Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News. Tampilkan semua postingan
Minggu, 07 Oktober 2012

Body Painting Unik dengan Motif Batik

body paintingSURABAYA- Body Painting Unik dengan Motif Batik. Ella Rimadina hanya tersenyum ketika tiga anggota Caricature Studio memoles tubuhnya dengan cat body painting. Sesekali, Ella yang menggunakan baju batik itu meringis, saat kuas di tangan Yanto Hoho, Bayu Edi Iswoyo, dan Riza Abidin, mulai menyentuh kulit tubuhnya. “Ehmm, geli dan dingin,” ucap Ella.


Itulah perasaan Ella yang menjadi model body painting dengan perpaduan batik di atrium Tunjungan Plaza II, kemarin. Semenatara, tiga seniman sampai berkeringat melukis tubuh Ella dengan motif cenderawasih. “Butuh waktu tiga jam untuk menyelesaikan motif batik ini,” kata Yanto Hoho, owner Caricature Studio yang melukis bahu Ella dengan motif kepala merak.


Menurut Yanto Hoho, body painting dengan motif batik sedang digandrungi wanita Indonesia. “Banyak perempuan yang ingin tampil beda, sehingga body painting menjadi pilihan wanita masa kini,” jelasnya. Dikatakan, perempuan masa kini lebih banyak memilih body painting daripada tato. “Mungkin karena bisa dihapus ya, cukup dengan mandi dan digosok sabun sudah hilang,” katanya.


Bahkan, yang lebih menarik, body painting dengan motif batik membuat wanita terkesan seksi dan sensual. Apalagi, bagi perempuan yang berkulit
sawo matang. Jika memang tujuannya untuk tampil seksi dan sensual, Yanto Hoho menyarankan, ada baiknya sebelum melakukan body painting, busana yang akan dikenakan, disesuaikan. “Ya biar lebih menarik dan tidak tabrakan saja,” ujarnya.


Semenatara, Brigiv Aditya, Public Relations Tunjungan Plaza mengatakan, acara body painting merupakan bagian dari rangkaian East Java Shoppuing and Culture Carnival 2012 yang digelar mulai 1 hingga 21 Oktober besok. Tak hanya alasan itu saja, menurut Brigiv, tren body painting mulai digemari seiring dengan kemajuan batik nusantara. “Kita ingin menunjukkan kalau batik itu tidak cuma di kain atau aksesori saja, motif batik juga indah kalau digores di tubuh,” pungkasnya. (han/rie/kin/jpnn)

Sabtu, 06 Oktober 2012

Belajar Internet Sejak Dini

belajar internet sejak diniSURABAYA-Puluhan siswa SD Kreatif Muhammadyah 16 belajar internet teknologi informasi dan komunikasi di Graha XLPemuda, Jumat (5/10). Acara yang digelar dalam rangka ulang tahun ke-16, PT. XL Axiata Tbk (XL) tersebut sebagai upaya kepedulian perusahaan terhadap pendidikan dalam rangkaian program tanggung jawab sosial perusahaan alias corporate social responsibility (CSR).


Manager Youth and Community XL East 1, Martono mengatakan, pengenalan dunia teknologi informasi dan komunikasi sejak dini dapat memberikan pengetahuan dasar untuk menunjang penggunaan teknologi informasi komunikasi yang baik. “Pentingnya memberikan pengetahuan dasar untuk menunjang penggunaan informasi dan komunikasi yang baik, dapat mengajari anak sedini mungkin untuk memahami dan menggunakan internet sehat,” kata Martono.


Diungkapkannya, pembelajaran internet sejak usia dini sangat penting. Tujuannya supaya anakanak bijak dalam mengakses teknologi. “Perkembangan internet sangat luar biasa. Kalau anak-anak tidak dididik untuk memilah informasi yang baik, ke depannya akan repot,” lanjutnya.
Belajar dan melihat secara langsung bagaimana cara berteknologi informasi yang baik, penting bagi anak-anak. Untuk itu lah dibutuhkan pengarahan mengenai komunikasi berbasis internet yang sehat. “Dengan demikian, sejak dini anak dapat mengerti dalam mengolah dan memilah berbagai informasi serta dapat menggunakan teknologi  komunikasi dengan lebih baik, Imbuh Martono. (han/opi)

Rumput Liar Internet, News
Jumat, 05 Oktober 2012

Daerah Peraih Penghargaan Keterbukaan Informasi Publik

keterbukaan informasi publikJawa Timur kembali mengukir prestasi di bidang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Setelah tahun 2011 berhasil menyabet Juara Pertama Kategori Keterbukaan Informasi Publik yang Wajib Diumumkan, kini berhasil meraih Juara Pertama Kategori Pelayanan Penyediaan Informasi Setiap Saat. Penghargaan itu diserahkan Ketua Komisi Informasi Pusat Usman Abdhali Watik kepada Sekretaris Daerah Provinsi Jatim Rasiyo pada Peringatan Hari Hak untuk Tahu Sedunia di Hotel Garden Palace, Rabu (3/10) malam.


Sekdaprov Jatim mengatakan, keberhasilan Jatim meraih juara pertama sudalam dua tahun berturut-turut di bidang Keterbukaan Informasi Publik merupakan kerja keras Pemprov bersama Pemkab/Pemkot dalam menyediakan keterbukaan informasi yang diaplikasikan dengan pembentukan Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID).


Menurut Rasiyo, keterbukaan informasi publik adalah bentuk demokrasi baru sesuai UU Nomor 14/2008. Demokrasi baru diartikan, masyarakat tak perlu lagi melakukan aksi unjuk rasa (demonstrasi) karena setiap saat masyarakat dapat meminta dan memperoleh informasi yang dibutuhkan. “Jadi tidak perlu lagi unjuk rasa, cukup minta informasi, baik lewat online atau datang langsung kepada Badan Publik, lalu PPID Badan Publik itu yang menjawabnya,” pesan dia.


Dikatakan, PPID bertanggung jawab atas penyimpanan, pendokumentasian, penyediaan, dan pelayanan informasi di Badan Publik untuk melaksanakan UU tentang KIP. Tujuannya agar masyarakat dapat berpartisipasi langsung terhadap kebijaksanaan, kegiatan, dan keputusan yang diambil Badan Publik. Sejauh ini, kata dia, seluruh Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di lingkungan Pemprov telah memiliki PPID.


Untuk Pemkab/Pemkot se-Jatim, baru 16 yang memiliki PPID, sedangkan 22 Pemkab/Pemkot sisanya akan terus didampingi untuk membuat PPID. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi Informasi Pusat Usman Abdhali Watik mengatakan, penghargaan diberikan kepada Badan Publik yang memberikan layanan informasi terbaik di tingkat pusat yaitu kementerian dan lembaga, maupun di tingkat provinsi.


Sejatinya, penghargaan telah diberikan oleh Wakil Presiden RI Boediono, beberapa saat yang lalu. Usman menjelaskan, semula penghargaan hanya terdiri atas satu kategori saja, yaitu kategori informasi yang wajib diumumkan secara berkala sesuai Pasal 9 UU KIP. Tahun ini ditambah satu kategori, yaitu kategori pelayanan penyediaan informasi yang tersedia setiap saat sesuai Pasal 11 UU KIP.


Yang istimewa, lanjutnya, Jatim berhasil meraih juara pertama kategori informasi yang wajib diumumkan secara berkala tahun lalu. Pada tahun ini, Jatim berhasil meraih juara pertama kategori pelayanan penyediaan informasi yang tersedia setiap saat. “Jatim luar biasa. Saya ucapkan selamat kepada Jatim. Semoga dapat menginspirasi provinsi lain,” pujinya.


Dalam acara tersebut, diumumkan 10 nominasi Badan Publik terbaik yang terbagi atas Badan Publik milik Pemprov Jatim dan Badan Publik milik Pemkab/Pemkot se-Jatim. Untuk Badan Publik milik Pemprov, juara pertama diperoleh Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), juara kedua Dinas Kominfo, dan juara ketiga Biro Humas dan Protokol.


Sedangkan untuk kategori Badan Publik terbaik milik Pemkab/Pemkot se- Jatim, juara pertama adalah Pemkot Surabaya, juara kedua Pemkot Malang, dan juara ketiga Pemkab Banyuwangi. Acara itu dihadiri oleh Asisten IV Setdaprov Jatim Dr. H. Akhmad Sukardi, MM, juga Ketua Komisi Informasi Provinsi Jatim Djoko Tetuko. (rou/rie/kin)

Rabu, 03 Oktober 2012

Generasi Muda Ingin Batik yang Modis dan Stylish

batik anak mudaSebelum diakui Unesco sebagai warisan budaya asli Indonesia, batik memiliki kesan ‘tua’. Hanya orang-orang sepuh saja yang mau mengenakan busana dari bahan batik. Kalau tidak ke resepsi, orang tua kita akan mengenakannya untuk busana pelantikan. Anak muda? Oh, no. Mereka jelas-jelas emoh.

Situasi itu berubah setelah Oktober 2010 batik diakui PBB. Semua, termasuk anak muda, beramai-ramai pakai fashionbatik. Sekarang, mau ke mal, hang out, hingga apel, semua orang pakai batik. Minat anak muda inilah yang membuat sejumlah siswa Pison Art Fashion N Foundation berkreasi dalam perayaan Hari Batik, Selasa (2/10).

Tujuh siswa terpilih memamerkan rancangan ala batik. Mereka di antaranya Devona Jessica, Michelle Laksmono, Laura Leovita, Nurul Aina, Felicia Michele L, Lisawati, Shendy Arie Dewi, dan Kezia Patricia. Mereka menampilkan rancangan yang berbeda. Bahkan, busana kasual yang sedang in sekarang, juga dikreasikannya dari bahan batik.

Rancangan Devona, misalnya. Remaja 22 tahun itu membuat rancangan ala jumpsuit. “Supaya nggak monoton,” kata Devona di sela-sela perayaan Hari Batik di kampus Pison. Diakuinya, rancangannya terinspirasi dunia fashion Hongkong. Banyak rancangan dari negera itu
yang digemari anak muda Indonesia. “Rancangannya sederhana. Satu busana sudah mewakili sebagai atasan dan bawahan,” lanjutnya.

Bentuk jumpsuit, lanjut Devona, juga sebagai pilihan bagi remaja yang tak ingin ribet. “Kadang kita selalu bingung untuk memadukan potongan baju. Nah, kalau model jumpsuit ini kan sudah tak perlu memadupadankan lagi,” ungkapnya. (han/rie/opi/jpnn)
Senin, 01 Oktober 2012

Perusahaan Periklanan Bersaing Tidak Sehat

perusahaan reklamePersaingan antarperusahaan periklanan makin mengarah tidak sehat karena saling banting harga dengan cara memberikan diskon yang besar. Selain itu, juga harus berhadapan dengan media massa yang juga menawarkan iklan sendiri. Hal itu diungkapkan Harris Thajeb, oleh Ketua Umum Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (P3I), Harris Thajeb, ditemui pada Konperensi Daerah (Konferda) XI P3I Jatim di Surabaya Plaza Hotel (SPH), Sabtu (29/9).

“Saat ini pemasang iklan lebih memilih membanting harganya, baik yang diperoleh melalui biro iklan atau langsung dari media. Penawaran termurah selalu yang dipilih. Namun pemasang iklan tidak memikirkan apakah dengan harga murah bisa mempromosikan produk dengan maksimal, atau hanya sekadar promosi,” kata Harris yang juga Presdir PT Dentsu Group Indonesia ini.

Ia mengatakan, biaya iklan itu memang mahal, baik iklan di teve, radio, atau outdoor. Ia memamparkan, iklan di teve biaya produksi dan biaya tayangnya mahal. Sedangkan iklan outdoor, biaya produksinya murah namun pajak yang dibayar pengiklan mahal. Belum lagi ditambah biaya
di lapangan yang juga mahal, seperti bayar listrik dan bayar penjaga papan reklame.

“Saya berharap perusahaan periklanan lebih meangedepankan kualitas daripada memberikan diskon yang besar hanya untuk mendapatkan harga murah tapi belum tentu mengena,” kata Harris. Ia menambahkan, perusahaan periklanan dituntut lebih kreatif dengan meningkatkan Sumber Daya Manusia (SDM) agar bisa bersaing dengan sehat.

Apalagi perusahaan periklanan asing sudah masuk Indonesia. Ada yang dengan menggandeng perusahaan lokal, ada juga membawa bendera perusahaan sendiri. Karena itu, Harris berharap ketua P3I Jatim periode 2012-2016 yang terpilih pada Konperda XI bisa membawa P3I Jatim lebih maju. Selain itu, bisa membawa perusahaan periklanan Jatim lebih kreatif dan bersaing dengan perusahaan asing.

Konperda P3I Jatim yang berlangsung sehari berlangsung lancar dan sesuai jadwal. Pasangan Haries Purwoko dan Agus Winoto terpilih untuk memimpin P3I Jatim periode 2012-2016. Kemenangan pasangan itu sudah diperkirakan sebelumnya. Karena paling siap dan telah memiliki visi dan misi yang tertulis. Sebelum pemilihan, semua peserta Konperda XI P3I Jatim telah membacanya.

Beberapa peserta yang ditemui Radar Surabaya mengatakan, Haries Purwoko adalah anggota baru P3I Jatim. Nama dia juga belum banyak dikenal anggota. Namun karena memiliki pengalaman dalam berorganisasi, peserta Konperda optimistis Haries bisa membawa P3I Jatim lebih. “Saya optimistis Harries bisa membawa P3I Jatim menjadi lebih baik,” kata Mufid Wahyudi, Ketua P3I Jatim periode 2008-2012 di tempat sama.

Pasangan Harries Purwoko dan Agus Winoto meraih 21 suara, dari 44 suara. Pasangan Pranaya Yuda dan Eko yang mendapatkan 15 suara, dan pasangan Rudi dan Ida yang mendapatkan 7 suara, dan satu suara abstain. Menurut Harries, dalam menghadapi tantangan pasar bebas, pembinaan
pengusaha periklanan lokal mendesak dilakukan. Tentunya agar mereka menjadi pengusaha yang berwawasan global, berdaya inovasi dan kreasi tinggi serta tetap setia terhadap kearifan lokal. (za/hen/jpnn)
Rumput Liar News, periklanan
Minggu, 30 September 2012

Kain Nusantara Menjelajah Fashion Dunia

kain nusantaraDunia fashion boleh mengikuti tren dunia. Tapi, keindahan kain Nusantara tetap memiliki daya pikat bagi para desainer. Tak heran, meski brand fashion dunia menyerbu berbagai pusat perbelanjaan di Surabaya, desain busana dengan karakter nusantara tetap menjadi pilihan para fashionista masa kini.

Jane Andriani, Retail Division Director The Grand Palace Departement Store, mengatakan, karakter kain Nusantara memang tidak ada habis pesonanya di mata seluruh desainer dunia. Bahkan, banyak desainer yang langsung terkenal karena konsentrasi dengan kekayaan kain Nusantara. Banyak jenis kain Nusantara yang bisa digarap mulai dari batik, tenun, songket, tenun ikat dan lain-lain.

“Dari hari ke hari di depstore kami, rancangan klasik dengan Nusantara tidak pernah turun peminatnya, terus meningkat,” kata Jane di sela-sela The Grand Palace Departement Store 1st Anniversary Celebration di Atrium Grand City, kemarin. Lantaran alasan itu, pihaknya pun cukup memperhatikan dan menjaga kualitas rancangan kain Nusantara di depstore-nya. Termasuk, dengan desain dan model busana yang diminati oleh kalangan menengah atas.

“Konsep busananya lebih elegan, bahannya kain Nusantara juga sangat berkualitas. Tidak kalah dengan brand luar negeri,” ucapnya. Selain menampilkan brand dalam negeri, di acara yang dikemas dalam Birthday Celebration sehari non stop itu juga digelar beberapa kegiatan menarik. Ada fashion show anak-anak, dewasa, demo make up, talkshow dan cosplay competition. “Hari ini (kemarin, red), semua pengunjung mendaparkan voucher belanja,” pungkas Jane. (han/het/jpnn)
Rumput Liar fashion, kain nusantara, News
Sabtu, 01 September 2012

Literasi Media Harus Masuk Kurikulum Pendidikan

Lliterasi mediaiterasi Media Harus Masuk Kurikulum Pendidikan. Banyaknya berbagai tayangan televisi yang kerap melanggar aturan dan etika penyiaran membuat banyak kalangan prihatin. Masyarakat yang gencar melaprkan berbagai acara yang melanggar seringkali hilang kesabaran. oleh karena itu, berbagai elemen peduli media termasuk Komisi penyiaran indonesia (KPI), berupaya meningkatkan kesadaran masyarakat melek media.

Mengajak masyarakat untuk memiliki pengetahuan terhadap media dinilai penting oleh Komisioner KPI Pusat Nina Mutmainnah. Dengan fakta bahwa anak-anak sulit terhindarkan lagi dari berbagai tayangan televisi, Nina menilai bahwa pendidikan literasi perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan Indonesia.

"Negara lain sudah ada yang pernah memasukan pendidikan literasi media ini, yaitu sejak tahun 1970-an. Program ini sangat ideal kalau bisa masuk di kurikulum sekolah, karena bisa terintegrasi dengan pelajaran yang ada," ucap Nina dalam workshop Literasi Media bertajuk "Menciptakan Masyarakat Melek Media", Kamis (30/8/2012), di gedung Pascasarjana Ilkom UI, Salemba, Jakarta.

Menurutnya, masuknya literasi media dalam kurikulum pendidikan akan memberikan manfaat bagi masyarakat untuk membentengi diri dari efek buruk tayangan televisi.

"Selama ini sekolah sudah memberikan pendidikan karakter, pendidikan lingkungan, dan pendidikan anti korupsi, tetapi kesadaran akan literasi media ini belum juga diterapkan, dan masih bersaing untuk bisa disisipkan," katanya.

Lebih baik, lanjutnya, literasi media diberikan di setiap jenjang pendidikabn, bahkan sampai pendidikan tinggi, seperti yang sudah dilakukan oleh sejumlah perguruan tinggi. Dia juga berharap, perguruan tinggi yang belum memasukkan kajian literiasi media bisa mengupayakannya dengan menyisipkannya ke dalam mata kuliah lainnya.

"Kalau di beberapa perguruan tinggi atau universitas sudah ada yang memasukkannya sebagai mata kuliah, karena mereka sudah terbuka dan ada begitu banyak materi dan kajian medianya," tuturnya.

"Saya sendiri selalu menyisipkan materi ini untuk bisa diterima oleh mahasiswa saya, sehingga saya mengharapkan mereka yang juga sebagai bagian masyarakat kita menjadi lebih kritis terhadap media. Publik lain pun berhak untuk melakukan protes dan mengkritik tayangan televisi yang tidak sehat," tambahnya kemudian.

Gerakan Publik Memantau Media


Selain itu, dia juga mengatakan, upaya penyebaran pendidikan melek media untuk masyarakat dapat dilakukan dengan mencontoh lembaga seperti Parents TV Council (PTC) yang menghimpun acara-acara televisi dan film serta melakukan boikot tayangan buruk dengan berbicara langsung kepada pengiklannya.

"Ya, cara lain adalah kita mencoba untuk menyepakati bersama dalam gerakan menghimpun tanda tangan bersinergi dengan APINA atau Civil society dan lembaga sosial, agar pihak pengiklan mau menginvestasikan dana iklan mereka pada acara-acara yang berkualitas, bukan acara yang memberikan dampak buruk bagi masyarakat," ungkapnya.

Lebih lanjut, KPI tetap menerima aduan dari masyarakat yang menemukan tayangan televisi yang tidak bermanfaat atau melecehkan kaum tertentu. Nina mengingatkan agar masyarakat tak takut untuk melaporkan tayangan yang memberikan efek buruk kepada generasi muda dan kehidupan sosial masyarakat.Media pun diharapkan bisa lebih arif dan peduli terhadap konten yang disiarkan, bukan hanya mengejar keuntungan semata.

 

Editor: ade,

sumber: kompas
Jumat, 20 Juli 2012

Antara Media Sosial dan Jurnalisme

media literasi

Ilmu Komunikasi - Berita Komunikasi

Media sosial dengan jurnalisme memang dua hal yang berbeda. Namun keduanya mempunyai fungsi yang sama yaitu menyajikan informasi. meski seringkali konteks keduanya cukup berbeda.

Hampir 2/3 pengguna internet di seluruh dunia mengunjungi media sosial seperti Facebook dan Twitter, dengan melupakan koran untuk mencari informasi. Selain itu, 51 persen orang yang berusia 18 hingga 24 tahun percaya bahwa media sosial lebih cepat menyajikan berita terkini daripada media mainstream.

Disampaikan oleh Wakil Pemimpin Redaksi Akhmad Kusaeni pada Seminar Nasional Media Literasi pada Era Digital yang diselenggarakan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di Jakarta, Kamis (12/7/2012).

Tapi, lanjut Ahmad, keduanya punya karakter yang berbeda. “Media sosial hanya menyajikan rumor, sedangkan media mainstream menyampaikan kebenaran melalui konfirmasi, verifikasi dan investigasi,” katanya.

Berita adalah informasi yang diolah dengan semangat dan keterampilan profesionalisme wartawan dengan tujuan mengabdi kepada publik. “Apabila media mainstream mempertahankan kebenaran tersebut, maka mereka akan tetap hidup. Karena pengguna media sosial akan tetap mencari kebenaran melalui media yang selama ini mereka percaya,” imbuh Akhmad.

Apakah media sosial mengancam keberadaan media mainstream? “Kalau orang bilang media sosial ancaman bagi media mainstream, jawabannya bisa ya bisa tidak,”  kata pendiri detik.com Budiono Darsono.

Menurutnya, kehadiran media sosial justru menjadi tantangan bagi wartawan dan perusahaan-perusahaan media. Bisa jadi ini bukan ancaman, karena ketika dulu radio dianggap akan mematikan media cetak, ternyata terbukti tidak benar. “Hingga kini koran masih dinikmati para pembaca setianya,” kata Budiono.

Media sosial seperti Twitter, lanjutnya, sebagai sarana percakapan semua orang tentang berbagai hal yang benar maupun yang belum tentu benar. Untuk itulah, informasi yang didapat dari media sosial dapat dipakai sebagai referensi awal dalam membuat berita.

Media sosial dapat dimanfaatkan media mainstream untuk memantau dan mengoreksi berita.  “Tidak itu saja, media sosial juga bisa memakmurkan perusahaan-perusahaan media mainstream. Contohnya, tentu saja, detik.com. Satu twit iklan di detik.com itu dijual Rp20 juta," katanya.

Sementara itu, CEO Kompas Gramedia Agung Adi Prasetyo optimistis internet tidak akan memusnahkan industri media. “Kini yang menjadi pesaing media cetak secara nyata adalah media televisi, radio, dan media digital,” katanya.

Kekuatan media cetak, lanjut Agung, hingga kini masih dipersepsi sebagai trusted media dan sumber informasi kredibel. Dan yang mesti dilakukan dalam menjawab tantangan media sosial agar tetap bertahan adalah selalu kreatif baik dari sisi konten maupun bisnis. “Caranya, dengan investasi pada pre-press dan percetakan serta kreatif premium dan inovasi redaksi, “ kata Agung.

Sementara itu, Chief Editor PlazaMSN Wicaksono menyebutkan media mainstream tak bisa melepaskan diri dari perkembangan internet. “Karena internet menjadi sumber berbagai informasi bagi masyarakat dunia,” katanya.

Kini dan seterusnya, lanjut Wicaksono, semua orang bahkan dapat menyampaikan informasi terkini secara bebas melalui media sosial dalam satu wadah yang bernama jurnalisme warga (citizen journalism). “Mungkin banyak informasi "sampah" di media sosial, tapi bisa jadi banyak juga informasi yang benar,” imbuhnya.

Seminar yang berlangsung dua sesi itu membahas Media Literasi pada Era Digital, Kontradiksi antara Jurnalisme dan Sosial Media. Apapun pembicara padsa sesi pertama adalah Dahlan Iskan (Ketua Serikat Perusahaan Pers), Akhmad Kusaeni (Wakil Pemimpin Redaksi Kantor Berita Antara), Enda Nasution (Blogger), Hanny Kusumawati (Maverick).

Sementara itu pada sesi kedua menghadirkan Agung Adi Prasetyo (CEO Kompas Gramedia), Budiono Darsono (Detik.com), Wicaksono ‘Ndoro Kakung’ (Chief Editor PlasaMSN), dan Arya Mahendra Sinulingga (MNC Media).

Dari seminar yang diselenggarkan AJI Indonesia dalam rangka ulang tahunnya yang ke-18 itu media sosial dan jurnalisme sebaiknya bersinergi dan saling melengkapi. Agar tetap terpercaya,  media mainstream harus menjaga kredibilitas jurnalistiknya. Mereka hanya dapat bertahan di tengah media sosial yang semakin digemari, dengan tetap mengelola integritas dan konsistensinya dalam menyampaikan informasi.***
Foto: Mahdi Muhammad/AJI Indonesia

Presentasi para pembicara: 1. Akhmad Kusarni, Wakil Pemimpin Redaksi Antara