, pernah melihat betapa perkasa pusat belanja bernama Gelael Supermarket. Ia lebih bertaring lagi ketika disandingkan dalam satu gedung dengan Kentucky Fried Chicken (KFC). Konsumen yang hendak makan di KFC bisa meluangkan waktu  berbelanja di Gelael Supermarket. Begitu sebaliknya. Kondisi ini bertahan hampir lima belas tahun.


Ketika Hero datang masuk pasar ritel, terutama di Ibu Kota, Gelael masih tenang-tenang saja. Saat Hero makin berkibar, baru terasa bahwa sengatannya berpengaruh mengurangi kilap Gelael. Akhir tahun 1990-an, Gelael makin tersudut sehingga hanya mempertahankan tidak lebih dari 15 supermarket. Kini hanya beberapa Gelael yang masih bertahan.


Meredupnya kilap Gelael Supermarket membuat Hero tampak lebih perkasa di lapangan. Akan tetapi, keasyikan berada di wilayah unggul membuat Hero terkesan kurang waspada. Ketika pusat perkulakan Makro datang, Hero masih tetap kokoh. Tatkala Hypermart, Carrefour, dan Lotte datang, Hero juga masih kuat. Akan tetapi, ketika Carrefour terus berekspansi dan bahkan menjadi penghela pengunjung di mal-mal besar, perlahan kilau Hero melemah.


Pusat perbelanjaan ini berusaha bangkit dan melakukan inovasi, tetapi pangsanya hampir tuntas digerogoti pusat perbelanjaan yang jauh lebih lengkap, lebih luas, dan harga bersaing. Nasib Hero hampir mirip nasib Gelael Supermarket. Jika saja dilakukan terobosan-terobosan baru yang sangat menggetarkan pasar, tentu peluangnya untuk menjadi raksasa kembali, tetap terbuka. Kedua nama itu sudah berlabuh lama di hati konsumen. Bangkit kembali dengan formula dan (mungkin) genre baru bukan hal mustahil.


Hal yang menarik perhatian banyak pengamat bisnis ritel adalah berubahnya sejumlah perusahaan besar. Lihat misalnya Coca Cola. Banyak merek baru datang, banyak pula minuman ringan yang menawarkan kesejukan, kenyamanan, tetapi Coca Cola mampu bertahan, dengan sentuhan rasa khas. Ketika ia dikritik menjadi salah satu (dari sangat banyak penyebab) diabetes, Coca Cola muncul dengan Coca Cola diet. Ketika ia masih dikritik karena mengandung kafein tinggi, ia muncul dengan varian baru, very low caffeine.


Tentu banyak perusahaan melakukan perubahan untuk menjadi lebih baik. Misalnya Garuda Indonesia. Maskapai ini di antaranya menyegarkan kru pesawat, menggusur pesawat tua, meningkatkan skala amat tinggi untuk kualitas layanan penumpang, dan menyediakan makanan lebih lezat. Pada akhirnya,  Garuda, mampu merebut pasar dalam negeri dengan spektrum luas, kendati harga tiketnya lebih mahal dibandingkan semua maskapai dalam negeri lain.


Ke luar negeri, maskapai ini juga sukses. Tak ayal, Garuda Indonesia menjadi maskapai terbaik di dunia. Prestasi ini sangat mengesankan sebab terjadi ketika begitu banyak maskapai kenamaan dunia  rugi besar, bahkan terancam tutup. Masih banyak perusahaan lain yang berubah untuk meraih prestasi. Toko ritel Alfamart sekadar menyebut contoh, terus menyesuaikan diri dengan perkembangan dan permintaan pasar. Alfamart misalnya, mengantisipasi pasar dengan Alfa Midi (empat kali lebih besar dari Alfamart). Perusahaan ini juga membuka Alfa Express dengan ”pembawaan” baru. Kuat dugaan, Alfamart mengantisipasi tuntutan baru konsumen dan membendung pengaruh serbuan pusat perbelanjaan raksasa.


Para usahawan properti juga terus mengikuti tuntutan pasar. Ketika membangun Mal Central Park, usahawan Trihatma Kusuma Haliman berpikir keras karena mal baru ini terletak di tengah-tengah dua mal, yakni Mal Taman Anggrek dan Mal Ciputra. Kedua mal itu sudah mempunyai pasar yang luas. Maka mal yang ia bangun harus membawa genre baru. Maka,  Central Park dibangun dengan taman raksasa, dengan konsep berbelanja yang atraktif. Jadilah Central Park  salah satu tujuan utama warga berbelanja. Ini menyangkut keberanian menawarkan aliran baru dalam dunia mal nasional. Keberanian melakukan perubahan, kecerdasan membaca tren konsumen, dan kemampuan menawarkan kemasan baru yang bagus, menentukan masa depan sebuah kerajaan bisnis.


 


 


Sumber artikel: kompas.com dan redaksi


Sumber gambar: teputake.info