Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PERTANIAN. Tampilkan semua postingan
Senin, 14 Mei 2012

Usaha Melon kinanti: Panennya cepat, harganya mantap

Melon kinanti merupakan salah satu varian buah melon yang cukup menjanjikan untuk dibudidayakan. Selain lebih manis, harga jual melon ini lumayan tinggi di pasaran. Tak heran banyak petani yang tertarik membudidayakannya. Omzet sekali panen bisa mencapai puluhan juta.

Melon merupakan salah satu buah tropis yang populer di Indonesia. Saat ini ada banyak varian melon unggul, seperti ladika, orange meta, golden apollo, dan adinda. Nah, salah satu varian baru yang sekarang mulai banyak dibudidayakan adalah melon kinanti.

Melon jenis ini merupakan salah varian melon golden.Harga jualnya di pasaran relatif tinggi, sekitar Rp 15.000 per kilogram (kg). Melon ini lebih manis dan renyah dibandingkan melon-melon jenis lainnya. Bentuknya juga berbeda dengan melon lain.

Kulitnya yang berwarna kuning relatif lebih mulus, sementara daging buahnya berwarna kemerahan. Salah satu kelompok petani yang membudidayakan melon kinanti berada di Desa Jatikulon, Kudus, Jawa Tengah. Edy Purwanto, anggota komunitas petani Jati Kulon mengaku, mulai membudidayakan melon kinanti sejak tahun 2010.

Hasilnya tidak mengecewakan. Dua bulan setelah ditanam, melon sudah berbuah dengan kualitas yang baik. Harga jual dari petani ke pemasok sekitar Rp 4.500-Rp 5.000 per kg. Padahal, berat rata-rata satu buah melon sekitar 1,5 kg hingga 2 kg.

Bersama petani lainnya, Edy kini menanam sekitar 3.000 batang pohon melon kinanti di lahan seluas 2 hektar (ha). "Total sebenarnya ada 15.000 batang melon. Tapi, selebihnya jenis melon lain, seperti apollo dan sakata," imbuh Edy.Khusus untuk melon kinanti, omzet yang didapat sekali panen Rp 20 juta-Rp 30 juta.

Pebudidaya lainnya adalah Elvan Tri Sugaryanto. Pemilik UD Elvanindo di Lamongan, Jawa Timur ini mulai membudidayakan melon kinanti setahun terakhir. "Di Lamongan budidaya melon ini masih jarang," terangnya.

Budidaya melon ini dilakukan di lahan seluas satu ha. Dengan lahan seluas itu, ia bisa menghasilkan lima sampai enam ton sekali panen. Omzet yang didapatnya lebih dari Rp 30 juta.

Baik Edy maupun Elvan mendapatkan pasokan bibit melon kinanti dari PT Tunas Agro Persada yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah. Perusahaan inilah yang menemukan bibit melon kinanti tiga tahun silam.

Namun, pemasaran bibitnya dilakukan melalui berbagai perusahaan lain yang bermitra dengannya. Direktur Marketing PT Tunas Agro Persada, Cipto Legowo bilang, melon kinanti merupakan hasil persilangan melon jenis lain. “Hasilnya ketemulah melon kinanti ini," katanya.

Menurutnya, pasokan kinanti di pasar masih terbatas dan kebanyakan baru dijumpai di pasar swalayan. Namun, menurutnya, budidaya melon ini terus meningkat. “Dalam tiga tahun ini luas lahan budidaya kinanti naik 25%-30%," ucapnya.

Budidaya melon kinanti kini semakin diminati. Selain lebih manis, harga jualnya juga lumayan tinggi di pasaran. Namun, bagi Anda yang ingin membudidayakan melon kinanti ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama menyangkut pemberian pestisida, penyiraman, dan pemupukan.

Seperti jenis melon lainnya, membudidayakan melon kinanti tidak sulit. Apalagi, buah ini cocok ditanam pada iklim tropis. Asal dirawat dengan benar, tanaman ini akan berbuah maksimal.

Edy Purwanto, pembudidaya melon kinanti asal Kudus, Jawa Tengah mengatakan, melon kinanti dapat dibudidayakan di ketinggian tanah 0-700 meter di atas permukaan laut (dpl). "Ketinggian tanah itu dapat kita jumpai dengan mudah di negara kita ini," jelasnya.

Namun, sebelum ditanam, lahan tersebut harus diolah terlebih dahulu. Perlu waktu sekitar dua minggu untuk pengolahan lahan ini. Selama dua minggu itu, lahan yang akan digunakan harus digemburkan dan dipupuk.

"Pemupukan di masa awal ini penting agar pertumbuhan melon kinanti bisa memuaskan," kata Edy.

Tanpa pemupukan awal, tanaman bisa terganggu dalam proses penyusunan klorofilnya, sehingga, daun dan tulang daun tampak kekuning-kuningan. Ujung-ujungnya tanaman bisa layu dan mati.

Kebutuhan pupuk di masa awal ini berkisar antara 50 kilogram (kg) sampai 100 kg per 1.000 meter persegi. Sementara untuk penanaman sebaiknya dilakukan di musim panas. "Melon ini membutuhkan sinar matahari yang cukup" ujar Edy.

Pengairan juga harus dijaga karena bila terlalu lembap tanaman rentan terkena penyakit. Suhu optimalnya antara 25-30 derajat Celcius.

Untuk menjaga jarak ideal antar tanaman, setiap setengah hektare lahan ditanami sekitar 3.000 batang. "Jadi, jarak antar tanaman sekitar satu meter hingga dua meter," jelasnya.

Elvan Tri Sugaryanto, pembudidaya melon kinanti di Lamongan, Jawa Timur menambahkan, perawatan mutlak diperlukan saat tanaman berusia 30 hari. Saat itu, tanaman sudah mulai memasuki usia produktif. Di masa-masa itu tanaman rawan dijangkiti hama kutu.

Sementara saat musim hujan, penyakit yang mungkin timbul adalah jamur. Bila sudah ditumbuhi jamur, daun tanaman akan layu.

Untuk itu, butuh perhatian khusus terutama dalam hal pemberian pestisida, penyiraman, dan pemupukan. “Pengalaman kami, setidaknya setiap 3.000 batang melon diawasi oleh satu petani setiap harinya,” jelasnya.

Untuk menjaga ketersediaan air, tanaman melon ini juga harus rajin disiram. Tapi, volume penyiramannya harus disesuaikan dengan curah hujan. Jika musim hujan, misalnya, penyiraman sebaiknya dikurangi.

Sebab, terlalu banyak air akan menurunkan kualitas melon. Secara fisik memang tidak terlihat. "Namun kemanisannya akan sedikit berkurang," ujarnya.

Umumnya, melon kinanti sudah bisa dipanen setiap dua bulan setelah ditanam.

Usaha Melon kinanti: Panennya cepat, harganya mantap

Melon kinanti merupakan salah satu varian buah melon yang cukup menjanjikan untuk dibudidayakan. Selain lebih manis, harga jual melon ini lumayan tinggi di pasaran. Tak heran banyak petani yang tertarik membudidayakannya. Omzet sekali panen bisa mencapai puluhan juta.

Melon merupakan salah satu buah tropis yang populer di Indonesia. Saat ini ada banyak varian melon unggul, seperti ladika, orange meta, golden apollo, dan adinda. Nah, salah satu varian baru yang sekarang mulai banyak dibudidayakan adalah melon kinanti.

Melon jenis ini merupakan salah varian melon golden.Harga jualnya di pasaran relatif tinggi, sekitar Rp 15.000 per kilogram (kg). Melon ini lebih manis dan renyah dibandingkan melon-melon jenis lainnya. Bentuknya juga berbeda dengan melon lain.

Kulitnya yang berwarna kuning relatif lebih mulus, sementara daging buahnya berwarna kemerahan. Salah satu kelompok petani yang membudidayakan melon kinanti berada di Desa Jatikulon, Kudus, Jawa Tengah. Edy Purwanto, anggota komunitas petani Jati Kulon mengaku, mulai membudidayakan melon kinanti sejak tahun 2010.

Hasilnya tidak mengecewakan. Dua bulan setelah ditanam, melon sudah berbuah dengan kualitas yang baik. Harga jual dari petani ke pemasok sekitar Rp 4.500-Rp 5.000 per kg. Padahal, berat rata-rata satu buah melon sekitar 1,5 kg hingga 2 kg.

Bersama petani lainnya, Edy kini menanam sekitar 3.000 batang pohon melon kinanti di lahan seluas 2 hektar (ha). "Total sebenarnya ada 15.000 batang melon. Tapi, selebihnya jenis melon lain, seperti apollo dan sakata," imbuh Edy.Khusus untuk melon kinanti, omzet yang didapat sekali panen Rp 20 juta-Rp 30 juta.

Pebudidaya lainnya adalah Elvan Tri Sugaryanto. Pemilik UD Elvanindo di Lamongan, Jawa Timur ini mulai membudidayakan melon kinanti setahun terakhir. "Di Lamongan budidaya melon ini masih jarang," terangnya.

Budidaya melon ini dilakukan di lahan seluas satu ha. Dengan lahan seluas itu, ia bisa menghasilkan lima sampai enam ton sekali panen. Omzet yang didapatnya lebih dari Rp 30 juta.

Baik Edy maupun Elvan mendapatkan pasokan bibit melon kinanti dari PT Tunas Agro Persada yang berbasis di Semarang, Jawa Tengah. Perusahaan inilah yang menemukan bibit melon kinanti tiga tahun silam.

Namun, pemasaran bibitnya dilakukan melalui berbagai perusahaan lain yang bermitra dengannya. Direktur Marketing PT Tunas Agro Persada, Cipto Legowo bilang, melon kinanti merupakan hasil persilangan melon jenis lain. “Hasilnya ketemulah melon kinanti ini," katanya.

Menurutnya, pasokan kinanti di pasar masih terbatas dan kebanyakan baru dijumpai di pasar swalayan. Namun, menurutnya, budidaya melon ini terus meningkat. “Dalam tiga tahun ini luas lahan budidaya kinanti naik 25%-30%," ucapnya.

Budidaya melon kinanti kini semakin diminati. Selain lebih manis, harga jualnya juga lumayan tinggi di pasaran. Namun, bagi Anda yang ingin membudidayakan melon kinanti ada beberapa hal yang harus diperhatikan, terutama menyangkut pemberian pestisida, penyiraman, dan pemupukan.

Seperti jenis melon lainnya, membudidayakan melon kinanti tidak sulit. Apalagi, buah ini cocok ditanam pada iklim tropis. Asal dirawat dengan benar, tanaman ini akan berbuah maksimal.

Edy Purwanto, pembudidaya melon kinanti asal Kudus, Jawa Tengah mengatakan, melon kinanti dapat dibudidayakan di ketinggian tanah 0-700 meter di atas permukaan laut (dpl). "Ketinggian tanah itu dapat kita jumpai dengan mudah di negara kita ini," jelasnya.

Namun, sebelum ditanam, lahan tersebut harus diolah terlebih dahulu. Perlu waktu sekitar dua minggu untuk pengolahan lahan ini. Selama dua minggu itu, lahan yang akan digunakan harus digemburkan dan dipupuk.

"Pemupukan di masa awal ini penting agar pertumbuhan melon kinanti bisa memuaskan," kata Edy.

Tanpa pemupukan awal, tanaman bisa terganggu dalam proses penyusunan klorofilnya, sehingga, daun dan tulang daun tampak kekuning-kuningan. Ujung-ujungnya tanaman bisa layu dan mati.

Kebutuhan pupuk di masa awal ini berkisar antara 50 kilogram (kg) sampai 100 kg per 1.000 meter persegi. Sementara untuk penanaman sebaiknya dilakukan di musim panas. "Melon ini membutuhkan sinar matahari yang cukup" ujar Edy.

Pengairan juga harus dijaga karena bila terlalu lembap tanaman rentan terkena penyakit. Suhu optimalnya antara 25-30 derajat Celcius.

Untuk menjaga jarak ideal antar tanaman, setiap setengah hektare lahan ditanami sekitar 3.000 batang. "Jadi, jarak antar tanaman sekitar satu meter hingga dua meter," jelasnya.

Elvan Tri Sugaryanto, pembudidaya melon kinanti di Lamongan, Jawa Timur menambahkan, perawatan mutlak diperlukan saat tanaman berusia 30 hari. Saat itu, tanaman sudah mulai memasuki usia produktif. Di masa-masa itu tanaman rawan dijangkiti hama kutu.

Sementara saat musim hujan, penyakit yang mungkin timbul adalah jamur. Bila sudah ditumbuhi jamur, daun tanaman akan layu.

Untuk itu, butuh perhatian khusus terutama dalam hal pemberian pestisida, penyiraman, dan pemupukan. “Pengalaman kami, setidaknya setiap 3.000 batang melon diawasi oleh satu petani setiap harinya,” jelasnya.

Untuk menjaga ketersediaan air, tanaman melon ini juga harus rajin disiram. Tapi, volume penyiramannya harus disesuaikan dengan curah hujan. Jika musim hujan, misalnya, penyiraman sebaiknya dikurangi.

Sebab, terlalu banyak air akan menurunkan kualitas melon. Secara fisik memang tidak terlihat. "Namun kemanisannya akan sedikit berkurang," ujarnya.

Umumnya, melon kinanti sudah bisa dipanen setiap dua bulan setelah ditanam.

Usaha Terung putih membuahkan laba ratusan juta

Terung merupakan salah satu jenis sayuran yang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia. Beberapa jenis terung yang sudah sangat populer adalah terung ungu dan terung hijau. Kedua jenis terung itu sering dikonsumsi, baik dalam keadaan sudah dimasak maupun mentah.

Tapi bagaimana dengan terung putih? Bagi sebagian besar orang, terung jenis ini mungkin masih terdengar asing. Terung putih belum begitu populer karena baru diperkenalkan lima tahun terakhir.

Alhasil, budidaya maupun pemasarannya juga belum sebanyak terung jenis lainnya. Terung putih ini merupakan varietas terung hibrida. Nama lainnya dikenal sebagai terung kania. Bentuk fisik terung ini sebenarnya tidak berbeda jauh dari terung ungu.

“Tapi rasanya lebih manis, makanya di sini ada yang menjual produk olahan manisan terung kania,” ujar Abbas, petani terung putih di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Selama ini, budidaya terung putih memang berkembang pesat di kawasan Kalimantan. Selain di dalam negeri, terung putih produksi petani Pulau Borneo itu juga merambah pasar Malaysia.

Mereka tertarik membudidayakan terung ini karena memiliki sejumlah keunggulan dibanding terung lain. Di antaranya tingkat produktivitas tanaman yang relatif tinggi serta tekstur buah yang renyah dan empuk.

Abbas membudidayakan terung putih di lahan seluas setengah hektare (ha). Di atas lahan itu, ia mengaku dapat menanam terung putih sebanyak 10.000 hingga 12.000 batang. Tanaman terung ini sudah bisa dipanen dalam waktu enam bulan.

Setiap batang dapat menghasilkan 2 kilogram (kg) hingga 2,5 kilogram terung putih. Katakanlah di atas lahan setengah ha itu, ia menanam 10.000 batang, maka sekali panen, ia bisa mendapat sekitar 20 ton terung putih.

Di Kalimantan, harga pasaran terung itu Rp 6.000 per kg. Saat pasokan sedang sulit, harganya bisa tembus Rp 10.000 per kg. Sementara harga terung biasa hanya berkisar Rp 4.000 per kg.

Dengan harga tersebut, ia dapat meraup omzet sekitar Rp 120 juta sekali panen. "Laba bersihnya sekitar 30%," kata Abbas.

Menanam terung putih juga ditekuni Rusmindi, petani asal Pontianak, Kalimantan Barat. Ia telah membudidayakan terung putih sejak satu setengah tahun terakhir di lahan seluas setengah hektare.

"Saya tertarik membudidayakan tanaman ini karena potensi pasarnya saat ini cukup bagus. Terung ini sedang menjadi tren di masyarakat," jelasnya.

Ia menjual terung putih sekitar Rp 5.500-Rp 6.000 per kg. Ia mengaku bisa meraup omzet Rp 135 juta sekali panen. "Laba bersih saya 25% dari omzet," ujarnya.

Budidaya terung putih tidak terlalu sulit. Asal memperhatikan kondisi tanah, cuaca, dan pemupukan, tanaman ini bisa menghasilkan buah yang maksimal. Terung putih sudah bisa dipanen pada usia 65 hari. Lantaran harus mendapatkan sinar matahari yang cukup, hindari budidaya di musim hujan.

Budidaya terung putih tidak jauh berbeda dengan budidaya terung jenis lainnya. Terung putih dapat tumbuh di lahan dengan ketinggian hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl). Terung ini cocok dibudidayakan di tanah lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, dan memiliki sistem pengairan yang bagus.

Abbas, petani terung putih dari Kubu Raya, Kalimantan Barat bilang, derajat keasaman (pH) tanah harus diperhatikan. Umumnya pH yang dibutuhkan antara 6-7. “Di Kalimantan, pH tanahnya masih di bawah 4, jadi perlu pengapuran dalam persiapan lahannya,” jelasnya.

Sebaiknya, penanaman awal dilakukan saat hendak memasuki musim panas. Alasannya, pengendalian airnya relatif lebih mudah. Pengolahan tanah meliputi pembersihan rumput liar di sekitar kebun, dan pembajakan sedalam 30 centimeter (cm) untuk membuat gundukan tanah atau bedengan sesuai lahan yang ada. Lebar bedengan sekitar 100 cm dengan jarak antar bedengan sekitar 40-60 cm.

Abbas menyarankan, agar menyebarkan pupuk secukupnya di lahan tersebut. Pemupukan selanjutnya bisa dilakukan setiap 10 hari hingga tanaman mencapai usia 45 hari. Sebaiknya, petani menggunakan fungisida sebagai anti jamur. Bila perawatan dilakukan secara telaten, pada usia 65 hari, terung putih sudah mulai berbuah dan bisa dipanen.

“Tapi buahnya itu tidak matang sekaligus. Setidaknya panennya itu setiap empat hari sekali. Jadi ada 32 kali pemetikan,” tandasnya.

Dalam setahun, tanaman ini bisa dua kali panen dengan rata-rata produksi per batang mencapai 2 kilogram (kg) hingga 2,5 kg. Dari pengalaman Abbas, di atas lahan setengah hingga satu hektare bisa ditanam 10.000 hingga 12.000 batang tanaman terung putih. Tapi , setelah panen selesai dan kembali ingin membudidayakan terung putih sebaiknya menggunakan lahan lain. Hal itu untuk menghindari serangan hama yang mungkin sudah lebih adaptif.

Rusmindi, petani asal Pontianak menambahkan, terung putih bisa tumbuh subur di suhu udara antara 22 derajat celcius sampai 30 derajat celcius. Selain itu, tanaman ini harus mendapatkan sinar matahari yang cukup. Makanya, kata dia, budidaya terung putih sulit dilakukan di musim hujan.

Sebab, selain hama jamur sulit kendalikan, sistem pengairan juga harus diperhatikan agar tidak ada genangan air di atas lahan. Jika sudah terkena hama, daun tanaman ini akan mengerut dan kering. Hama bisa diberantas dengan menggunakan Basudin 40 WP dan Bayrusi 125 EC.

Usaha Terung putih membuahkan laba ratusan juta

Terung merupakan salah satu jenis sayuran yang sudah dikenal luas masyarakat Indonesia. Beberapa jenis terung yang sudah sangat populer adalah terung ungu dan terung hijau. Kedua jenis terung itu sering dikonsumsi, baik dalam keadaan sudah dimasak maupun mentah.

Tapi bagaimana dengan terung putih? Bagi sebagian besar orang, terung jenis ini mungkin masih terdengar asing. Terung putih belum begitu populer karena baru diperkenalkan lima tahun terakhir.

Alhasil, budidaya maupun pemasarannya juga belum sebanyak terung jenis lainnya. Terung putih ini merupakan varietas terung hibrida. Nama lainnya dikenal sebagai terung kania. Bentuk fisik terung ini sebenarnya tidak berbeda jauh dari terung ungu.

“Tapi rasanya lebih manis, makanya di sini ada yang menjual produk olahan manisan terung kania,” ujar Abbas, petani terung putih di Kubu Raya, Kalimantan Barat.

Selama ini, budidaya terung putih memang berkembang pesat di kawasan Kalimantan. Selain di dalam negeri, terung putih produksi petani Pulau Borneo itu juga merambah pasar Malaysia.

Mereka tertarik membudidayakan terung ini karena memiliki sejumlah keunggulan dibanding terung lain. Di antaranya tingkat produktivitas tanaman yang relatif tinggi serta tekstur buah yang renyah dan empuk.

Abbas membudidayakan terung putih di lahan seluas setengah hektare (ha). Di atas lahan itu, ia mengaku dapat menanam terung putih sebanyak 10.000 hingga 12.000 batang. Tanaman terung ini sudah bisa dipanen dalam waktu enam bulan.

Setiap batang dapat menghasilkan 2 kilogram (kg) hingga 2,5 kilogram terung putih. Katakanlah di atas lahan setengah ha itu, ia menanam 10.000 batang, maka sekali panen, ia bisa mendapat sekitar 20 ton terung putih.

Di Kalimantan, harga pasaran terung itu Rp 6.000 per kg. Saat pasokan sedang sulit, harganya bisa tembus Rp 10.000 per kg. Sementara harga terung biasa hanya berkisar Rp 4.000 per kg.

Dengan harga tersebut, ia dapat meraup omzet sekitar Rp 120 juta sekali panen. "Laba bersihnya sekitar 30%," kata Abbas.

Menanam terung putih juga ditekuni Rusmindi, petani asal Pontianak, Kalimantan Barat. Ia telah membudidayakan terung putih sejak satu setengah tahun terakhir di lahan seluas setengah hektare.

"Saya tertarik membudidayakan tanaman ini karena potensi pasarnya saat ini cukup bagus. Terung ini sedang menjadi tren di masyarakat," jelasnya.

Ia menjual terung putih sekitar Rp 5.500-Rp 6.000 per kg. Ia mengaku bisa meraup omzet Rp 135 juta sekali panen. "Laba bersih saya 25% dari omzet," ujarnya.

Budidaya terung putih tidak terlalu sulit. Asal memperhatikan kondisi tanah, cuaca, dan pemupukan, tanaman ini bisa menghasilkan buah yang maksimal. Terung putih sudah bisa dipanen pada usia 65 hari. Lantaran harus mendapatkan sinar matahari yang cukup, hindari budidaya di musim hujan.

Budidaya terung putih tidak jauh berbeda dengan budidaya terung jenis lainnya. Terung putih dapat tumbuh di lahan dengan ketinggian hingga 1.200 meter di atas permukaan laut (dpl). Terung ini cocok dibudidayakan di tanah lempung berpasir, subur, kaya bahan organik, dan memiliki sistem pengairan yang bagus.

Abbas, petani terung putih dari Kubu Raya, Kalimantan Barat bilang, derajat keasaman (pH) tanah harus diperhatikan. Umumnya pH yang dibutuhkan antara 6-7. “Di Kalimantan, pH tanahnya masih di bawah 4, jadi perlu pengapuran dalam persiapan lahannya,” jelasnya.

Sebaiknya, penanaman awal dilakukan saat hendak memasuki musim panas. Alasannya, pengendalian airnya relatif lebih mudah. Pengolahan tanah meliputi pembersihan rumput liar di sekitar kebun, dan pembajakan sedalam 30 centimeter (cm) untuk membuat gundukan tanah atau bedengan sesuai lahan yang ada. Lebar bedengan sekitar 100 cm dengan jarak antar bedengan sekitar 40-60 cm.

Abbas menyarankan, agar menyebarkan pupuk secukupnya di lahan tersebut. Pemupukan selanjutnya bisa dilakukan setiap 10 hari hingga tanaman mencapai usia 45 hari. Sebaiknya, petani menggunakan fungisida sebagai anti jamur. Bila perawatan dilakukan secara telaten, pada usia 65 hari, terung putih sudah mulai berbuah dan bisa dipanen.

“Tapi buahnya itu tidak matang sekaligus. Setidaknya panennya itu setiap empat hari sekali. Jadi ada 32 kali pemetikan,” tandasnya.

Dalam setahun, tanaman ini bisa dua kali panen dengan rata-rata produksi per batang mencapai 2 kilogram (kg) hingga 2,5 kg. Dari pengalaman Abbas, di atas lahan setengah hingga satu hektare bisa ditanam 10.000 hingga 12.000 batang tanaman terung putih. Tapi , setelah panen selesai dan kembali ingin membudidayakan terung putih sebaiknya menggunakan lahan lain. Hal itu untuk menghindari serangan hama yang mungkin sudah lebih adaptif.

Rusmindi, petani asal Pontianak menambahkan, terung putih bisa tumbuh subur di suhu udara antara 22 derajat celcius sampai 30 derajat celcius. Selain itu, tanaman ini harus mendapatkan sinar matahari yang cukup. Makanya, kata dia, budidaya terung putih sulit dilakukan di musim hujan.

Sebab, selain hama jamur sulit kendalikan, sistem pengairan juga harus diperhatikan agar tidak ada genangan air di atas lahan. Jika sudah terkena hama, daun tanaman ini akan mengerut dan kering. Hama bisa diberantas dengan menggunakan Basudin 40 WP dan Bayrusi 125 EC.
Selasa, 01 Mei 2012

Teknik Budidaya Kentang

SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.

2.2. Media Tanam
Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
- Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.
- Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).

3.2. Pengolahan Media Tanam
Lahan dibajak sedalam 30-40 cm dan biarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.
Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Pemupukan Dasar
a. Pupuk anorganik berupa urea (200 kg/ha), SP 36 (200 kg/ha), dan KCl (75 kg/ha).
b. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secukupnya secara merata di atas bedengan, dosis 1-2 botol/ 1000 m². Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA dengan cara :
alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.
Penyiraman POC NASA / SUPER NASA dilakukan sebelum pemberian pupuk kandang.
c. Berikan pupuk kandang 5-6 ton/ha (dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam) satu minggu sebelum tanam,

3.3.2. Cara Penanaman
Jarak tanaman tergantung varietas, 80 cm x 40 cm atau 70 x 30 cm dengan kebutuhan bibit + 1.300-1.700 kg/ha (bobot umbi 30-45 gr). Waktu tanam diakhir musim hujan (April-Juni).

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.

3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan.

3.4.3. Pemangkasan Bunga
Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara.

3.4.4. Pemupukan Susulan
a. Pupuk Makro
Urea/ZA: 21 hari setelah tanam (hst) 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha.
SP-36: 21 hst 250 kg/ha.
KCl: 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha.
Pupuk makro diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman.
b. POC NASA: mulai umur 1 minggu s/d 10 atau 11 minggu.
Alternatif I : 8-10 kali (interval 1 minggu sekali dengan dosis 4 tutup/tangki atau 1 botol (500 cc)/ drum 200 lt air.
Alternatif II : 5 - 6 kali (interval 2 mingu sekali dengan dosis 6 tutup/tangki atau 1,5 botol (750 cc)/ drum 200 lt air.
c. HORMONIK : penyemprotan POC NASA akan lebih optimal jika dicampur HORMONIK (dosis 1-2 tutup/tangki atau + 2-3 botol/drum 200 liter air).

3.4.5. Pengairan
Pengairan 7 hari sekali secara rutin dengan di gembor, Power Sprayer atau dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat menyerang daun hingga habis daunnya. Pengendalian: (1) memangkas daun yang telah ditempeli telur; (2) penyemprotan Natural Vitura dan sanitasi lingkungan.

Kutu daun (Aphis Sp)
Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus. Pengendalian: memotong dan membakar daun yang terinfeksi, serta penyemprotan Pestona atau BVR.

Orong-orong (Gryllotalpa Sp)
Gejala: menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri. Pengendalian: Pengocoran Pestona.

Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)
Gejala: daun berwarna merah tua dan terlihat jalinan seperti benang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, terlihat lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan. Pengendalian : Pengocoran Pestona.

Hama trip ( Thrips tabaci )
Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda. Pengendalian: (1) memangkas bagian daun yang terserang; (2) mengunakan Pestona atau BVR.

3.5.2. Penyakit
Penyakit busuk daun
Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati. Pengendalian: sanitasi kebun. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala: beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian: sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit busuk umbi
Penyebab: jamur Colleotrichum coccodes. Gejala: daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendalian: pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam

Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian: menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit bercak kering (Early Blight)
Penyebab: jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering. Gejala: daun berbercak kecil tersebar tidak teratur, warna coklat tua, meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian: pergiliran tanaman. Pencegahan : Natural Glio sebelum/awal tanam

Penyakit karena virus
Virus yang menyerang adalah: (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung; (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung; (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Gejala: akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pengendalian: tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan Pestona atau BVR dan melakukan pergiliran tanaman.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

3.6. Panen
Umur panen pada tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen jika daunnya telah berwarna kekuning-kuningan yang bukan disebabkan serangan penyakit; batang tanaman telah berwarna kekuningan (agak mengering) dan kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.
Rumput Liar BUDIDAYA, Kentang, PERTANIAN, Teknik

Teknik Budidaya Kentang

SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Curah hujan rata-rata 1500 mm/tahun, lama penyinaran 9-10 jam/hari, suhu optimal 18-21 °C, kelembaban 80-90% dan ketinggian antara 1.000-3.000 m dpl.

2.2. Media Tanam
Struktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase baik dan memiliki lapisan olah yang dalam dan pH antara 5,8-7,0.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
- Umbi bibit berasal dari umbi produksi berbobot 30-50 gram, umur 150-180 hari, tidak cacat, dan varitas unggul. Pilih umbi berukuran sedang, memiliki 3-5 mata tunas dan hanya sampai generasi keempat saja. Setelah tunas + 2 cm, siap ditanam.
- Bila bibit membeli (usahakan bibit yang bersertifikat), berat antara 30-45 gram dengan 3-5 mata tunas. Penanaman dapat dilakukan tanpa/dengan pembelahan. Pemotongan umbi dilakukan menjadi 2-4 potong menurut mata tunas yang ada. Sebelum tanam umbi direndam dulu menggunakan POC NASA selama 1-3 jam (2-4 cc/lt air).

3.2. Pengolahan Media Tanam
Lahan dibajak sedalam 30-40 cm dan biarkan selama 2 minggu sebelum dibuat bedengan dengan lebar 70 cm (1 jalur tanaman)/140 cm (2 jalur tanaman), tinggi 30 cm dan buat saluran pembuangan air sedalam 50 cm dan lebar 50 cm.
Natural Glio yang sudah terlebih dahulu dikembangbiakkan dalam pupuk kandang + 1 minggu, ditebarkan merata pada bedengan (dosis : 1-2 kemasan Natural Glio dicampur 50-100 kg pupuk kandang/1000 m2).

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Pemupukan Dasar
a. Pupuk anorganik berupa urea (200 kg/ha), SP 36 (200 kg/ha), dan KCl (75 kg/ha).
b. Siramkan pupuk POC NASA yang telah dicampur air secukupnya secara merata di atas bedengan, dosis 1-2 botol/ 1000 m². Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA dengan cara :
alternatif 1 : 1 botol Super Nasa diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
alternatif 2 : setiap 1 gembor vol 10 lt diberi 1 peres sendok makan Super Nasa untuk menyiram 10 meter bedengan.
Penyiraman POC NASA / SUPER NASA dilakukan sebelum pemberian pupuk kandang.
c. Berikan pupuk kandang 5-6 ton/ha (dicampur pada tanah bedengan atau diberikan pada lubang tanam) satu minggu sebelum tanam,

3.3.2. Cara Penanaman
Jarak tanaman tergantung varietas, 80 cm x 40 cm atau 70 x 30 cm dengan kebutuhan bibit + 1.300-1.700 kg/ha (bobot umbi 30-45 gr). Waktu tanam diakhir musim hujan (April-Juni).

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Penyulaman untuk mengganti tanaman yang tidak tumbuh/tumbuhnya jelek dilakukan 15 hari semenjak tumbuh.

3.4.2. Penyiangan
Penyiangan dilakukan minimal dua kali selama masa penanaman 2-3 hari sebelum/bersamaan dengan pemupukan susulan dan penggemburan.

3.4.3. Pemangkasan Bunga
Pada varietas kentang yang berbunga sebaiknya dipangkas untuk mencegah terganggunya proses pembentukan umbi, karena terjadi perebutan unsur hara.

3.4.4. Pemupukan Susulan
a. Pupuk Makro
Urea/ZA: 21 hari setelah tanam (hst) 300 kg/ha dan 45 hst 150 kg/ha.
SP-36: 21 hst 250 kg/ha.
KCl: 21 hst 150 kg/ha dan 45 hst 75 kg/ha.
Pupuk makro diberikan jarak 10 cm dari batang tanaman.
b. POC NASA: mulai umur 1 minggu s/d 10 atau 11 minggu.
Alternatif I : 8-10 kali (interval 1 minggu sekali dengan dosis 4 tutup/tangki atau 1 botol (500 cc)/ drum 200 lt air.
Alternatif II : 5 - 6 kali (interval 2 mingu sekali dengan dosis 6 tutup/tangki atau 1,5 botol (750 cc)/ drum 200 lt air.
c. HORMONIK : penyemprotan POC NASA akan lebih optimal jika dicampur HORMONIK (dosis 1-2 tutup/tangki atau + 2-3 botol/drum 200 liter air).

3.4.5. Pengairan
Pengairan 7 hari sekali secara rutin dengan di gembor, Power Sprayer atau dengan mengairi selokan sampai areal lembab (sekitar 15-20 menit).

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1. Hama
Ulat grayak (Spodoptera litura)
Gejala: ulat menyerang daun hingga habis daunnya. Pengendalian: (1) memangkas daun yang telah ditempeli telur; (2) penyemprotan Natural Vitura dan sanitasi lingkungan.

Kutu daun (Aphis Sp)
Gejala: kutu daun menghisap cairan dan menginfeksi tanaman, juga dapat menularkan virus. Pengendalian: memotong dan membakar daun yang terinfeksi, serta penyemprotan Pestona atau BVR.

Orong-orong (Gryllotalpa Sp)
Gejala: menyerang umbi di kebun, akar, tunas muda dan tanaman muda. Akibatnya tanaman menjadi peka terhadap infeksi bakteri. Pengendalian: Pengocoran Pestona.

Hama penggerek umbi (Phtorimae poerculella Zael)
Gejala: daun berwarna merah tua dan terlihat jalinan seperti benang berwarna kelabu yang merupakan materi pembungkus ulat. Umbi yang terserang bila dibelah, terlihat lubang-lubang karena sebagian umbi telah dimakan. Pengendalian : Pengocoran Pestona.

Hama trip ( Thrips tabaci )
Gejala: pada daun terdapat bercak-bercak berwarna putih, berubah menjadi abu-abu perak dan mengering. Serangan dimulai dari ujung-ujung daun yang masih muda. Pengendalian: (1) memangkas bagian daun yang terserang; (2) mengunakan Pestona atau BVR.

3.5.2. Penyakit
Penyakit busuk daun
Penyebab: jamur Phytopthora infestans. Gejala: timbul bercak-bercak kecil berwarna hijau kelabu dan agak basah hingga warnanya berubah menjadi coklat sampai hitam dengan bagian tepi berwarna putih yang merupakan sporangium dan daun membusuk/mati. Pengendalian: sanitasi kebun. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit layu bakteri
Penyebab: bakteri Pseudomonas solanacearum. Gejala: beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu dan daun tua, daun bagian bawah menguning. Pengendalian: sanitasi kebun, pergiliran tanaman. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit busuk umbi
Penyebab: jamur Colleotrichum coccodes. Gejala: daun menguning dan menggulung, lalu layu dan kering. Bagian tanaman yang berada dalam tanah terdapat bercak-bercak berwarna coklat. Infeksi akan menyebabkan akar dan umbi muda busuk. Pengendalian: pergiliran tanaman , sanitasi kebun dan penggunaan bibit yang baik. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam

Penyakit fusarium
Penyebab: jamur Fusarium sp. Gejala: busuk umbi yang menyebabkan tanaman layu. Penyakit ini juga menyerang kentang di gudang penyimpanan. Infeksi masuk melalui luka-luka yang disebabkan nematoda/faktor mekanis. Pengendalian: menghindari terjadinya luka pada saat penyiangan dan pendangiran. Pencegahan dengan penggunaan Natural Glio pada sebelum atau awal tanam.

Penyakit bercak kering (Early Blight)
Penyebab: jamur Alternaria solani. Jamur hidup disisa tanaman sakit dan berkembang di daerah kering. Gejala: daun berbercak kecil tersebar tidak teratur, warna coklat tua, meluas ke daun muda. Permukaan kulit umbi berbercak gelap tidak beraturan, kering, berkerut dan keras. Pengendalian: pergiliran tanaman. Pencegahan : Natural Glio sebelum/awal tanam

Penyakit karena virus
Virus yang menyerang adalah: (1) Potato Leaf Roll Virus (PLRV) menyebabkan daun menggulung; (2) Potato Virus X (PVX) menyebabkan mosaik laten pada daun; (3) Potato Virus Y (PVY) menyebabkan mosaik atau nekrosis lokal; (4) Potato Virus A (PVA) menyebabkan mosaik lunak; (5) Potato Virus M (PVM) menyebabkan mosaik menggulung; (6) Potato Virus S (PVS) menyebabkan mosaik lemas. Gejala: akibat serangan, tanaman tumbuh kerdil, lurus dan pucat dengan umbi kecil-kecil/tidak menghasilkan sama sekali; daun menguning dan jaringan mati. Penyebaran virus dilakukan oleh peralatan pertanian, kutu daun Aphis spiraecola, A. gossypii dan Myzus persicae, kumbang Epilachna dan Coccinella dan nematoda. Pengendalian: tidak ada pestisida untuk mengendalikan virus, pencegahan dan pengendalian dilakukan dengan menanam bibit bebas virus, membersihkan peralatan, memangkas dan membakar tanaman sakit, mengendalikan vektor dengan Pestona atau BVR dan melakukan pergiliran tanaman.

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki.

3.6. Panen
Umur panen pada tanaman kentang berkisar antara 90-180 hari, tergantung varietas tanaman. Secara fisik tanaman kentang sudah dapat dipanen jika daunnya telah berwarna kekuning-kuningan yang bukan disebabkan serangan penyakit; batang tanaman telah berwarna kekuningan (agak mengering) dan kulit umbi akan lekat sekali dengan daging umbi, kulit tidak cepat mengelupas bila digosok dengan jari.
Rumput Liar BUDIDAYA, Kentang, PERTANIAN, Teknik

Teknik Budidaya Semangka Unggulan

SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Curah hujan ideal 40-50 mm/bulan. Seluruh areal pertanaman perlu sinar matahari sejak terbit sampai tenggelam. Suhu optimal ± 250 C. Semangka cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl.

2.2. Media Tanam
Kondisi tanah cukup gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan yang telah dikeringkan. Cocok pada jenis tanah geluh berpasir. Keasaman tanah (pH) 6 – 6,7.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Penyiapan Media Semai

- Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-50 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Diamkan + 1 minggu di tempat teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
- Campurkan tanah halus (telah diayak) 2 bagian atau 2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian atau 1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang (1-3 kg) .Masukkan media semai ke dalam polybag kecil 8×10 cm sampai terisi hingga 90%.

3.1.2. Teknik Perkecambahan Benih
Benih dimasukkan ke dalam kain lalu diikat, kemudian direndam dalam ramuan : 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 sendok POC NASA (direndam 8-12 jam). Benih dalam ikatan diambil, dibungkus koran kemudian diperam 1-2 hari. Jika ada yang berkecambah diambil untuk disemaikan dan jika kering tambah air dan dibungkus kain kemudian dimasukkan koran lagi.

3.1.3. Semai Benih dan Pemeliharaan Bibit
- Media semai disiram air bersih secukupnya. Benih terpilih yang calon akarnya sudah sepanjang 2-3 mm, langsung disemai dalam polybag sedalam 1-1,5 cm.
- Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh. Diberi perlindungan plastik transparan, salah satu ujung/pinggirnya terbuka.
- Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, dilakukan rutin setiap 3 – 4 hari sekali. Penyiraman 1-2 kali sehari. Pada umur 12-14 hari bibit siap ditanam.

3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Pembukaan Lahan
Pembajakan sedalam + 30 cm, dihaluskan dan diratakan. Bersihkan lahan dari sisa-sisa perakaran dan batu.

3.2.2. Pembentukan Bedengan
Lebar bedengan 6-8 m, tinggi bedengan minimum 20 cm.

3.2.3. Pengapuran
Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.

3.2.4. Pemupukan Dasar
a. Pupuk kandang 600 kg/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam.
b. Pupuk anorganik berupa TSP (200 kg/ha), ZA (140 kg/ha) dan KCl (130 kg/ha).
c. Siramkan POC NASA yang telah dicampur air secukupnya diatas bedengan dengan dosis + 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika POC NASA digantikan SUPER NASA, dosis 1-2 botol/1000 m2 dengan cara :
Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.

3.2.5. Lain-lain
Bedengan perlu disiangi, disiram dan diberi plastik mulsa dengan lebar 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuhnya tanaman liar. Di atas mulsa dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm untuk perambatan semangka dan peletakan buah.

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Pembuatan Lubang Tanaman
Dilakukan Satu minggu sebelum penanaman dengan kedalaman 8-10 cm. Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.

3.3.2. Waktu Penanaman
Penanaman sebaiknya pagi atau sore hari kemudian bibit disiram hingga cukup basah.

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Sebaiknya dilakukan 3 – 5 hari setelah tanam.

3.4.2. Penyiangan
Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak. Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder. Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah.

3.4.3. Perempelan
Dilakukan perempelan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang.

3.4.4. Pengairan dan Penyiraman
Pengairan melalui saluran diantara bedengan atau digembor dengan interval 4-6 hari. Volume pengairan tidak boleh berlebihan.

3.4.5. Pemupukan















































Waktu



Dosis Pupuk Makro (kg/ ha)



ZA



TSP



KCl



Susulan I (3 hari)



40



-



40



Susulan II Daun 4-6 helai



120



85



80



Susulan III Batang 45–55 cm



170



-



30



Susulan IV Tanaman bunga



130



-



30



Susulan V Buah masih pentil



80



-



30


POC NASA ( per ha )
Mulai umur 1 minggu – 6 atau 7 minggu
POC NASA disemprotkan ke tanaman alternatif 1: 6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 4 tutup botol/ tangki
alternatif 2: 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 tutup botol/ tangki

3.4.6. Waktu Penyemprotan HORMONIK
Semprotkan HORMONIK sejenis ZPT/hormon alami. Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-4 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan pada umur 21 – 70 hari, interval 7 hari sekali.

3.4.7. Pemeliharaan Lain
Pilih buah yang cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman, bentuk baik dan tidak cacat. Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas. Semenjak calon buah ± 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidakmerataan terkena sinar matahari.

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1 Hama
a. Thrips
Berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas. Cara penularan secara mengembara dimalam hari, menetap dan berkembang biak. Pengendalian: semprotkan Natural BVR atau Pestona.

b. Ulat Perusak Daun
Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning, gejala : daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang. Pengendalian: dilakukan penyemprotan Natural Vitura atau Pestona.

c. Tungau
Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan berukuran kecil mengisap cairan tanaman. Tandanya, tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun, warna dedaunan akan pucat. Pengendalian: semprot Natural BVR atau Pestona.

d. Ulat Tanah
Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm, aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun, terutama tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman. Pengendalian: (1) penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya; (2) pengendalian dengan penyemprotan Natural Vitura/Virexi atau Pestona.

e. Lalat Buah
Ciri-ciri mempunyai sayap yang transparan berwarna kuning dengan bercak-bercak dan mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan : terdapat bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai), daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar. Pengendalian : membersihkan lingkungan, tanah bekas hama dibalikan dengan dibajak/dicangkul, pemasangan perangkap lalat buah dan semprot Pestona.

3.5.2. Penyakit
a. Layu Fusarium
Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang terlalu lembab). Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan subur. Pengendalian: (1) dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami, (2) pemberian Natural GLIO sebelum atau pada saat tanam.

b. Bercak Daun
Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang. Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu. Pengendalian: seperti pada penyakit layu fusarium.

c. Antraknosa
Penyebab: seperti penyakit layu fusarium. Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas. Pengendalian: seperti pengendalian penyakit layu fusarium.

d. Busuk Semai
Menyerang pada benih yang sedang disemaikan. Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati. Pengendalian: pemberian Natural GLIO sebelum penyemaian di media semai.

e. Busuk Buah
Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik. Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan, pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan.

f. Karat Daun
Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman. Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang. Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia. Agar penyemprotan pestisida kimia dapat merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis + 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.

3.6. Panen
3.6.1.Ciri dan Umur Panen
Umur panen setelah 70-100 hari setelah penanaman. Ciri-cirinya: terjadi perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah tersebut bisa dipetik (dipanen).

3.6.2.Cara Panen
Pemetikan buah sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah sehingga buah dalam kondisi kering permukaan kulitnya, dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer. Sebaiknya pemotongan buah semangka dilakukan beserta tangkainya.

Teknik Budidaya Semangka Unggulan

SYARAT PERTUMBUHAN
2.1. Iklim
Curah hujan ideal 40-50 mm/bulan. Seluruh areal pertanaman perlu sinar matahari sejak terbit sampai tenggelam. Suhu optimal ± 250 C. Semangka cocok ditanam di dataran rendah hingga ketinggian 600 m dpl.

2.2. Media Tanam
Kondisi tanah cukup gembur, kaya bahan organik, bukan tanah asam dan tanah kebun/persawahan yang telah dikeringkan. Cocok pada jenis tanah geluh berpasir. Keasaman tanah (pH) 6 – 6,7.
III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
3.1. Pembibitan
3.1.1. Penyiapan Media Semai

- Siapkan Natural GLIO : 1-2 kemasan Natural GLIO dicampur dengan 25-50 kg pupuk kandang untuk lahan 1000 m2. Diamkan + 1 minggu di tempat teduh dengan selalu menjaga kelembabannya dan sesekali diaduk (dibalik).
- Campurkan tanah halus (telah diayak) 2 bagian atau 2 ember (volume 10 lt), pupuk kandang matang yang telah diayak halus sebanyak 1 bagian atau 1 ember, TSP (± 50 gr) yang dilarutkan dalam 2 tutup POC NASA, dan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang (1-3 kg) .Masukkan media semai ke dalam polybag kecil 8×10 cm sampai terisi hingga 90%.

3.1.2. Teknik Perkecambahan Benih
Benih dimasukkan ke dalam kain lalu diikat, kemudian direndam dalam ramuan : 1 liter air hangat suhu 20-250C + 1 sendok POC NASA (direndam 8-12 jam). Benih dalam ikatan diambil, dibungkus koran kemudian diperam 1-2 hari. Jika ada yang berkecambah diambil untuk disemaikan dan jika kering tambah air dan dibungkus kain kemudian dimasukkan koran lagi.

3.1.3. Semai Benih dan Pemeliharaan Bibit
- Media semai disiram air bersih secukupnya. Benih terpilih yang calon akarnya sudah sepanjang 2-3 mm, langsung disemai dalam polybag sedalam 1-1,5 cm.
- Kantong persemaian diletakkan berderet agar terkena sinar matahari penuh. Diberi perlindungan plastik transparan, salah satu ujung/pinggirnya terbuka.
- Semprotkan POC NASA untuk memacu perkembangan bibit, dilakukan rutin setiap 3 – 4 hari sekali. Penyiraman 1-2 kali sehari. Pada umur 12-14 hari bibit siap ditanam.

3.2. Pengolahan Media Tanam
3.2.1. Pembukaan Lahan
Pembajakan sedalam + 30 cm, dihaluskan dan diratakan. Bersihkan lahan dari sisa-sisa perakaran dan batu.

3.2.2. Pembentukan Bedengan
Lebar bedengan 6-8 m, tinggi bedengan minimum 20 cm.

3.2.3. Pengapuran
Penggunaan kapur per 1000 m2 pada pH tanah 4-5 diperlukan 150-200 kg dolomit , pH 5-6 dibutuhkan 75-150 kg dolomit dan pH >6 dibutuhkan dolomit sebanyak 50 kg.

3.2.4. Pemupukan Dasar
a. Pupuk kandang 600 kg/ha, diberikan pada permukaan bedengan kurang lebih seminggu sebelum tanam.
b. Pupuk anorganik berupa TSP (200 kg/ha), ZA (140 kg/ha) dan KCl (130 kg/ha).
c. Siramkan POC NASA yang telah dicampur air secukupnya diatas bedengan dengan dosis + 1-2 botol/1000 m2. Hasil akan lebih bagus jika POC NASA digantikan SUPER NASA, dosis 1-2 botol/1000 m2 dengan cara :
Alternatif 1 : 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 3 liter air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 50 lt air diberi 200 cc larutan induk tadi untuk menyiram bedengan.
Alternatif 2 : setiap 1 gembor volume 10 lt diberi 1 peres sendok makan SUPER NASA untuk menyiram + 10 meter bedengan.

3.2.5. Lain-lain
Bedengan perlu disiangi, disiram dan diberi plastik mulsa dengan lebar 110-150 cm agar menghambat penguapan air dan tumbuhnya tanaman liar. Di atas mulsa dilapisi jerami kering setebal 2-3 cm untuk perambatan semangka dan peletakan buah.

3.3. Teknik Penanaman
3.3.1. Pembuatan Lubang Tanaman
Dilakukan Satu minggu sebelum penanaman dengan kedalaman 8-10 cm. Berjarak 20-30 cm dari tepi bedengan dengan jarak antara lubang sekitar 90-100 cm.

3.3.2. Waktu Penanaman
Penanaman sebaiknya pagi atau sore hari kemudian bibit disiram hingga cukup basah.

3.4. Pemeliharaan Tanaman
3.4.1. Penyulaman
Sebaiknya dilakukan 3 – 5 hari setelah tanam.

3.4.2. Penyiangan
Tanaman semangka cukup mempunyai dua buah saja, dengan pengaturan cabang primer yang cenderung banyak. Dipelihara 2-3 cabang tanpa memotong ranting sekunder. Perlu penyiangan pada ranting yang tidak berguna, ujung cabang sekunder dipangkas dan disisakan 2 helai daun. Cabang sekunder yang tumbuh pada ruas yang ada buah dipotong karena mengganggu pertumbuhan buah.

3.4.3. Perempelan
Dilakukan perempelan tunas-tunas muda yang tidak berguna karena mempengaruhi pertumbuhan pohon/buah semangka yang sedang berkembang.

3.4.4. Pengairan dan Penyiraman
Pengairan melalui saluran diantara bedengan atau digembor dengan interval 4-6 hari. Volume pengairan tidak boleh berlebihan.

3.4.5. Pemupukan















































Waktu



Dosis Pupuk Makro (kg/ ha)



ZA



TSP



KCl



Susulan I (3 hari)



40



-



40



Susulan II Daun 4-6 helai



120



85



80



Susulan III Batang 45–55 cm



170



-



30



Susulan IV Tanaman bunga



130



-



30



Susulan V Buah masih pentil



80



-



30


POC NASA ( per ha )
Mulai umur 1 minggu – 6 atau 7 minggu
POC NASA disemprotkan ke tanaman alternatif 1: 6-7 kali ( interval 1 minggu sekali) dgn dosis 4 tutup botol/ tangki
alternatif 2: 4 kali (interval 2 minggu sekali ) dgn dosis 6 tutup botol/ tangki

3.4.6. Waktu Penyemprotan HORMONIK
Semprotkan HORMONIK sejenis ZPT/hormon alami. Dosis HORMONIK : 1-2 cc/lt air atau 1-2 tutup HORMONIK + 3-4 tutup POC NASA setiap tangki semprot. Penyemprotan pada umur 21 – 70 hari, interval 7 hari sekali.

3.4.7. Pemeliharaan Lain
Pilih buah yang cukup besar, terletak antara 1,0-1,5 m dari perakaran tanaman, bentuk baik dan tidak cacat. Setiap tanaman diperlukan calon buah 1-2 buah, sisanya di pangkas. Semenjak calon buah ± 2 kg sering dibalik guna menghindari warna yang kurang baik akibat ketidakmerataan terkena sinar matahari.

3.5. Hama dan Penyakit
3.5.1 Hama
a. Thrips
Berukuran kecil ramping, warna kuning pucat kehitaman, mempunyai sungut badan beruas-ruas. Cara penularan secara mengembara dimalam hari, menetap dan berkembang biak. Pengendalian: semprotkan Natural BVR atau Pestona.

b. Ulat Perusak Daun
Berwarna hijau dengan garis hitam/berwarna hijau bergaris kuning, gejala : daun dimakan sampai tinggal lapisan lilinnya dan terlihat dari jauh seperti berlubang. Pengendalian: dilakukan penyemprotan Natural Vitura atau Pestona.

c. Tungau
Binatang kecil berwarna merah agak kekuningan/kehijauan berukuran kecil mengisap cairan tanaman. Tandanya, tampak jaring-jaring sarang binatang ini di bawah permukaan daun, warna dedaunan akan pucat. Pengendalian: semprot Natural BVR atau Pestona.

d. Ulat Tanah
Berwarna hitam berbintik-bintik/bergaris-garis, panjang tubuh 2-5 cm, aktif merusak dan bergerak pada malam hari. Menyerang daun, terutama tunas-tunas muda, ulat dewasa memangsa pangkal tanaman. Pengendalian: (1) penanaman secara serempak pada daerah yang berdekatan untuk memutus siklus hidup hama dan pemberantasan sarang ngengat disekitarnya; (2) pengendalian dengan penyemprotan Natural Vitura/Virexi atau Pestona.

e. Lalat Buah
Ciri-ciri mempunyai sayap yang transparan berwarna kuning dengan bercak-bercak dan mempunyai belalai. Tanda-tanda serangan : terdapat bekas luka pada kulit buah (seperti tusukan belalai), daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar. Pengendalian : membersihkan lingkungan, tanah bekas hama dibalikan dengan dibajak/dicangkul, pemasangan perangkap lalat buah dan semprot Pestona.

3.5.2. Penyakit
a. Layu Fusarium
Penyebab: lingkungan/situasi yang memungkinkan tumbuh jamur (hawa yang terlalu lembab). Gejala: timbul kebusukan pada tanaman yang tadinya lebat dan subur. Pengendalian: (1) dengan pergiliran masa tanam dan menjaga kondisi lingkungan, menanam pada areal baru yang belum ditanami, (2) pemberian Natural GLIO sebelum atau pada saat tanam.

b. Bercak Daun
Penyebab: spora bibit penyakit terbawa angin dari tanaman lain yang terserang. Gejala: permukaan daun terdapat bercak-bercak kuning dan selanjutnya menjadi coklat akhirnya mengering dan mati, atau terdapat rumbai-rumbai halus berwarna abu-abu/ungu. Pengendalian: seperti pada penyakit layu fusarium.

c. Antraknosa
Penyebab: seperti penyakit layu fusarium. Gejala: daun terlihat bercak-bercak coklat yang akhirnya berubah warna kemerahan dan akhirnya daun mati. Bila menyerang buah, tampak bulatan berwarna merah jambu yang lama kelamaan semakin meluas. Pengendalian: seperti pengendalian penyakit layu fusarium.

d. Busuk Semai
Menyerang pada benih yang sedang disemaikan. Gejala: batang bibit berwarna coklat, merambat dan rebah kemudian mati. Pengendalian: pemberian Natural GLIO sebelum penyemaian di media semai.

e. Busuk Buah
Penyebab: jamur/bakteri patogen yang menginfeksi buah menjelang masak dan aktif setelah buah mulai dipetik. Pengendalian: hindari dan cegah terjadinya kerusakan kulit buah, baik selama pengangkutan maupun penyimpanan, pemetikan buah dilakukan pada waktu siang hari tidak berawan/hujan.

f. Karat Daun
Penyebab: virus yang terbawa oleh hama tanaman yang berkembang pada daun tanaman. Gejala: daun melepuh, belang-belang, cenderung berubah bentuk, tanaman kerdil dan timbul rekahan membujur pada batang. Pengendalian: sama seperti penyakit layu fusarium.
Catatan : Jika pengendalian hama penyakit menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia. Agar penyemprotan pestisida kimia dapat merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810 dengan dosis + 5 ml ( 1/2 tutup)/tangki.

3.6. Panen
3.6.1.Ciri dan Umur Panen
Umur panen setelah 70-100 hari setelah penanaman. Ciri-cirinya: terjadi perubahan warna buah, dan batang buah mulai mengecil maka buah tersebut bisa dipetik (dipanen).

3.6.2.Cara Panen
Pemetikan buah sebaiknya dilakukan pada saat cuaca cerah sehingga buah dalam kondisi kering permukaan kulitnya, dan tahan selama dalam penyimpananan ataupun ditangan para pengecer. Sebaiknya pemotongan buah semangka dilakukan beserta tangkainya.

Peluang Usaha Budidaya Jahe Gajah

Peluang Usaha Budidaya Jahe Gajah memiliki masa depan yang cukup menjanjikan. Jahe gajah banyak sekali manfaatnya diantaranya adalah sebagai bahan kosmetika, obat-obatan, bahan campuran makanan dan minuman dan juga sebagai bahan baku dalam kegiatan industri. Permintaan pasar akan jahe gajah sangat besar sebab kegiatan industri obat-obatan baik moderen maupun tradisional berkembang pesat begitu juga dengan kegiatan industri lainnya yang banyak bermunculan yang bahan bakunya adalah jahe.

Jahe Gajah merupakan jahe yang paling disukai di pasaran internasional. Bentuknya besar gemuk dan rasanya tidak terlalu pedas. Daging rimpang berwarna kuning hingga putih. Peluang usaha budidaya jahe gajah prospek bagusnya tidak hanya di pasaran dalam negeri saja tapi pasar internasionalpun prospeknya sangat cerah. Jahe gajah berpotensi sebagai komoditas export yang dikirim dalam bentuk segar, kering, asinan, minyak atsiri dan oleoresin. Negara pengimport jahe gajah saat ini adalah Singapura, Jepang, Jerman, USA, Kanada, Maroko, Perancis, Hongkong dan Belanda. Dengan demikian Usaha jahe Gajah memiliki prospek dan potensi usaha yang cukup menjanjikan.

Budidaya jahe gajah memerlukan lahan yang luas, namun budidaya jahe gajah tidak memerlukan banyak pengobatan dan pemupukan, untuk lebih jelasnya tentang cara budidaya jahe gajah dapat anda simak Di Sini.

Iklim di indonesia sangat cocok untuk budidaya jahe, oleh sebab itu peluang usaha budidaya jahe gajah ini sangat besar. Jahe gajah memiliki prospek dan potensi produksi cukup tinggi yaitu mencapai 25 ton / hektar bahkan dengan teknologi intensif hasil produksi mencapai 60 ton / hektar. Oleh karena itu jahe gajah dapat lebih dikembangkan sebagai salah satu komoditas unggulan yang mampu memberikan harapan dan nilai ekonomis yang tinggi.

Peluang Usaha Budidaya Jahe Gajah

Peluang Usaha Budidaya Jahe Gajah memiliki masa depan yang cukup menjanjikan. Jahe gajah banyak sekali manfaatnya diantaranya adalah sebagai bahan kosmetika, obat-obatan, bahan campuran makanan dan minuman dan juga sebagai bahan baku dalam kegiatan industri. Permintaan pasar akan jahe gajah sangat besar sebab kegiatan industri obat-obatan baik moderen maupun tradisional berkembang pesat begitu juga dengan kegiatan industri lainnya yang banyak bermunculan yang bahan bakunya adalah jahe.

Jahe Gajah merupakan jahe yang paling disukai di pasaran internasional. Bentuknya besar gemuk dan rasanya tidak terlalu pedas. Daging rimpang berwarna kuning hingga putih. Peluang usaha budidaya jahe gajah prospek bagusnya tidak hanya di pasaran dalam negeri saja tapi pasar internasionalpun prospeknya sangat cerah. Jahe gajah berpotensi sebagai komoditas export yang dikirim dalam bentuk segar, kering, asinan, minyak atsiri dan oleoresin. Negara pengimport jahe gajah saat ini adalah Singapura, Jepang, Jerman, USA, Kanada, Maroko, Perancis, Hongkong dan Belanda. Dengan demikian Usaha jahe Gajah memiliki prospek dan potensi usaha yang cukup menjanjikan.

Budidaya jahe gajah memerlukan lahan yang luas, namun budidaya jahe gajah tidak memerlukan banyak pengobatan dan pemupukan, untuk lebih jelasnya tentang cara budidaya jahe gajah dapat anda simak Di Sini.

Iklim di indonesia sangat cocok untuk budidaya jahe, oleh sebab itu peluang usaha budidaya jahe gajah ini sangat besar. Jahe gajah memiliki prospek dan potensi produksi cukup tinggi yaitu mencapai 25 ton / hektar bahkan dengan teknologi intensif hasil produksi mencapai 60 ton / hektar. Oleh karena itu jahe gajah dapat lebih dikembangkan sebagai salah satu komoditas unggulan yang mampu memberikan harapan dan nilai ekonomis yang tinggi.

Peluang Usaha – Budidaya Tomat Cherry Hidroponik

Peluang usahabudidaya tomat cherry hidroponik ini saat ini masih cukup terbuka lebar karena tergolong baru dan belum banyak orang yang membudidayakannya . Tomat Cherry menjadi pilihan karena rasanya yang manis , crispy , berwarna merah dan ukurannya mini . Bisa di panen 2-3 bulan dan pemeliharaanya ringan dan mudah. Salah satu pelaku usaha ini adalah PT Kebun sayur segar . Untuk membudidayakan tomat cherry yang perlu diperhatikan adalah :

1. Syarat Lingkungan

Tomat cherry cocok di tanam pada daerah ketinggian 600-1500 m dpl dan bersuhu 17 -28 derajat Celcius.

2. Penyemaian dan Penanaman

Biji tomat cherry terlebih dahulu dijadikan bibit selama satu bulan. Penyemaian bibit menggunakan tray ( wadah persemaian berbentuk kotak bersekat berbahan plastik ) yang diisi dengan media tanam berupa rock wool ( bentuknya mirip sabut kelapa ) . Setelah satu bulan dan tinggi mencapai 15 cm barulah bibit bida dipindahkan ke lokasi tanam didalam green house . Bibit tersebut ditanam dalam polybag ukuran 30 -35 cm berisi arang sekam yg disusun berjajar.

3. Pemeliharaan

Selama pemeliharaan kondisi green house usahakan selalu terturup dan steril agar tanaman tidak terserang penyakit . Pengecekan tanaman harus rutin terutama terhadap serangga dan membuang daun tua supaya areal tanam tetap bersih dan juga buang buah yg sudah penyok bekas kena kuku atau pecah . Untuk penyiraman tanaman tomat dilakukan bersamaan dengan pemupukan menggunakan alat drip irigation ( irigasi tetes ). Pupuk dilarutkan dalam air dan disiramkan ke tanaman. Sehari penyiraman dilakukan 2 kali dan dikondisi yang panas bisa 3 kali sehari.

Pupuk yang digunakan adalah pupuk khusus hidroponik yang disebut larutan AB mix. Takarannya pupuk cair diencerkan dengan air dengan komposisi air = X ml pupuk x 200 . Misal larutan pupuk A 5ml , pupuk B 5 ml maka airnya = 5 x 200 = 1000 ml . Untuk memupuk 500 tanaman dibutuhkan 45 liter pupuk AB mix yg diperlukan dalam 1 bulan .

4. Panen

tomat cherrySetelah lama penyemaian benih menjadi bibit selama 1 bulan dan dalam 2 – 3 bulan kemudian sudah bisa dilakukan panen perdana. Tanaman ini dipanen 2 hari sekali sampai sekitar 5 -6 bulan lamanya. Jadi total produktivitas tomat cherry sekitar 10 bulan dan setelah itu harus diganti bibit baru. Sebelum tanaman diganti agar terus menerus bisa kontinue panen sebaiknya disiapkan penyemaian baru 4 bulan sebelumnya . Buah yg dipanen tidak ush dicuci untuk mencegah kebusukan tapi cukup dilap agar bersih dan langsung dikemas , baik dengan styrofoam dibungkus plastik wrapping. Untuk suhu penyimpanan tomat cherry yang baik sekitar 5 – 10 derajat C , yg akan membuat tomat cherry bertahan 1 -2 minggu lamanya.

5. Pemasaran

Selama ini menurut pengalaman PT Kebun Sayur segar Tomat cherry terserap oleh pasar yaitu beberapa pasar modern seperti Hero , Sogo , Hypermart , Yogya dan Carefour seputar Jobodetabek dan bandung. Selain itu bisa dipasarkan ke restoran dan pelaku usaha catering .

6. Kendala dan resiko

Selama ini kendala datang dari perubahan cuaca yang drastis yang mempengaruhi kondisi buah . Misalkan dari kondisi mendung dan berubah ke kondisi kering maka akan membuat buah tomat pecah dan berjamur . Selama ini yang biasa dilakukan adalah kontrol routin kondisi tanaman , buah yg pecah harus segera dibuang dan penyiraman tambahan harus dilakukan jika kondidi cuaca sangat kering.

Peluang Usaha – Budidaya Tomat Cherry Hidroponik

Peluang usahabudidaya tomat cherry hidroponik ini saat ini masih cukup terbuka lebar karena tergolong baru dan belum banyak orang yang membudidayakannya . Tomat Cherry menjadi pilihan karena rasanya yang manis , crispy , berwarna merah dan ukurannya mini . Bisa di panen 2-3 bulan dan pemeliharaanya ringan dan mudah. Salah satu pelaku usaha ini adalah PT Kebun sayur segar . Untuk membudidayakan tomat cherry yang perlu diperhatikan adalah :

1. Syarat Lingkungan

Tomat cherry cocok di tanam pada daerah ketinggian 600-1500 m dpl dan bersuhu 17 -28 derajat Celcius.

2. Penyemaian dan Penanaman

Biji tomat cherry terlebih dahulu dijadikan bibit selama satu bulan. Penyemaian bibit menggunakan tray ( wadah persemaian berbentuk kotak bersekat berbahan plastik ) yang diisi dengan media tanam berupa rock wool ( bentuknya mirip sabut kelapa ) . Setelah satu bulan dan tinggi mencapai 15 cm barulah bibit bida dipindahkan ke lokasi tanam didalam green house . Bibit tersebut ditanam dalam polybag ukuran 30 -35 cm berisi arang sekam yg disusun berjajar.

3. Pemeliharaan

Selama pemeliharaan kondisi green house usahakan selalu terturup dan steril agar tanaman tidak terserang penyakit . Pengecekan tanaman harus rutin terutama terhadap serangga dan membuang daun tua supaya areal tanam tetap bersih dan juga buang buah yg sudah penyok bekas kena kuku atau pecah . Untuk penyiraman tanaman tomat dilakukan bersamaan dengan pemupukan menggunakan alat drip irigation ( irigasi tetes ). Pupuk dilarutkan dalam air dan disiramkan ke tanaman. Sehari penyiraman dilakukan 2 kali dan dikondisi yang panas bisa 3 kali sehari.

Pupuk yang digunakan adalah pupuk khusus hidroponik yang disebut larutan AB mix. Takarannya pupuk cair diencerkan dengan air dengan komposisi air = X ml pupuk x 200 . Misal larutan pupuk A 5ml , pupuk B 5 ml maka airnya = 5 x 200 = 1000 ml . Untuk memupuk 500 tanaman dibutuhkan 45 liter pupuk AB mix yg diperlukan dalam 1 bulan .

4. Panen

tomat cherrySetelah lama penyemaian benih menjadi bibit selama 1 bulan dan dalam 2 – 3 bulan kemudian sudah bisa dilakukan panen perdana. Tanaman ini dipanen 2 hari sekali sampai sekitar 5 -6 bulan lamanya. Jadi total produktivitas tomat cherry sekitar 10 bulan dan setelah itu harus diganti bibit baru. Sebelum tanaman diganti agar terus menerus bisa kontinue panen sebaiknya disiapkan penyemaian baru 4 bulan sebelumnya . Buah yg dipanen tidak ush dicuci untuk mencegah kebusukan tapi cukup dilap agar bersih dan langsung dikemas , baik dengan styrofoam dibungkus plastik wrapping. Untuk suhu penyimpanan tomat cherry yang baik sekitar 5 – 10 derajat C , yg akan membuat tomat cherry bertahan 1 -2 minggu lamanya.

5. Pemasaran

Selama ini menurut pengalaman PT Kebun Sayur segar Tomat cherry terserap oleh pasar yaitu beberapa pasar modern seperti Hero , Sogo , Hypermart , Yogya dan Carefour seputar Jobodetabek dan bandung. Selain itu bisa dipasarkan ke restoran dan pelaku usaha catering .

6. Kendala dan resiko

Selama ini kendala datang dari perubahan cuaca yang drastis yang mempengaruhi kondisi buah . Misalkan dari kondisi mendung dan berubah ke kondisi kering maka akan membuat buah tomat pecah dan berjamur . Selama ini yang biasa dilakukan adalah kontrol routin kondisi tanaman , buah yg pecah harus segera dibuang dan penyiraman tambahan harus dilakukan jika kondidi cuaca sangat kering.
Senin, 30 April 2012

Cara Budidaya Oyong

Oyong (Luffa acutangula) atau ridged gourd, disebut juga gambas. Tanaman ini termasuk dalam famili Cucubitaceae, berasal dari India, namun telah beradabtasi baik di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Bagian yang dapat dimakan dari gambas adalah buah muda, daunnya digunakan untuk lalap atau dapat juga digunakan untuk obat demam.
Tanaman oyong merupakan tanaman setahun dan tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi, dapat ditanam disawah dan tegalan. Tanaman ini merupakan tanaman memanjat/ merambat. Tanaman oyong membutuhkan iklim yang kering, dengan ketersedian air yang cukup sepanjang musim. Lingkungan tumbuh ideal bagi tanaman oyong adalah di daerah yang bersuhu 18-240C, kelembaban 50-60%. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman oyong membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus, beraerasi dan berdrainase baik, serta mempunyai pH 5,5-6,8. Tanah yang paling ideal adalah jenis tanah liat berpasir, seperti tanah latosol dan aluvial.

Cara Budidaya Oyong

Pembuatan Benih Oyong

Untuk membuat benih sendiri dapat dilakukan dengan melakukan panen oyong kurang lebih 110 hari setelah semai ditandai dengan buah telah berwarna coklat, kering, bijinya berwarna hitam. Buah dipotong melintang, bijinya dikeluarkan, dibungkus kertas dikeringkan hingga kadar air mencapai 8%. Bijinya disimpan di stoples dan ditutup rapat yang telah diisi desikan berupa arang
atau abu sekam.

Persemaian Oyong

Oyong diperbanyak dengan biji, dapat ditanam langsung kelapangan dengan menggunakan para-para atau teralis untuk tempat merambatnya sulur. Apabila rambatan belum siap dan persediaan benih terbatas, benih dapat disemaikan dulu menggunakan kantong plastik hitam yang berdiameter 5 cm yang diisi 2 benih/kantung. Bibit dapat dipindahkan kelapangan setelah berumur 15-21 hari atau setelah berdaun 3-5 helai.

Pengolahan Tanah Untuk Oyong

Sistem lubang tanam. Tanah dicangkul sampai gembur. Buat lubang tanam dengan ukuran 20 x 60 cm atau 20 x 10 cm. masukan pupuk organik 0,5-1 kg/lubang tanam. Sistim bedengan. Tanah dicangkul hingga gembur, kemudian buat bedengan dengan ukuran lebar 260 cm, panjang disesuaikan dengan keadaan lahan, tinggi 30 cm, dan jarak antara bedengan 60 cm. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 20 x 60 cm atau 20 x 10 cm kemudian masukkan pupuk organik 0,5-1 kg/lubang tanam.

Penanaman dan Pemupukan Oyong

Benih ditanam langsung atau melalui persemain terlebih dahulu. Bila ditanam secara langsung masukkan biji oyong 2-3 butir tiap lubang tanam, kemudian ditutup dengan tanah setebal 1,5 cm. Selama satu musim pupuk yang digunakan adalah NPK (16:16:16) 300 kg + Urea 100 kg/ha. Pemupukan dilakukan pada saat tanam, 2, 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam dengan dosis masing-masing seperlima takaran. Pada musim kemaru pemupukan dianjurkan secara kocor.

Pemeliharaan Tanaman Oyong

Pemasangan rambatan atau para-para dilakukan saat tanaman berumur 10-15 hari setelah tanam. Para-para bisa berbentuk A, setengah lengkung, lengkungan atau persegi panjang. Bila diperlukan lakukan pemangkasan pada tanaman oyong yang daunnya terlalu rimbun. Penyiraman dilakukan disesuaikan dengan kondisi tanaman. Penyiangan disesuaikan dengan keadaan gulma, dapat dilakukan secara manual dengan tangan atau cangkul.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada Oyong

OPT penting yang meyerang tanaman oyong antara lain kumbang daun, ulat grayak, ulat tanah, lalat buah, busuk daun, embun tepung antraknos, layu bakteri dan virus mosaik. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Bila harus menggunakan pestisida, gunakan pestisida yang relative aman sesuai rekomendasi dan penggunaan pestisida hendaknya tepat dalam pemilihan jenis, dosis, volume semprot, waktu aplikasi, interval aplikasi serta cara aplikasinya.
Panen dan Pasca Panen Oyong

Pemanenan oyong dapat dilakukan berulang-ulang. Panen pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 40-70 hari setelah 33 Budidaya Tanaman Sayuran tanam. Ciri-ciri umum buah oyong yang siap dipanen antara lain adalah buah berukuran maksimum, tidak terlalu tua, belum berserat, dan mudah dipatahkan. Produksi buah oyong setiap tanaman mencapai 15-20 buah atau 8-12 ton per hektar. Buah oyong mudah rusak sehingga pengemasan yang baik diperlukan untuk memperpanjang daya simpan, terutama jika untuk pengiriman jarak jauh. Pada suhu 12-16oC, buah oyong bisa disimpan sampai 2-3 minggu.
Rumput Liar BUDIDAYA, Oyong, PERTANIAN

Cara Budidaya Oyong

Oyong (Luffa acutangula) atau ridged gourd, disebut juga gambas. Tanaman ini termasuk dalam famili Cucubitaceae, berasal dari India, namun telah beradabtasi baik di Asia Tenggara termasuk Indonesia. Bagian yang dapat dimakan dari gambas adalah buah muda, daunnya digunakan untuk lalap atau dapat juga digunakan untuk obat demam.
Tanaman oyong merupakan tanaman setahun dan tumbuh dari dataran rendah hingga dataran tinggi, dapat ditanam disawah dan tegalan. Tanaman ini merupakan tanaman memanjat/ merambat. Tanaman oyong membutuhkan iklim yang kering, dengan ketersedian air yang cukup sepanjang musim. Lingkungan tumbuh ideal bagi tanaman oyong adalah di daerah yang bersuhu 18-240C, kelembaban 50-60%. Untuk mendapatkan hasil yang optimal, tanaman oyong membutuhkan tanah yang subur, gembur, banyak mengandung humus, beraerasi dan berdrainase baik, serta mempunyai pH 5,5-6,8. Tanah yang paling ideal adalah jenis tanah liat berpasir, seperti tanah latosol dan aluvial.

Cara Budidaya Oyong

Pembuatan Benih Oyong

Untuk membuat benih sendiri dapat dilakukan dengan melakukan panen oyong kurang lebih 110 hari setelah semai ditandai dengan buah telah berwarna coklat, kering, bijinya berwarna hitam. Buah dipotong melintang, bijinya dikeluarkan, dibungkus kertas dikeringkan hingga kadar air mencapai 8%. Bijinya disimpan di stoples dan ditutup rapat yang telah diisi desikan berupa arang
atau abu sekam.

Persemaian Oyong

Oyong diperbanyak dengan biji, dapat ditanam langsung kelapangan dengan menggunakan para-para atau teralis untuk tempat merambatnya sulur. Apabila rambatan belum siap dan persediaan benih terbatas, benih dapat disemaikan dulu menggunakan kantong plastik hitam yang berdiameter 5 cm yang diisi 2 benih/kantung. Bibit dapat dipindahkan kelapangan setelah berumur 15-21 hari atau setelah berdaun 3-5 helai.

Pengolahan Tanah Untuk Oyong

Sistem lubang tanam. Tanah dicangkul sampai gembur. Buat lubang tanam dengan ukuran 20 x 60 cm atau 20 x 10 cm. masukan pupuk organik 0,5-1 kg/lubang tanam. Sistim bedengan. Tanah dicangkul hingga gembur, kemudian buat bedengan dengan ukuran lebar 260 cm, panjang disesuaikan dengan keadaan lahan, tinggi 30 cm, dan jarak antara bedengan 60 cm. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 20 x 60 cm atau 20 x 10 cm kemudian masukkan pupuk organik 0,5-1 kg/lubang tanam.

Penanaman dan Pemupukan Oyong

Benih ditanam langsung atau melalui persemain terlebih dahulu. Bila ditanam secara langsung masukkan biji oyong 2-3 butir tiap lubang tanam, kemudian ditutup dengan tanah setebal 1,5 cm. Selama satu musim pupuk yang digunakan adalah NPK (16:16:16) 300 kg + Urea 100 kg/ha. Pemupukan dilakukan pada saat tanam, 2, 4, 6 dan 8 minggu setelah tanam dengan dosis masing-masing seperlima takaran. Pada musim kemaru pemupukan dianjurkan secara kocor.

Pemeliharaan Tanaman Oyong

Pemasangan rambatan atau para-para dilakukan saat tanaman berumur 10-15 hari setelah tanam. Para-para bisa berbentuk A, setengah lengkung, lengkungan atau persegi panjang. Bila diperlukan lakukan pemangkasan pada tanaman oyong yang daunnya terlalu rimbun. Penyiraman dilakukan disesuaikan dengan kondisi tanaman. Penyiangan disesuaikan dengan keadaan gulma, dapat dilakukan secara manual dengan tangan atau cangkul.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) pada Oyong

OPT penting yang meyerang tanaman oyong antara lain kumbang daun, ulat grayak, ulat tanah, lalat buah, busuk daun, embun tepung antraknos, layu bakteri dan virus mosaik. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Bila harus menggunakan pestisida, gunakan pestisida yang relative aman sesuai rekomendasi dan penggunaan pestisida hendaknya tepat dalam pemilihan jenis, dosis, volume semprot, waktu aplikasi, interval aplikasi serta cara aplikasinya.
Panen dan Pasca Panen Oyong

Pemanenan oyong dapat dilakukan berulang-ulang. Panen pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 40-70 hari setelah 33 Budidaya Tanaman Sayuran tanam. Ciri-ciri umum buah oyong yang siap dipanen antara lain adalah buah berukuran maksimum, tidak terlalu tua, belum berserat, dan mudah dipatahkan. Produksi buah oyong setiap tanaman mencapai 15-20 buah atau 8-12 ton per hektar. Buah oyong mudah rusak sehingga pengemasan yang baik diperlukan untuk memperpanjang daya simpan, terutama jika untuk pengiriman jarak jauh. Pada suhu 12-16oC, buah oyong bisa disimpan sampai 2-3 minggu.
Rumput Liar BUDIDAYA, Oyong, PERTANIAN

Cara Budidaya Kol

Kol (Brassica oleracea L) merupakan tanaman semusim atau lebih yang berbentuk perdu. Saat ini jenis yang banyak dikembangkan adalah kol krop dan kol bunga. Kol berdaun hijau banyak mengandung vitamin C, sementara kol putih merupakan sumber vitamin A dan kol bunga sumber vitamin B. Kol hanya baik jika ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian antara 1000-3000 mdpl (dari permukaan laut). Syarat yang penting untuk dipenuhi yaitu, tanahnya gembur, bersarang, mengandung bahan organik, serta suhu udara rendah dan lembab. pH tanah antara 6-7.

Cara Budidaya Kol

Persemaian/Pembibitan Tanaman Kol

Siapkan tempat persemaian, berupa bedengan dengan media semai setebal ± 7 cm, dibuat dari pupuk organik dan tanah halus dengan perbandingan 1:1 serta diberi naungan. Benih direndam dalam larutan Frevikur N (0,1%) selama ± 2 jam, kemudian dikeringkan. Benih disebar merata di atas bedengan persemaian yang telah disiram dahulu, lalu ditutup dengan media semai,
sebaiknya diberi naungan/atap screen. Setelah bibit tumbuh dapat juga dipindahkan kedalam bumbunan yang terbuat dari daun pisang/pot plastik dengan media yang sama.

Persiapan Lahan Tanaman Kol

Lakukan pengolahan tanah dengan cangkul sedalam 20-30 cm. Buat bedengan membujur dari Barat ke Timur dengan lebar 100-120 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai keadaan lahan sebaiknya tidak lebih 15 m. Jarak antara bedengan 40 cm. Lakukan pengapuran (kapur kalsit/dolomite) 2-4 minggu sebelum tanam dengan takaran 1-2 ton/ha jika pH tanah kurang dari 5,5.

Penanaman Tanaman Kol

Jarak tanam 50×50 cm untuk jenis bertajuk lebar dan 45x65cm untuk jenis bertajuk tegak. Penanaman bibit yang telah memiliki 3-5 helai daun atau berumur satu bulan dilakukan pada waktu pagi atau sore hari, satu lubang tanam diisi satu bibit.

Pemupukan Tanaman Kol

Tiga hari sebelum tanam diberikan pupuk organik (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan takaran 4 kg/m2. Dua minggu setelah tanam berikan pupuk susulan Urea 4 gram + ZA 9 gram, SP-36 9 gram dan KCl 7 gram per tanaman. Empat minggu setelah tanam berikan pupuk susulan Urea 2 gram + ZA 4,5 gram per tanaman. Dapat ditambahkan pupuk cair 5 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 10, 20 dan 30 hari setelah tanam.

Pemeliharaan Tanaman Kol

Penyulaman dilakukan pada tanaman rusak (tidak sehat) atau yang mati, sampai tanaman berumur 10 hari. Penyiangan pada umur 2 dan 4 minggu setelah tanam disesuaikan dengan keadaan gulma. Perempelan seawal mungkin agar ukuran dan kualitas bunga terbentuk optimal. Setelah terbentuk massa bunga, daun tua diikat agar massa bunga ternaungi dari cahaya matahari untuk mempertahankan warna bunga supaya tetap putih. Pengairan dan Penyiraman diberikan pada pagi atau sore hari. Pada musim kemarau penyiraman 1-2 kali sehari terutama saat fase pertumbuhan awal dan pembentukan bunga.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Kol

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman : dengan cara terpadu: pergiliran tanaman dengan tanaman selain famili Cruciferae, menyebarkan mikroba musuh alami. Pengendalian penyakit dilakukan dengan memilih bibit bebas penyakit, sanitasi kebun, rotasi tanaman, menghindari tanaman dari kerusakan mekanis/gigitan serangga, melakukan sterilisasi media semai/lahan
kebun, pengapuran pada tanah masam dan mencabut tanaman yang terserang penyakit. Kalau terpaksa menggunakan pestisida, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

Panen dan Pasca panen Tanaman Kol

Tanaman dipanen apabila bunga sudah padat dan kompak. dilakukan dengan memotong bagian pangkal batang dan sisakan 6-7 helai daun untuk pembungkus bunga. Tanaman yang baru dipanen, ditempatkan di tempat yang teduh agar tidak cepat layu. Dilakukan sortasi untuk memisahkan bagian tanaman tua, busuk atau sakit. Penyimpanan menggunakan wadah keranjang bambu, wadah plastik atau karton yang berlubang-lubang untuk menjaga sirkulasi udara.
Rumput Liar BUDIDAYA, Kol, PERTANIAN

Cara Budidaya Kol

Kol (Brassica oleracea L) merupakan tanaman semusim atau lebih yang berbentuk perdu. Saat ini jenis yang banyak dikembangkan adalah kol krop dan kol bunga. Kol berdaun hijau banyak mengandung vitamin C, sementara kol putih merupakan sumber vitamin A dan kol bunga sumber vitamin B. Kol hanya baik jika ditanam di dataran tinggi dengan ketinggian antara 1000-3000 mdpl (dari permukaan laut). Syarat yang penting untuk dipenuhi yaitu, tanahnya gembur, bersarang, mengandung bahan organik, serta suhu udara rendah dan lembab. pH tanah antara 6-7.

Cara Budidaya Kol

Persemaian/Pembibitan Tanaman Kol

Siapkan tempat persemaian, berupa bedengan dengan media semai setebal ± 7 cm, dibuat dari pupuk organik dan tanah halus dengan perbandingan 1:1 serta diberi naungan. Benih direndam dalam larutan Frevikur N (0,1%) selama ± 2 jam, kemudian dikeringkan. Benih disebar merata di atas bedengan persemaian yang telah disiram dahulu, lalu ditutup dengan media semai,
sebaiknya diberi naungan/atap screen. Setelah bibit tumbuh dapat juga dipindahkan kedalam bumbunan yang terbuat dari daun pisang/pot plastik dengan media yang sama.

Persiapan Lahan Tanaman Kol

Lakukan pengolahan tanah dengan cangkul sedalam 20-30 cm. Buat bedengan membujur dari Barat ke Timur dengan lebar 100-120 cm, tinggi 30 cm dan panjang sesuai keadaan lahan sebaiknya tidak lebih 15 m. Jarak antara bedengan 40 cm. Lakukan pengapuran (kapur kalsit/dolomite) 2-4 minggu sebelum tanam dengan takaran 1-2 ton/ha jika pH tanah kurang dari 5,5.

Penanaman Tanaman Kol

Jarak tanam 50×50 cm untuk jenis bertajuk lebar dan 45x65cm untuk jenis bertajuk tegak. Penanaman bibit yang telah memiliki 3-5 helai daun atau berumur satu bulan dilakukan pada waktu pagi atau sore hari, satu lubang tanam diisi satu bibit.

Pemupukan Tanaman Kol

Tiga hari sebelum tanam diberikan pupuk organik (kotoran ayam yang telah difermentasi) dengan takaran 4 kg/m2. Dua minggu setelah tanam berikan pupuk susulan Urea 4 gram + ZA 9 gram, SP-36 9 gram dan KCl 7 gram per tanaman. Empat minggu setelah tanam berikan pupuk susulan Urea 2 gram + ZA 4,5 gram per tanaman. Dapat ditambahkan pupuk cair 5 liter/ha (0,3 ml/m2) pada umur 10, 20 dan 30 hari setelah tanam.

Pemeliharaan Tanaman Kol

Penyulaman dilakukan pada tanaman rusak (tidak sehat) atau yang mati, sampai tanaman berumur 10 hari. Penyiangan pada umur 2 dan 4 minggu setelah tanam disesuaikan dengan keadaan gulma. Perempelan seawal mungkin agar ukuran dan kualitas bunga terbentuk optimal. Setelah terbentuk massa bunga, daun tua diikat agar massa bunga ternaungi dari cahaya matahari untuk mempertahankan warna bunga supaya tetap putih. Pengairan dan Penyiraman diberikan pada pagi atau sore hari. Pada musim kemarau penyiraman 1-2 kali sehari terutama saat fase pertumbuhan awal dan pembentukan bunga.

Pengendalian Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) Tanaman Kol

Pengendalian Hama dan Penyakit Tanaman : dengan cara terpadu: pergiliran tanaman dengan tanaman selain famili Cruciferae, menyebarkan mikroba musuh alami. Pengendalian penyakit dilakukan dengan memilih bibit bebas penyakit, sanitasi kebun, rotasi tanaman, menghindari tanaman dari kerusakan mekanis/gigitan serangga, melakukan sterilisasi media semai/lahan
kebun, pengapuran pada tanah masam dan mencabut tanaman yang terserang penyakit. Kalau terpaksa menggunakan pestisida, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

Panen dan Pasca panen Tanaman Kol

Tanaman dipanen apabila bunga sudah padat dan kompak. dilakukan dengan memotong bagian pangkal batang dan sisakan 6-7 helai daun untuk pembungkus bunga. Tanaman yang baru dipanen, ditempatkan di tempat yang teduh agar tidak cepat layu. Dilakukan sortasi untuk memisahkan bagian tanaman tua, busuk atau sakit. Penyimpanan menggunakan wadah keranjang bambu, wadah plastik atau karton yang berlubang-lubang untuk menjaga sirkulasi udara.
Rumput Liar BUDIDAYA, Kol, PERTANIAN

Cara Budidaya Kubis

Kubis (Brassica oleracea L.) merupakan tanaman semusim atau dua musim. Bentuk daunnya bulat telur sampai lonjong dan lebar seperti kipas. Sistem perakaran kubis agak dangkal, akar tunggangnya segera bercabang dan memiliki banyak akar serabut.
Kubis mengandung protein, Vitamin A, Vitamin C, Vitamin B1, Vitamin B2 dan Niacin. Kandungan protein pada kubis putih lebih rendah dibandingkan kubis bunga, namun kandungan Vitamin A-nya lebih tinggi.

Kubis dapat tumbuh pada dataran rendah sampai dataran tinggi. Pada dataran rendah kubis merupakan salah satu tanaman sayuran yang memiliki potensi untuk dikembangkan, karena peluang pasar yang terbuka lebar. Pertumbuhan optimum didapatkan pada tanah yang banyak mengandung humus, gembur, porus, pH tanah antara 6-7. Kubis dapat ditanam sepanjang tahun dengan pemeliharaan lebih intensif.

Cara Budidaya Kubis

Persemaian Tanaman Kubis

Sebelum disemai, benih direndam dahulu dalam larutan Frevikur N (0,1%) selama ± 2 jam, kemudian dikeringkan. Benih disebar merata pada bedengan/tempat penyemaian dengan media tanah dan pupuk organik 1: 1, lalu ditutup dengan daun pisang selama 2-3 hari. Bedengan persemaian diberi naungan/atap dari screen/kassa plastik transparan. Kemudian persemaian ditutup dengan screen untuk menghindari OPT. Setelah berumur 7-8 hari, bibit dipindahkan kedalam bumbunan daun pisang/pot plastik dengan media yang sama (tanah dan pupuk organik stereil). Penyiraman dilakukan setiap hari. Bibit siap ditanam dilapangan setelah berumur 3-4 minggu atau sudah memiliki 4-5 helai daun.

Pengolahan lahan Tanaman Kubis

Dipilih lahan yang bukan bekas tanaman kubis-kubisan. Sisa tanaman dikumpulkan lalu dikubur, kemudian tanah dicangkul sampai gembur. Dibuat lubang tanam dengan jarak 70 cm (antar barisan) x 50 cm (dalam barisan) atau 60 x 40 cm. Bila pH tanah kurang dari 5,5 lakukan pengapuran menggunakan kalsit atau dolomit, dengan dosis 1,5 t/ha dan diaplikasikan 3-4 minggu sebelum tanam atau bersamaan dengan pengolahan tanah kedua.

Pemupukan Tanaman Kubis

Pupuk yang digunakan berupa pupuk organik dan pupuk buatan, sedangkan pupuk buatan berupa Urea 100 kg, ZA 250 kg, SP-36 250 kg dan KCl 200 kg/ha. Untuk tiap tanaman diperlukan Urea sebanyak 4 gr, ZA 9 gr, SP-36 9 gr dan KCl 7 gr. Pupuk organik 1 kg, setengah dosis pupuk N (Urea 2 gr, ZA 4,5 gr), pupuk SP-36 9 gr dan KCl 7 g) diberikan sebelum tanam pada setiap ubang tanam sebagai pupuk dasar. Sisa pupuk N (Urea 2 gr dan ZA 4,5 gr/tanaman) diberikan pada saat tanaman berumur 4 minggu.

Pemeliharaan Tanaman Kubis

Penyiraman dilakukan tiap hari sampai kubis tumbuh normal, kemudian diulang sesuai kebutuhan. Bila ada tanaman yang mati, segera disulam, dan penyulaman dihentikan setelah tanaman berumur 10-15 hari setelah tanam. Penyiangan dan pendangiran dilakukan bersamaan dengan pemupukan pertama dan ke dua.

Pengendaian Organisme Pengangu Tumbuhan (OPT) Tanaman Kubis

OPT penting yang menyerang tanaman kubis antara lain ulat daun kubis, ulat krop kubis, bengkak akar, busuk hitam, busuk lunak, bercak daun dan penyakit embun tepung. Pengendalian OPT dilakukan tergantung pada OPT yang menyerang. Beberapa cara yang dapat dilakukan antara lain adalah : bila terdapat serangan bengkak akar pada tanaman muda, tanaman dicabut dan
dimusnahkan. Kalau terpaksa menggunakan pestisida, gunakan jenis pestisida yang aman mudah terurai seperti pestisida biologi, pestisida nabati atau pestisida piretroid sintetik. Penggunaan pestisida tersebut harus dilakukan dengan benar baik pemilihan jenis, dosis, volume semprot, cara aplikasi, interval dan waktu aplikasinya.

Panen dan pascapanen Tanaman Kubis

Kubis dapat dipanen setelah kropnya besar, penuh dan padat. Bila pemungutan terlambat krop akan pecah dan kadang-kadang  busuk. Pemungutan dilakukan dengan memotong krop berikut sebagian batang dengan disertakan 4-5 lembar daun luar, agar krop tidak mudah rusak. Produksi kubis dapat mencapai 15-40 t/ha.
Rumput Liar BUDIDAYA, Cara, Kubis, PERTANIAN