Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label PELUANG USAHA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PELUANG USAHA. Tampilkan semua postingan
Senin, 11 Juni 2012

Memburu kembali gelembung-gelembung laba minuman bubble

Bubble drink atau minuman bergelembung, menjadi menu baru yang banyak digemari kaum muda dan anak-anak. Naiknya pamor minuman tersebut membuat tawaran bisnis minuman dingin asal Taiwan ini semakin banyak. Walau persaingan semakin ketat, tawaran bisnis minuman bubble masih menggembirakan. Perkembangan usaha yang cukup bagus dirasakan oleh Frezz Bubble, Toper The Bubble, dan Super Bubble dengan jumlah mitra yang terus bertambah.


• Frezz Bubble

Frezz Bubble mulai menawarkan kemitraannya pada 2008 atau setahun setelah berdiri. Usaha minuman ini cukup berkembang dengan jumlah gerai dan mitra yang bertambah. Saat diulas KONTAN pada Desember 2009 lalu, Frezz Bubble yang berasal dari Banten ini hanya memiliki dua cabang plus belasan gerai milik mitra.

Namun saat ini, jumlah gerai Frezz Bubble sudah berbiak 30 mitra tersebar di Padang, Nias, dan beberapa kota di Kalimantan. "Dulu kita hanya fokus di wilayah Jabodetabek, sekarang sudah seluruh Indonesia," kata Lisusanto, pemilik Frezz Bubble.

Keberhasilan Frezz Bubble ini tidak lepas dari keunggulan rasa yang disajikan. Agar lebih nikmat, ujar Lisusanto, dalam minuman bubble ditambahkan jeli konyaku atau agar-agar. Penambahan ini membuat bubble drink terasa empuk dan manis.

Karena itulah Lisusanto meminta mitra untuk membeli bahan baku minuman dari pusat. "Agar kualitas rasa terjaga," katanya. Tak hanya membuat sendiri, Lisusanto juga harus mendatangkan bahan baku dari luar negeri.

Beberapa bahan yang harus diimpor antara lain, tepung aneka rasa, mulai rasa cokelat, teh hijau, teh susu, leci, vanila, cappuccino, dan karamel. Untuk mendapatkan bahan-bahan itu, mitra harus membeli seharga Rp 60.000 - Rp 65.000 per kg. Juga sirup tersedia dalam bentuk cair dan bubuk dengan 15 rasa. Baik sirup maupun bubuk dijual dengan harga sama, antara Rp 40.000-Rp 45.000 per kg.

Walau sudah berjalan sekitar dua tahun, paket kemitraan yang ditawarkan Frezz Bubble tidak berubah.Paket pertama, tipe bazar dengan nilai investasi Rp 12,5 juta. Paket kedua, berkonsep gerai dengan investasi Rp 25 juta. Selain itu, mitra harus membayar Rp 5 juta untuk hak penggunaan nama selama lima tahun.

Dengan nilai investasi sebesar itu, mitra akan mendapatkan perlengkapan usaha, antara lain, meja konter,neon box, blender, mesin cup sealer, selang plastik, hingga seragam karyawan. Termasuk juga bahan baku, seperti powder dan 10 jenis sirop dengan berat masing-masing 1 kg. "Untuk paket Rp 25 juta, mitra akan mendapatkan bahan baku lebih banyak dan tidak perlu membayar lisensi," kata Lisusanto.

Dengan harga Rp 7.500 sampai Rp 12.000 per cup tergantung lokasi usaha, Lisusanto memperkirakan balik modal akan dicapai mitra dalam waktu enam bulan dengan asumsi bisa menjual hingga 50 cup sampai 70cup per hari.


• Toper The Bubble

Toper The Bubble menawarkan kemitraan sejak Maret 2009. Dengan konsep kemitraan maka calon mitra tak diharuskan membayar royalti fee ataupun management fee.

Dengan tiga tawaran investasi, yaitu tipe booth seharga Rp 6 juta, tipe mahasiswa Rp 3,9 juta, dan paket 2 in 1 senilai Rp 11,5 juta atau Rp 13,5 juta, saat ini Toper sudah memiliki 120 mitra. Bahkan pemilik usaha ini mengaku setidaknya ada satu permintaan menjadi mitra tiap minggu. Namun demikian, Toper belum berhasil menembus pasar internasional.

Dibandingkan dengan saat KONTAN mengulas Februari 2011 lalu, jumlah mitra Toper jelas melonjak tinggi. Saat itu Toper hanya memiliki 80 mitra dengan menawarkan dua paket kemitraan. Mitra-mitra tersebut tersebar di Biak, Sumbawa, Bangka, Medan, serta beberapa kota di Kalimantan.

Menurut Yoyok Widiartono, pemilik Toper, keputusannya menambah paket investasi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. "Kami namakan 2 in 1, karena mitra bisa menjalankan dua bisnis berbeda yakni bisnis minuman bubble dan crepes dalam satu outlet," katanya.

Berbeda dengan paket yang lain, untuk paket 2 in 1, mitra mendapatkan mesin pemanggang dan mesin penutup gelas. Adapun tipe booth dan tipe mahasiswa hanya mendapatkan peralatan, seperti gelas plus tutup, sendok, stoples, dan termos es. Selain itu, mitra juga memperoleh bahan baku sirup serta bubuk mutiara bubble untuk 250 cup.

Selain penambahan mitra, Toper juga menambah varian rasa dari 18 menjadi 85 rasa. Rasa yang ditawarkan antara lain, bubble drink cokelat, taro, cappuccino, taro coco, coffee coco, dan beraneka macam rasa buah. "Agar kualitas terjaga, mitra harus membeli bahan baku dari pusat," terang Yoyok.

Yoyok menambahkan, harga per cup atau gelas bubble drink antara Rp 4.000 sampai Rp 7.000, tergantung lokasi. Dengan menjual sekitar 100 gelas per hari, mitra Toper akan mampu meraup omzet hingga Rp 700.000 per hari. Untuk paket 2 in 1, Yoyok menjanjikan omzet per hari mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Jika asumsi itu tercapai maka diperkirakan modal akan kembali dalam kurun waktu enam bulan. Menurut Yoyok, untuk meningkatkan omzet mitra diperbolehkan menjual menu lain selain bubble dan crepes.


• Super Bubble

Tak hanya Toper atau Frezz Bubble saja yang menikmati penambahan mitra. Demikian juga dengan Super Bubble yang mulai usaha tahun 2008. Tak hanya dari Ibukota, mitra Super Bubble saat ini sudah tersebar hingga ke Papua, Kalimantan, dan Sulawesi. Total, Super Bubble memiliki sebanyak 100 mitra.

Menurut pemilik Super Bubble, Edri Adam, nilai investasi yang terjangkau membuat jumlah mitra terus melonjak tinggi. "Dari awal tahun sampai Juli ini, ada tambahan 30 mitra baru," ungkap Edri dengan nada gembira.

Edri menawarkan investasi Super Bubble dengan nilai investasi terendah Rp 2,95 juta dan tertinggi sebesar Rp 7,95 juta. Selain mendapatkan berbagai perlengkapan dagang nan lengkap, calon mitra juga mendapatkan bahan baku awal. "Untuk investasi Rp 7,95 juta akan mendapat sepeda untuk berjualan, perlengkapan usaha, dan bahan baku awal," terang Edri.

Karena permintaan mitra yang semakin banyak, sampai saat ini Edri belum ingin mengubah nilai investasinya. Nilai investasi yang murah itu berbanding lurus dengan asumsi omzet yang ditawarkan oleh Adam.

Adam memerinci, mitra diperkirakan mampu menjual sekitar 30 - 50 cup tiap hari. Dengan harga Rp 5.000 per cup, omzet per hari diperkirakan mencapai Rp 150.000 sampai Rp 250.000.

Dengan rendahnya nilai investasi dan tingginya omzet tersebut, menurut Edri, calon mitra lebih baik mengambil paket lebih dari satu. "Satu orang bisa memiliki dua sampai tiga paket kemitraan sekaligus," katanya.

Dengan mengambil paket kemitraan lebih dari satu, menurut Edri, akan lebih efektif memperoleh laba. Apalagi jika mitra beruntung mendapatkan tempat strategis untuk memulai usaha.

Selain memiliki rasa menyegarkan, Edri mengklaim bahwa minuman buatannya memiliki kandungan bahan alami sehingga tidak membahayakan bagi kesehatan. "Tidak ada bahan kimia yang terkandung, sehingga selain mampu mengusir dahaga juga menyehatkan," klaim Edri.

Bisnis crepes masih tetap kress

Martabak super tipis atau biasa disebut crepes makin populer di Indonesia. Hadir dengan berbagai macam variasi isi dan toping, crepeskian banyak penggemarnya. Karena peluang usaha makanan ini masih cukup terbuka, banyak pemain yang menawarkan kemitraan atau waralaba crepes di Indonesia.

Tawaran terbaru datang dari Syaifuddin, pemilik PT Bangun Indonesia yang membawahi usaha DeParis Crepes. Berdiri sejak 2004, usaha yang berbasis di Jakarta ini mulai menawarkan waralaba pada tahun 2009.

Sejak mewaralabakan usahanya, Syaifuddin mengklaim telah memiliki sebanyak 100 mitra. Sekitar tujuh di antaranya berbentuk kafe. Para mitra tersebar di Jabodetabek, Bandung, Bogor, Yogyakarta, Semarang, Surabaya, Kalimantan, dan Sumatra.

Untuk paket kafe, ia menyediakan berbagai macam pilihan menu di luar crepes. Di antaranya ada makanan Jepang seperti teriyaki dan lain-lain. Sementara pilihan minumannya ada es teh aneka rasa buah dan aneka kopi. "Saya menjual aneka minuman dan makanan yang membuat konsumen memiliki banyak pilihan," ujarnya.

DeParis Crepes menawarkan tiga paket waralaba. Pertama, paket counter dengan investasi Rp 5,7 juta. Di sini mitra akan menjual crepes, teh, dan kopi saja. Dengan investasi sebesar itu, mitra akan mendapatkan bahan baku untuk penjualan selama seminggu. Estimasi omzet per hari sekitar Rp 250.000. Dalam waktu tiga bulan, mitra sudah balik modal.

Kedua, paket roda dengan investasi Rp 7,2 juta. Mitra akan mendapatkan roda dorong dan bahan baku yang sama dengan paket counter. Estimasi omzet sebesar Rp 250.000 sampai Rp 400.000 per hari, dan balik modal dalam waktu tiga bulan.

Terakhir paket kafe dengan investasi Rp 85 juta. Dengan modal sebesar itu, mitra akan mendapatkan pasokan bahan baku, peralatan masak, dan pelatihan. Estimasi omzet mitra diperkirakan mencapai Rp 2 juta per hari. Diperkirakan masa balik modalnya terjadi dalam waktu enam bulan sampai 12 bulan.

Untuk semua paket investasi ini, mitra akan mendapatkan laba bersih sekitar 25% - 30%. Demi memudahkan mitra, DeParis Crepes juga tidak memungut royalti fee. Namun, jangka waktu franchise feehanya berlaku lima tahun. Setelah itu, mitra harus memperpanjang lagi.

Untuk paket kafe, harga minuman dibanderol Rp 7.000 - Rp 12.000 per gelas. Sementara itu, harga crepes mulai Rp 5.000 - Rp 9.000 per porsi. Harga jual untuk paket counter dan roda lebih murah, untuk minuman, harganya mulai Rp 3.000 - Rp 4.000 per gelas

Alif Juhardi, salah seorang mitra DeParis Crepes, menilai bahwa usaha crepes masih cukup potensial lantaran banyak penggemarnya. Ia menjadi mitra DeParis Crepes selama 1,5 tahun terakhir dengan tiga paket booth. Ia mengaku, rata-rata omzetnya saat ini mencapai Rp 200.000-Rp 250.000 per hari. "Yang paling banyak membeli produk DeParis Crepes adalah anak-anak," ujarnya.

Tapi, dari kalangan remaja dan dewasa juga tidak kalah banyak. Dalam sebulan, Alif dapat mengantongi omzet Rp 6 juta dengan laba bersih sekitar 30%. Kini, ketiga gerainya yang berlokasi di sekitar Pondok Kopi dan Buaran, Jakarta Timur, telah balik modal.

Agar sukses mengelola usaha ini, menurut Alif, pada awal membuka usaha jangan segera mementingkan keuntungan. "Tetapi bagaimana menjaring pelanggan," ujarnya.

Karena saingan di bidang crepes sudah cukup ketat, ia mengutamakan pelayanan yang baik dan mempertahankan rasa crepes-nya tetap enak. "Banyak yang saya temui pengusaha bermasalah bukan di produk tetapi justru di SDM-nya," ujar Alif.

Untuk itu, pelatihan dan pengembangan karyawan sangat diperlukan bagi pengembangan usaha ini. Karyawan harus diajak memberi pelayanan terbaik dan menjaga citarasa serta kualitas crepes tetap enak.

Peluang usaha Modifikator mobil

Pengetahuan tentang otomotif dan desain mobil terkini menjadi salah satu syarat untuk menjadi modifikator mobil. Bisnis jasa yang membutuhkan kreativitas tinggi ini masih akan dibutuhkan seiring dengan perkembangan dunia otomotif di Tanah Air yang kian subur.

Pesatnya pertumbuhan industri otomotif Tanah Air menjadi pendorong yang kuat bagi berkembangnya usaha jasa modifikasi mobil. Lihat saja, kini kian mudah menemukan bengkel modifikasi mobil. Tinggal pesan saja, mobil Anda akan dijadikan mobil seperti apa.

Salah satu orang yang menekuni bisnis jasa modifikasi ini adalah Siswojumarno, pemilik bengkel Auto Art di Bekasi, Jawa Barat. Siswo mulai menekuni jasa modifikasi ini sejak 2005 silam.

Selama berkarier di usaha jasa ini, Siswo paham benar bahwa usaha ini sangat menguntungkan. Ia melihat kecenderungan pemilik mobil selalu ingin mengubah penampilan mobilnya. "Semewah apa pun mobil, pasti ada bagian yang tidak kita suka," kata alumni Universitas Gadjah Mada (UGM) ini.

Auto Art sendiri fokus pada modifikasi bodi mobil. Nah, bagi Anda yang ingin memodifikasi mobil, Siswo menawarkan dua paket, yakni modifikasi ringan dan berat.

Modifikasi ringan hanya mengubah lampu, bumper, interior maupun eksterior mobil. Ongkosnya, mulai Rp 6 juta hingga Rp 60 juta, tergantung tingkat kebutuhan modifikasi. Soal waktu pengerjaan, "Untuk modifikasi ringan bisa sampai enam minggu," terang Siswo. Untuk modifikasi berat ini Siswo harus mengubah total penampilan mobil. "Saya bisa bikin mobil klien menjadi mirip Ferrari," katanya.

Karena merombak total, waktu pengerjaannya bisa sampai sepuluh bulan. Biaya untuk modifikasi berat juga cukup mahal mencapai Rp 200 juta hingga Rp 300 juta.

Klien Siswo pun mulai dari pemilik mobil hingga pabrik mobil. Pabrikan biasanya butuh sentuhan tangannya untuk tampil di ajang pameran. Dalam setahun, Siswo bisa mengerjakan modifikasi hingga 35 mobil. Untuk itu, dia mempekerjakan sebanyak 20 karyawan.

Siswo menjelaskan, untuk terjun menjadi modifikator mobil, yang perlu dimiliki sebagai dasar adalah pengetahuan tentang otomotif. "Akan lebih baik lagi kalau mengerti dasar ilmu teknik," ujarnya.

Selain itu, modifikator harus rajin mengikuti tren perkembangan desain mobil. Beberapa desain mobil mewah seperti Ferrari hingga Lamborghini menjadi perhatian utama. "Modifikator harus siap dengan berbagai macam permintaan konsumen," katanya.

Selain Siswo, ada Andre Mulyadi yang juga berprofesi sebagai modifikator. Pemilik bengkel modifikasi Signal Kustom Built di Bandung ini mengaku belajar modifikasi secara autodidak. Ia sudah senang mengotak-atik bodi mobil sejak SMA.

Andre juga fokus mengerjakan pesanan bodi mobil mulai desain hingga pengecatan. Menurut Andre, selain paham mobil, untuk menjadi modifikator perlu punya citarasa seni yang baik.

Dua hal itu harus dimiliki modifikator karena memodifikasi mobil itu butuh kreativitas tinggi. Sebab, pelanggan biasanya ingin mobilnya tampil beda.

Nah, untuk memadukan kemampuan teknis dan kreativitas seni ini, modifikator perlu konsep yang kuat, orisinal, dan menyeluruh sebelum mulai memodifikasi. Proses finishing juga tak bisa disepelekan karena membutuhkan ketelitian secara detail. Sebab, hal kecil seperti pola atau kerutan dalam pengecatan bisa mengurangi kepuasan pelanggan.

Andre mengaku dalam sebulan bisa mengerjakan lima pesanan. Namun untuk modifikasi total hanya sekitar dua sampai tiga pelanggan per tahun.

Peluang usaha animasi pernikahan dari negeri tetangga

Para animator mulai melirik pernikahan sebagai pasar yang menarik. Mereka membuat film animasi yang bisa diputar pada saat menggelar pesta pernikahan. Film yang memuat cerita kedua mempelai, mulai dari saat perkenalan, berpacaran, persiapan menjelang nikah hingga pernikahan itu bisa menjadi hiburan serta kenangan tak terlupakan.

Hari pernikahan adalah momen yang indah dan berharga bagi setiap pasangan pengantin. Dan, dibalik pernikahan itu, pasti ada sebuah kisah menarik masing-masing mempelai sebelum mereka memutuskan untuk meresmikan hubungan dalam satu ikatan.

Beranjak dari latar belakang inilah, para animator mulai melirik sebuah prosesi pernikahan sebagai pasar yang menarik. Mereka membuat film animasi yang menceritakan kisah dua sejoli.

Stevie Klause adalah salah satu animator yang kerap mengerjakan film animasi untuk pasangan pengantin atau wedding animation. Pemilik Yeiy! Animation ini mulai menggeluti bisnis wedding animation setahun lalu. Ia pun mengklaim Yeiy! Animation sebagai perusahaan 3D wedding animation pertama di Indonesia.

Ide Stevie untuk membuat usaha wedding animation berasal dari pengalaman dan pengamatannya di Singapura serta Malaysia. Di kedua negara itu, film animasi untuk pernikahan sudah sangat banyak. "Di Indonesia film animasi tiga dimensi untuk wedding belum ada," ujar pemuda berusia 25 tahun ini.

Lantas, Stevie membangun usaha serupa di Indonesia. Latar belakang Stevie memang memang klop dengan usaha ini. Ia memiliki hobi menggambar, serta menyelesaikan pendidikannya di bidang animasi di Holmesglen Institute, Australia.

Selepas kuliah, Stevie menerapkan ilmunya dengan menjadi seorang dosen. Ia mengajar di sebuah perguruan tinggi di Jakarta dari tahun 2006 hingga 2007. Hanya setahun, Stevie lantas bekerja di Castle Production. Di sana, ia membuat film animasi "Kabayan" yang sudah tayang di salah satu stasiun televisi hingga 90 episode.

Tahun 2010, Stevie membentuk Yeiy! Animation dengan modal Rp 100 juta. Dengan mengambil nama Yiey! yang berarti bahagia, ia berharap dapat memberi kebahagiaan kepada orang lain yang menikmati hasil karyanya.

Pada saat awal ini, Stevie hanya dibantu seorang karyawan. Namun, lantaran klien makin banyak datang, ia menambah jumlah karyawan hingga delapan orang sampai sekarang.

Lewat film animasi ini, mereka berusaha menggambarkan kisah cinta kedua mempelai dengan gambar-gambar lucu dan berkonsep. Selain sebagai kenangan si pengantin, penayangan animasi itu juga untuk menghibur tamu yang hadir di resepsi.

Yeiy! Animation menawarkan durasi film yang beragam. Biasanya, durasi tiap film adalah lima menit agar tak membosankan.

Ada dua jenis film animasi yang dibuat Yeiy! Animation. Yakni, format film tanpa percakapan seperti klip video, dan film dengan percakapan. "Tarif film yang disertai percakapan lebih mahal," ujarnya.

Maklum, membuat film jenis ini butuh tiga kali rendering. Yakni, rendering setelah pembuatan karakter yang memerlukan waktu empat hari. Lalu, rendering setelah melakukan compose selama sehari. Selanjutnya, rendering final setelah editing yang butuh waktu sehari pula.

Selain itu, tarif pembuatan film animasi ini juga bergantung pada jumlah tokoh yang ada di cerita, jumlah lokasi atau seting dan kualitas warna. "Kami pernah mengerjakan film animasi paling banyak dengan lima tokoh," ujarnya.

Tarif film animasi dengan lima tokoh itu bisa lebih dari Rp 15 juta. Tarif film sederhana dengan dua tokoh saja sekitar Rp 8 juta. Dalam sebulan, Yeiy! Animation bisa meraih omzet Rp 50 juta dari pembuatan animasi pasangan pernikahan.

Stevie mengakui bahwa peluang bisnis wedding animation ini masih terbuka lebar bagi pemain baru. Apalagi, tren film animasi pernikahan ini masih berkutat di Jakarta dan belum menjadi tren di daerah lain di Indonesia.

Mendulang duit dari jasa foto dan video iklan

Jasa foto dan pembuatan video iklan semakin banyak peminatnya. Banyak pengguna jasa ini dari kalangan pengusaha untuk mempromosikan produk mereka. Selain itu, order juga datang dari instansi pemerintah daerah (pemda). Omzet usaha ini bisa mencapai ratusan juta dengan laba bersih 20% - 70%.

Supaya bisa menarik perhatian konsumen, tentu pesan dari iklan harus dapat disampaikan secara kreatif. Nah, agar bisa tampil unik dan menarik, banyak pelaku industri menggunakan jasa fotografer profesional untuk pembuatan iklan, baik iklan produk maupun profil perusahaan.

Tak heran bila jasa studio foto iklan kini tumbuh dan berkembang di mana-mana. Di Makasar, misalnya, ada Mattuju IndonesiaTM yang menyediakan jasa tersebut.

Selain menggarap foto iklan, Mattuju IndonesiaTM juga menggarap foto dokumenter serta pembuatan video dokumenter untuk company profile sebuah perusahaan.

Selain itu, mereka juga pernah menggarap foto menu makanan untuk sejumlah restoran di Makassar. “Kami juga pernah menggarap pembuatan iklan Nature-E di Makassar,” kata Andi Syahwal Mattuju, Managing Director Mattuju IndonesiaTM.

Berdiri sejak 2007, kini Mattuju terus berkembang. Selain di Makassar, klien Mattuju menyebar sampai ke Palu, Kendari, hingga Lombok. Bahkan, ada juga yang dari luar negeri, terutama untuk dokumentasi pernikahan.

Andi mengaku, omzet yang didapatnya dalam sebulan mencapai Rp 100 juta. Adapun laba bersihnya sekitar 20%-30% dari omzet. Paket foto dokumenter yang ditawarkan Mattuju berkisar antara Rp 1,6 juta - Rp 2,7 juta. Bila ingin lengkap dengan video harganya berkisar antara Rp 3,9 juta hingga Rp 9 juta.

Pemain lain yang turut menggeluti bisnis ini adalah Margiono, pemilik Roy Video di Cawas Klaten, Jawa Tengah. Menjadi penyedia jasa foto dan pembuatan video iklan sejak 1990, omzet Margiono mencapai Rp 60 juta per bulan dengan laba bersih 70%. Awalnya, Margiono hanya fokus melayani foto penikahan. Tapi setelah kompetitor makin banyak, ia banting stir ke layanan ke foto dan pembuatan video iklan. Keputusan itu tidak keliru. Terbukti, belakangan jasa foto dan pembuatan video iklan semakin banyak peminatnya. "Banyak pengguna jasa dari kalangan pengusaha dan dari instansi pemda," jelasnya.

Margiono biasa mendapat order pembuatan foto dan video iklan 20 kali dalam sebulan. Setiap proyek ia mematok tarif mulai Rp 2 juta - Rp 50 juta. "Semuanya tergantung kesulitan proyek yang kami garap," jelasnya.

Pemain lain di bisnis ini adalah Ovik Hamdan, pemilik Light Box Studio di Bandung, Jawa barat. Terjun ke bisnis ini sejak tahun 2010, Ovik hanya melayani foto produk dan iklan. “Sebelumnya saya ikut foto pernikahan juga, tapi terus memilih fokus ke foto produk sekitar dua tahun silam,” tandasnya.

Ovik mengaku mendapatkan tantangan tersendiri dalam foto produk. Menurutnya, diperlukan kreativitas yang tinggi dalam mengambil dan menampilkan gambar sesuai selera pemesan dan khalayak.

Foto produk untuk dipajang di website atau toko online, misalnya, perlu teknik pencahayaan yang baik. Sementara untuk kebutuhan iklan di media cetak harus disertai pemahaman yang jelas soal pesan yang ingin disampaikan si pengiklan. "Jadi editing dan konsepnya harus matang," ujar Ovik.

Dalam sebulan Ovik bisa melakukan sekitar 40 pemotretan, dengan klien yang berasal dari Bandung, Jakarta, Bekasi, dan Surabaya. Omzetnya paling sedikit Rp 11 juta per bulan, dengan laba 60%-70%.

Parlindungan Ompusunggu juga sukses menggeluti bisnis ini. Sama halnya Ovik, pemilik +P Photography di Bekasi ini fokus melayani jasa pembuatan foto profuk dan video untuk iklan. Omzet dalam sebulan Rp 10 juta dengan laba bersih 90%. "Selain pemilik toko online, klien saya banyak perusahaan skala UKM di Jabodetabek dan Bandung," ucapnya.

Usaha perancang perhiasan bikin kantong makin tebal

Merancang perhiasan bisa menjadi profesi yang menguntungkan. Asalkan kreatif memilih bahan baku dan peka memadukan warna perhiasan, seseorang bisa menjadi perancang perhiasan tanpa perlu sekolah khusus. Dari profesi ini bisa menghasilkan duit puluhan juta rupiah.

Keindahan perhiasan ternyata tidak datang dengan sendiri. Sebuah perhiasan yang anggun dan indah merupakan hasil sentuhan dan keterampilan jemari seorang perancang perhiasan profesional.

Salah satu yang menekuni profesi perancang perhiasan ini adalah Dessy Maria Azis. Ia terjun ke dunia perhiasan sejak 2008 lalu. Kini ia menjadi perancang perhiasan di toko perhiasan etnik Rez-Q di Jakarta.

Wanita berusia 45 tahun itu menjadi perancang perhiasan karena menyukai perhiasan etnik. Bahkan, Dessy pernah merancang perhiasan etnik sendiri lantaran kesulitan mencari perhiasan etnik di pasaran.

Untuk mewujudkan rancangan sebuah perhiasan yang indah, Dessy meminta bantuan perajin perak di kota Yogyakarta atau Solo.

Dan, bak gayung bersambut, perhiasan buah tangan perdana Dessy itu ternyata banyak disukai teman dan kerabatnya.

Kesempatan itu tidak disia-siakan Dessy untuk menawarkan jasa membuat rancangan perhiasan etnik. Tanpa disangka, rancangan itu banyak yang memesan, termasuk dari Singapura dan Malaysia.

Hingga kini, saban bulan Dessy melayani 200 permintaan rancangan perhiasan. Perhiasan yang dirancang antara lain: kalung, gelang, cincin, bros, dan aksesori.

Untuk merancang perhiasan itu Dessy memanfaatkan bahan baku emas, perak dan tembaga. Selain ia memanfaatkan batu akik, druzy, kecubung, garnet, tirus, dan mutiara mabe. Seluruh bahan baku tersedia di dalam negeri. "Semakin etnik dan unik maka semakin banyak yang suka," katanya.

Tarif jasa rancangan perhiasan dari Dessy itu beragam. Mulai dari Rp 100.000 sampai Rp 700.000 per unit perhiasan. Dessy mematok tarif mengacu pada kerumitan desain serta harga bahan baku. Dari usaha ini, dalam sebulan Dessy setidaknya bisa mengantongi omzet hingga Ro 50 juta dengan laba sebesar 50%.

Yang jelas, kebanyakan pelanggan Dessy menginginkan desain perhiasan yang eksklusif. Itulah sebabnya, Dessy hanya membuat 10 item dari setiap desain. "Konsumen tidak ingin model pasaran," jelas Dessy.

Selain Dessy, ada Louisa Dominique. Louisa ini sudah sembilan tahun menjadi perancang perhiasan. Kini ia sudah memiliki toko perhiasan sendiri bernama Olie Collection di Batam.

Dalam menawarkan jasa, Louisa sering mendapat pesanan rancangan paket perhiasan. Setiap paket perhiasan itu terdiri dari anting, cincin, kalung, gelang, hingga liontin.

Ia mengaku profesi sebagai perancang perhiasan saat ini cukup menjanjikan. "Apalagi penggemar perhiasan juga makin banyak," kata Louisa.

Bahan baku perhiasan besutan Louisa terdiri dari emas perak, mutiara, batu kristal, dan safir. "Tugas perancang perhiasan bukan mendesain saja, tapi juga memaksimalkan bahan yang ada," kata Louisa.

Untuk menekuni profesi ini butuh kepekaan dalam memberikan warna dan memberi tampilan. Yang tak kalah penting adalah imajinasi, profesi ini sangat membutuhkan imajinasi yang tinggi agar bisa menghasilkan perhiasan yang menarik.

Soal tarif perhiasan ini, Louisa mengaku tidak ada standar bakunya. Wanita lulusan ilmu desain grafis itu bilang, tarif tergantung dari eksklusivitas karya. Sejauh ini Louisa rata-rata mematok tarif jasa pembuatan perhiasan mulai Rp 85.000 sampai Rp 1 juta dengan omzet Rp 30 juta per bulan.

Rezeki datang dari siswa yang tertarik eksakta

Usaha bimbingan belajar (bimbel) spesialisasi pada bidang pelajaran tertentu ternyata masih ramai peminat. Buktinya, beberapa bimbel masih bisa eksis dan mengeruk keuntungan 20% hingga 30% per bulan. Kalau sukses, dua tahun impas.

Pelajaran eksakta seperti matematika, kimia, dan fisika masih jadi momok bagi sebagian siswa. Orang tua pun banyak yang tidak menguasai pelajaran ini. Padahal, di sisi lain, banyak orang masih menganggap siswa yang mendapat nilai bagus dalam bidang pelajaran ini lebih gampang berburu sekolah di jenjang yang lebih tinggi maupun mencari pekerjaan di masa depan.

Tak mengherankan, demi membantu buah hati menguasai pelajaran-pelajaran ini, para orang tua rela memanggil guru privat atau mendaftarkan anaknya ke lembaga bimbingan belajar (bimbel). “Paling tidak ada 30 anak per bulan yang men-daftar ke bimbel kami,” ujar Jenny Oktowarti, Franchise Development Manager Sinotif. Malah, di masa-masa memasuki tahun ajaran baru, bisa 60 siswa mendaftar di setiap gerai.

Jenny bilang, sejak berdiri pada tahun 1997 Sinotif mengkhususkan diri pada bimbel pelajaran eksakta. “Pelajaran lain bisa hafalan, sedangkan eksakta butuh pemahaman,” katanya. Melihat peluang ini, sejak 2009 lalu Sinotif menawarkan kerja sama waralaba. Hasilnya, saat ini jaringan Sinotif sudah berkembang menjadi 21 cabang dari semula hanya tujuh cabang (1997). Cabang terbaru Sinotif baru buka pada Maret lalu di Tanjung Duren, Jakarta.

Prospek bisnis bimbel spesialis bidang pelajaran ilmu eksakta yang cerah juga dilihat oleh oleh Bimbingan Belajar Peter yang berpusat di Malang, Jawa Timur. Oleh sebab itu, Purnamasari Dewi, pengelola bimbel ini, berani berekspansi ke ibu kota, membuka dua cabang.

Masih soal prospek usaha, pemilik Bimbingan Belajar Katalis Corporation Indra Sugiarto mengungkapkan, selama menjalankan usaha bimbel, dia belum pernah mengalami penurunan omzet. Dalam sebulan, Katalis Corporation yang juga membidangi bimbel pelajaran eksakta bisa meraup omzet sekitar Rp 24 juta.

Potensi pasar boleh saja memang oke, bagaimana dengan potensi laba yang bisa dijaring bisnis ini? Jenny bilang, keuntungan yang dia dapat dari usaha ini sekitar 20% hingga 30% dari omzet. Karena itu, berdasarkan pengalaman dia, rata-rata modal setiap cabang bisa balik dalam tempo dua tahun.


Kalangan atas

Pasar yang disasar oleh bimbel spesialis seperti Sinotif ataupun Peter adalah kalangan menengah atas. Maklum, tarif yang dipasang cukup tinggi. Sinotif membanderol tarif per siswa per tahun Rp 6 juta untuk siswa SD, Rp 8 juta untuk siswa SMP, dan Rp 10 juta bagi siswa SMA per tahun. Sementara Peter membanderol harga per semester mulai Rp 3 juta.

Jenny menambahkan, untuk meminimalkan risiko, biaya bimbel selama setahun harus dibayarkan sekaligus di depan. Ini strategi untuk menghindari kerugian, bila dalam sebulan tidak ada siswa baru yang mendaftar. “Dengan begini, mitra tetap bisa menutupi kekurangan perusahaan,” katanya.

Menurut para pengelola, tarif yang dikenakan pada siswa terbilang mahal karena penyelenggaraan pelajaran menggunakan sistem semi-privat. Setiap kelas hanya diisi sedikit siswa dengan satu guru yang sama. Tujuan metode ini supaya guru bisa mengikuti perkembangan siswa dan bisa memberikan laporan kepada orang tua mengenai perkembangan anak. Oleh sebab itu, siswa juga diberi garansi, apabila selama mengikuti bimbel dan hasil ujian kurang dari 80%, uang bimbel akan dikembalikan.

Anda tertarik? Ayo, kita bedah seluk-beluk mengawali dan menjalankan bisnis ini.


Waralaba Sinotif

Untuk menjadi terwaralaba Sinotif, modal yang harus Anda siapkan cukup besar, yakni sekitar Rp 1,2 miliar. Investasi tersebut antara lain digunakan untuk belanja peralatan bimbel Rp 235 juta, belanja perlengkapan dan kebutuhan renovasi gerai Rp 600 juta, franchise fee untuk 5 tahun Rp 350 juta, dan untuk biaya izin usaha Rp 15 juta. “Modal investasi ini tidak mutlak karena menyesuaikan luas lokasi usaha,” kata Jenny.

Selain memiliki modal, Anda juga harus sudah menyiapkan lokasi usaha yang dekat dengan sekolah dan perumahan. Luas minimal 400 meter persegi.

Untuk bergabung dengan Sinotif tidak harus memiliki pengalaman mengajar. “Yang terpenting Anda harus memiliki latar belakang bisnis,” kata Jenny. Sebab sebagai terwaralaba, tugas Anda hanya fokus pada pengembangan bisnis. Urusan mengajar diserahkan kepada guru. Anda juga tak perlu repot mencari guru, sebab Sinotif yang akan merekrut dan menguji para pengajar tersebut.

Dalam sebulan, pengeluaran usaha ini antara lain meliputi management fee Rp 4,5 juta, biaya manajemen variabel 10% dari omzet, listrik, air, dan telepon sekitar 4 juta, gaji 10 pegawai Rp 30 juta, biaya perawatan bimbel Rp 5 juta, pajak reklame sekitar Rp 1,5 juta, sewa lokasi usaha Rp 21 juta per bulan, dan biaya promosi Rp 10 juta. Selain melalui brosur, Sinotif juga rutin mengadakan pameran di pusat perbelanjaan. Karena menjangkau kalangan atas, lokasi pusat perbelanjaan sangat tepat untuk berpromosi.

Dengan jumlah 30 siswa dengan biaya Rp 6 juta maka omzet per bulan bisa mencapai Rp 180 juta. Dengan total pengeluaran Rp 94 juta per bulan, maka keuntungan yang Anda dapat Rp 86 juta per bulan.



Bimbel mandiri

Bila Anda ingin membuka usaha bimbel secara mandiri, modal yang disiapkan jauh lebih kecil. Indra bilang modal yang disiapkan cukup Rp 20 juta. Dana itu digunakan untuk membeli perlengkapan dan peralatan bimbel serta promosi awal untuk merekrut siswa.

Untuk menjalankan usaha ini Anda harus memiliki latar belakang mengajar. Dengan cara itu, Anda bisa mengetahui pelajaran mana yang dibutuhkan oleh siswa. Untuk itu, sebelum menjalankan usaha ini sebaiknya Anda mencari pengalaman di bimbel lain. Dengan pengalaman tersebut, selain memperdalam ilmu mengajar juga belajar manajemen usaha ini.

Anda bisa merekrut para mahasiswa semester akhir jurusan eksakta sebagai tenaga pengajar. Selain sudah menguasai ilmu eksakta, tarifnya lebih murah, mulai Rp 25.000 hingga Rp 50.000 per pertemuan. Anda tinggal mendampingi mereka. Dengan pengalaman Anda bekerja di bimbel lain, maka tidak akan sulit untuk mencari tenaga pengajar.

Karena skala usaha masih kecil, tenaga pengajar yang dibutuhkan hanya tiga orang. Sebagai langkah awal, lokasi usaha cukup berukuran 50 m². “Bila usaha berjalan, baru memperluas lokasi,” kata Indra.

Bimbel mandiri biasanya mematok harga yang lebih murah. Sebagai gambaran, Indra mematok biaya Rp 800.000 per bulan untuk delapan kali pertemuan. Dengan jumlah 30 siswa, omzet yang didapat bisa mencapai Rp 24 juta. Supaya tidak membebani peserta bimbel, biaya dibayarkan setiap pertemuan. “Untuk pengeluaran per bulan biasanya cuma Rp 10 juta,” kata Indra. Pengeluaran bulanan meliputi biaya listrik, penggandaan modul, spidol, pulsa karyawan, biaya keamanan, gaji karyawan, sewa lokasi usaha, dan promosi.

Promosi cukup melalui brosur dan jejaring sosial. “Sebab, pengajar sangat dekat dengan dunia internet,” ujar Indra.

Dalam menjalankan usaha ini, Anda harus pasang target. Dalam setahun paling tidak harus bisa menambah luas lokasi usaha. Bila dalam setahun tidak ada perkembangan usaha, sebaiknya lakukan evaluasi untuk melanjutkan usaha atau berhenti.

Meraup laba dan melatih alim via kaus muslim

Sebagai negara dengan penduduk mayoritas muslim, kaus dengan gambar dan tulisan tentang Islam memang banyak digemari. Peluang itu yang mendorong RAFFClothing menawarkan kemitraan. Paket investasinya mulai Rp 22 juta-Rp 105 juta. Estimasi omzet 15 juta-Rp 60 juta per bulan.

Kaus atau t-shirt sudah menjadi pakaian sehari-hari orang Indonesia. Hadir dengan aneka model dan warna, kaus digemari hampir semua kalangan. Tak heran, banyak pebisnis yang menangkap peluang besar ini.

Salah satunya adalah Didiek Agus Harijanto, produsen kaos dengan label RAFFClothing di Surabaya, Jawa Timur. Di bawah bendera usaha bernama Islamic Kids T-shirt, ia fokus memproduksi kaus muslim untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Disebut kaus muslim, karena desain kaus dilengkapi gambar dan kata-kata tentang Islam. Contohnya "Asmaul Husna" atau "The Holy Mecca & Madina". Semua model kaus dibuat lengan panjang, kecuali untuk anak lelaki.

Harga kaus tersebut bervariasi. Untuk kaus anak cowok dibanderol Rp 60.000 per potong, kaus anak perempuan Rp 70.000 per potong, dan baju koko anak Rp 75.000 per potong. Kaus orang dewasa dibanderol mulai Rp 80.000-Rp 190.000 per potong.

Usaha yang berdiri sejak 2009 ini mulai menawarkan kemitraan awal tahun ini. Karena baru, RAFFClothing belum memiliki mitra.

Ada dua paket kemitraan yang ditawarkan. Pertama, paket Raffputh dengan investasi Rp 22 juta. Mitra akan mendapat kaus dan gamis sebanyak 25 lusin. "Mitra tidak harus memiliki toko, cukup jualan di mal," kata Didiek. Omzet ditargetkan Rp 15 juta per bulan. Dengan laba 20%-25%, mitra bisa balik modal dalam 12 bulan.

Kedua, paket RAFFStore yang terbagi menjadi dua. Yakni, paket Raffstore dengan investasi Rp 80 juta dan paket Raffstore senilai Rp 105 juta. Untuk paket investasi Rp 80 juta, mitra harus menyediakan gerai 3x4 meter (m).

Fasilitas yang didapat mitra 50 lusin pakaian, training karyawan, katalog, seragam, dan brosur. Omzet mitra ditargetkan Rp 50 juta per bulan.

Untuk paket investasi Rp 105 juta, mitra harus memiliki gerai 5x5 meter persegi. Fasilitas yang didapat sama dengan paket Rp 80 juta. Tapi jumlahnya lebih banyak, seperti pasokan produk 75 lusin. Untuk paket ini, omzet ditargetkan Rp 60 juta per bulan dengan laba 20%-25%. Perkiraan balik modalnya 12 bulan.

Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (Wali) Levita Supit bilang, prospek kaus muslim di Indonesia masih menjanjikan. Selain mayoritas penduduk Indonesia muslim, kebutuhan pakaian juga terus meningkat. Namun, agar bisa menarik konsumen, desain kaus harus beda dari yang lainnya.

Kualitas pakaian dan harga yang ditawarkan pun juga harus kompetitif. "Selain itu juga harus gencar melakukan promosi," katanya.