Postingan Populer

Tampilkan postingan dengan label CERITA SUKSES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA SUKSES. Tampilkan semua postingan
Minggu, 01 Juli 2012

Dari Kaset Bekas, David Jadi Bos Alat Musik Beromzet Rp 350 Juta

Hidup itu seperti roda yang selalu berputar, kadang di atas dan tidak menutup kemungkinan berada di bawah. Jika kini pria bernama lengkap David P Siagian mempunyai toko alat musik dengan penghasilan Rp350 juta per bulan, dulu hidupnya sempat terkatung-katung di  Ibu Kota dengan pekerjaan sebagai penjual kaset bekas.

Ayah dua orang anak yang akrab disapa David ini tidak mendapatkan secara instan dari usaha yang kini telah sukses diraihnya. Bila sekarang David telah memiliki ruko (rumah toko) empat lantai di kawasan strategis Margonda Raya, Depok, dulu sebelum sukses itu datang, pria berambut gondrong ini sempat merasakan pahit getir berjuang di Kota Jakarta.

”Saya sempat menjual kaset bekas dari penyanyi dan band rock lawas, tanpa toko dan gerobak, hanya beralaskan terpal plastik,” ujar David mengenang masa lalunya. Meskipun hanya memiliki usaha penjualan kaset bekas, namun usaha yang diakuinya tanpa modal tersebut, pelan tapi pasti berbuah pendapatan yang lumayan. Dengan ilmu manajemen yang diperoleh dari pengalaman hidupnya, David mulai menabung sedikit demi sedikit dari penghasilannya menjajakan kaset bekas. ”Kalau ditanya modal, bener-benar nol besar. Saat itu saya hanya bermodalkan 30 kaset bekas koleksi pribadi yang dibawa dari rumah,” akunya. Tahun 2004 menjadi langkah awal David membuka toko musik yang kini telah enam tahun dibantu dengan beberapa sahabat.

Meskipun hanya memiliki modal yang pas-pasan, namun kelahiran Padang, 6 Februari 1974 ini yakin, mampu mengelola toko musik dengan kekurangan yang dimilikinya saat itu. ”Semua serba paspasan, tokonya masih ngontrak, alat musiknya ada yang beli, namun tidak banyak juga yang berupa titipan dari relasi atau teman,” ungkap David. Tidak hanya menjajakan berbagai macam jenis alat musik, David yang memang pernah kuliah teknik mesin itu, melebarkan sayap usahanya dengan menawarkan jasa servis alat musik dan sound sistem. Meski mengaku tidak pernah mengiklankan usahanya, pria berparas kurus ini mengaku selalu kebanjiran orderan servis reparasi beberapa alat musik.

”Mereka (pelanggan) biasanya tahu dari mulut ke mulut, saya tidak pernah mengiklankan ke media massa,sekarang sudah lebih dari cukup pelanggan yang datang ke toko ini,” beber David. Toko yang bernama Toko Musik Dav ini bisa dibilang toko musik terlengkap di kota Depok. Toko yang beralamat di Jalan Margonda Raya No 1 itu menawarkan berbagai macam jenis alat musik baik tiup, gesek, petik dan sebagainya. Selain berbagai jenis alat musik, pelanggan juga bisa mendapatkan perlengkapan alat musik lainnya, seperti sound sistem, amplifier, senar gitar, sarung gitar, semua lengkap di toko berornamen sederhana ini. Saat ditanya kunci kesuksesan tokonya, David menjawab secara bijak, kuncinya adalah loyalitas yang tinggi kepada pelanggan.

Dia tidak hanya menganggap pelanggan sebagai mitra bisnis, tetapi juga relasi yang akrab sebagai kawan. Setiap pelanggan yang datang ke Toko Musik Dav, selalu diberi penawaran yang terbaik. David tidak pernah membedakan pelanggan kelas menengah atas yang sebagian besar musisi terkenal, maupun pemain musik jalanan, semuanya dilayani secara total. ”Biasanya sebelum membeli, kami memberi jasa konsultasi gratis dulu,mereka mau alat musik seperti apa? Apakah untuk akustik atau elektrik? Harga yang mereka tawarkan berapa? Di sini harga barang fleksibel, masih bisa ditawar,” ujar penyuka musik rock ini. Selain itu, hal yang selalu membuat pelanggan datang dan terus datang adalah pelayanan purna jual di Toko Musik Dav.

Jika di tempat lain, pelanggan tidak mendapatkan garansi dari barang yang telah dibelinya, lain halnya di toko ini, pelanggan bisa menyervis dengan harga yang relatif murah bahkan gratis, jika kerusakan memang disebabkan oleh produsen. ”Sebagian besar pelanggan kami setelah membeli alat musik di sini lama kelamaan jadi teman dan sahabat, karena mereka sudah nyaman saat beli alat musik di sini,” umbar David. Dengan pelayanan ekstra tersebut, tak ayal pria berkulit gelap ini mampu meraup keuntungan kotor hingga Rp350 juta per bulannya. Bos yang memiliki 12 orang karyawan ini berencana untuk melebarkan usahanya hingga menjadi lebih luas lagi.

Tahun depan, penyuka automotif ini bersiap untuk membangun one stop musik store yang rencananya akan dibangun di ruko empat lantai yang baru dibelinya. Tidak hanya menjual alat musik dan perlengkapannya, di toko yang rencananya di buka Maret 2011 itu, David berencana membuat studio rekaman, studio musik, event orgenizer, servis center, dan pelatihan musik. Dia mengakui, saat ini usaha terbarunya itu sudah berjalan 50 persen, namun David masih harus mencari sumber daya manusia (SDM) yang bisa mengelola dan mudah diajak kerja sama. Pria yang telah memiliki empat rumah ini mengaku tidak mau terburu-buru untuk membangun usaha barunya tersebut, tanpa melupakan target, David lebih berkonsentrasi dengan apa yang sedang dijalaninya saat ini.

Memasuki masa liburan sekolah seperti saat ini, David mengaku, usaha yang dikelolanya tersebut bisa meningkat pendapatannya 20 hingga 40 persen. Bahkan pada libur hari raya Idul Fitri kemarin, pria keturunan Batak tersebut kebanjiran pelanggan hingga dua kali lipat dibanding biasanya. Menurut dia, setelah hari raya banyak pelanggan yang memperoleh THR (tunjangan hari raya), untuk itu kemarin David hanya menutup tokonya pada hari pertama dan kedua Lebaran saja.

Meskipun telah menjadi pengusaha toko musik sukses, pria yang pernah bermain musik di kafe ini tidak melupakan teman seperjuangan saat masih sulit dulu.

David bahkan sempat membiayai beberapa temannya hingga ke perguruan tinggi. Sebagian besar karyawannya adalah sahabatnya sejak dulu. Meskipun begitu, pria yang hobi menggunakan motor gede ini pernah dibohongi dengan seorang kerabatnya sendiri. Bukannya kapok, David namun malah simpatik dengan orang yang telah membawa kabur uangnya tersebut. Dirinya menyayangkan hal tersebut bisa terjadi, pada hal David selalu ingin membantu rekan-rekannya yang kesulitan. Sebelum toko musik yang dikelolanya sukses seperti sekarang, seorang kerabat sempat menawarkan kerja sama bisnis untuk memodalkan toko musik tersebut.

Awalnya David tertarik, karena modal yang ditawarkan cukup besar, yaitu senilai Rp2 miliar, namun setelah bertukar pikiran dan membagi ide pembangunan usaha, keduanya batal menjalin kerja sama karena perbedaan konsep dan ideologi. Menurut David, relasinya tersebut hanya mementingkan pendapatan dan keuntungan tanpa mengutamakan pelayanan kepada konsumen. Sedangkan filosofinya, yaitu konsumen adalah sahabat, sedangkan keuntungan hanyalah sebagai bonus. Penyuka makanan pedas ini mempunyai pelanggan dari kalangan musisi terkenal,di antaranya Radja, Bonky BIP dan sebagian besar artis Republik Cinta Manajemen yang dikelola oleh musisi Ahmad Dhani.

Saat road show (konser keliling), artis-artis Republik Cinta Manajemen biasanya membutuhkan perlengkapan alat musik seperti senar gitar, pickgitar, stick drum,dan hal lainnya, di sanalah David berperan sebagai distributor untuk menyediakan keperluan musisi tersebut dalam bermain musik. Meskipun telah mempunyai dua cabang toko musik,yang jaraknya bersebelahan, pria yang berencana membuat album musik rock ini masih menjual kaset bekas di Toko Musik Dav. Dirinya berikrar tidak pernah melupakan asal mula dagangan yang telah menyukseskannya tersebut.

”Sampai sekarang saya masih menjual kaset bekas, peminatnya juga masih banyak,t api sekarang yang dijual bukan hanya kaset, tapi juga laser disc, kepingan hitam,dan VHS.Semua berawal dari barang bekas ini dan saya akan tetap menjual meskipun hingga tidak ada peminatnya lagi,” kata David sambil berkelakar.

Kisah Sukses Hendy Setiono - Kebab Turki

Kebab Turki - Satu lagi anak muda Surabaya menorehkan prestasi besar. Dia adalah Hendy Setiono, presiden direktur Kebab Turki Baba Rafi. Prestasinya tidak hanya diakui di dalam negeri, tapi juga di mancanegara. Mengapa?

Wajah dan penampilannya masih layaknya anak muda. Siang itu, dia berkemeja batik cokelat dipadu celana hitam. Cukup sederhana. Tak tecermin tampang seorang bos dari perusahaan beromzet lebih dari Rp 1 miliar per bulan.
Itulah penampilan sehari-hari Hendy Setiono, Presdir Kebab Turki Baba Rafi Surabaya. Oleh majalah Tempo edisi akhir 2006, dia dinobatkan sebagai salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang dinilai mengubah Indonesia. Tentu, sebuah pengakuan yang membanggakan bagi Hendy. Apalagi, bisnis yang dia geluti tergolong bisnis yang tak akrab di telinga. Usianya pun masih 28 tahun! Wow, masih sangat muda untuk seorang bos yang memiliki 100 outlet di 16 kota di Indonesia.

Dengan ramah, pria kelahiran Surabaya, 30 Maret 1983, tersebut mempersilakan Jawa Pos masuk ke kantornya di Ruko Manyar Garden Regency, kawasan Nginden Semolo. “Biasanya saya masuk kantor agak siang. Tapi, karena hari ini ada janji dengan Anda, saya agak meruput datang ke kantor,” ujar Hendy mengawali perbincangan.

Ketika itu, jarum jam sudah menunjuk pukul 11.00. Bagi Hendy, pukul 11.00 masih terbilang pagi karena biasanya dirinya baru masuk kantor lebih dari pukul 12.00.
Dia lalu menceritakan awal mula bisnis kebab yang digelutinya tersebut. Kebab adalah makanan khas Timur Tengah (Timteng) yang dibuat dari daging sapi panggang, diracik dengan sayuran segar, dan dibumbui mayonaise, lalu digulung dengan tortila. Sebenarnya, kebab banyak beredar di Qatar dan negara Timteng lainnya. Namun, kata Hendy, kebab paling enak adalah dari Istambul, Turki. Karena itu, dia menggunakan “trade mark” Turki untuk menarik calon pelanggan.

Hendy mengisahkan, pada Mei 2003, dirinya mengunjungi ayahnya yang bertugas di perusahaan minyak di Qatar. Selama di negeri yang baru sukses melaksanakan Asian Games itu, dia banyak menemui kedai kebab yang dijubeli warga setempat. Lantaran penasaran, Hendy yang mengaku hobi makan itu lantas mencoba makanan yang lezat bila dimakan dalam kondisi masih panas tersebut. “Ternyata, rasanya sangat enak. Saya tak menduga rasanya seperti itu,” ungkap sulung dua bersaudara pasangan Ir H Bambang Sudiono dan Endah Setijowati tersebut.

Tak hanya perutnya kenyang, saat itu di benak Hendy langsung terbersit pikiran untuk membuka usaha kebab di Indonesia. Alasannya, selain belum banyak usaha semacam itu, di Indonesia terdapat warga keturunan Timteng yang menyebar di berbagai kota. “Orang Indonesia juga banyak yang naik haji atau umrah. Biasanya, mereka pernah merasakan kebab di Makkah atau Madinah. Nah, mereka bisa bernostalgia makan kebab cukup di outlet saya,” jelasnya. “Makanya, selama di Qatar, saya juga memanfaatkan waktu untuk berburu resep kebab. Saya mencarinya di kedai kebab yang paling ramai pengunjungnya,” jelas Hendy yang beristri Nilamsari, 28, dan kini sudah dikaruniai dua anak, Rafi Darmawan, 8, dan Reva Audrey Zahifa, 7, tersebut.

Begitu tiba kembali di Surabaya, dia langsung menyusun strategi bisnis. Yang pertama dilakukan adalah mencari partner. Dia tidak ingin usahanya asal-asalan. Dia kemudian bertemu Hasan Baraja, kawan bisnisnya yang kebetulan juga senang kuliner. Awalnya, mereka sengaja melakukan trial and error untuk menjajaki peluang bisnis serta pangsa pasarnya. “Ternyata, resep kebab dari Qatar yang rasa kapulaga dan cengkehnya cukup kuat tidak begitu disukai konsumen. Ukurannya pun terlalu besar. Makanya, kami memodifikasi rasa dan ukuran yang pas supaya lebih familier dengan orang Indonesia,”katanya.

September 2003, gerobak jualan kebab pertamanya mulai beroperasi. Tepatnya di salah satu pojok Jalan Nginden Semolo, berdekatan dengan area kampus dan tempat tinggalnya. Mengapa gerobak? Hendy mempunyai alasan. “Membuat gerobak lebih murah daripada membuat kedai permanen. Tidak perlu banyak modal. Gerobak pun fleksibel, bisa dipindah-pindah,” ujarnya.

Soal nama kedainya Baba Rafi, dia mengaku terinspirasi nama anak pertamanya, Rafi Darmawan. “Diberi nama Kebab Pak Hendy kok tidak komersial,” katanya lalu tergelak. Saat itulah terlintas di benaknya nama si sulung, Rafi. “Kalau dipikir-pikir, pakai nama Baba Rafi, lucu juga rasanya. Baba kan berarti bapak, jadi Baba Rafi berarti bapaknya Rafi.”

Mengawali sebuah bisnis memang tidak mudah. Apalagi untuk meraih sukses seperti sekarang. Suka duka pun dirasakan calon bapak tiga anak itu. “Misalnya, uang berjualan dibawa lari karyawan. Banyak karyawan yang keluar masuk. Baru beberapa minggu bekerja sudah minta keluar,” ungkapnya. Bahkan, pernah suatu hari, karena tak mempunyai karyawan, Hendy dan istri berjualan. Hari itu kebetulan hujan. Tak banyak orang membeli kebab. Makanya, pemasukan pun sedikit. “Uang hasil berjualan hari itu digunakan membeli makan di warung seafood saja tak cukup. Wah, itu pengalaman pahit yang selalu kami kenang,” ujarnya.

Tak ingin setengah-setengah dalam menjalankan bisnis, lulusan SMA Negeri 5 Surabaya tersebut akhirnya memutuskan berhenti dari bangku kuliah pada tahun kedua. “Saya OD alias out duluan. Tapi, saya tidak menyesal meninggalkan bangku kuliah untuk membangun usaha,” tegas Hendy yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Informatika ITS tersebut.

Keputusan dia untuk meninggalkan bangku kuliah guna menekuni bisnis kebab tersebut sempat ditentang orang tuanya. Mereka ingin Hendy menjadi orang kantoran seperti ayahnya. Karena itu, ketika dia meminta bantuan modal, orang tuanya menganggap bisnis yang akan dilakoni tersebut adalah proyek iseng. “Mereka pikir saya tidak serius pada bisnis itu. Dalam hati, saya ingin membuktikan kepada bapak dan ibu bahwa kelak saya pasti berhasil,” jelasnya.
Yang luar biasa, kesuksesan bisnis Hendy tak perlu waktu lama. Hanya dalam 3-4 tahun, dia berhasil mengembangkan sayap di mana-mana. Bahkan, hingga pengujung 2006, pengusaha muda tersebut mencatat telah memiliki 100 outlet Kebab Turki Baba Rafi yang tersebar di 16 kota di Indonesia. Tidak hanya di Jawa, tapi juga di Bali, Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.

Ke depan, Hendy berencana mengembangkan usahanya itu ke luar negeri. Dua negara yang diincar adalah Malaysia dan Thailand. “TV BBC London dan majalah Business Week International pernah meliput usaha saya tersebut. Setelah itu, ada orang yang menawari saya membuka outlet di Trinidad & Tobago serta Kamboja,” jelasnya.

Sukses bisnis kebab waralaba Hendy itu juga menghasilkan berbagai award, baik dari dalam maupun luar negeri. Di antaranya, ISMBEA (Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award) 2006 yang diberikan menteri koperasi dan UKM. Hendy juga ditahbiskan sebagai ASIA’s Best Entrepreneur Under 25 oleh majalah Business Week International 2006. Untuk meraih award tersebut, dia bersaing dengan 20 kandidat pengusaha lain dari berbagai negara di Asia.

Pria kalem itu juga mendapatkan penghargaan Citra Pengusaha Berprestasi Indonesia Abad Ke-21 yang dianugerahkan Profesi Indonesia. Kemudian, penghargaan Enterprise 50 dari majalah SWA untuk 50 perusahaan yang berkembang dalam setahun terakhir. Serta, di pengujung 2006, majalah Tempo menobatkan Hendy menjadi salah seorang di antara sepuluh tokoh pilihan yang mengubah Indonesia.

Apa yang akan dilakukan Hendy selain mengembangkan usahanya ke mancanegara? Tampaknya, dia ingin seperti raja komputer, Bill Gates. “Saya belajar dari para pengusaha sukses. Salah satunya, Bill Gates. Dia bisa mendirikan kerajaan Microsoft, meski tidak tamat sekolah. Jadi, intinya, untuk menjadi orang sukses, tidak harus memiliki gelar akademis dan indeks prestasi (IP) tinggi,” tegasnya lalu tertawa.

Kisah Pedagang Es Jadi Pebisnis Sukses

Berbagai pekerjaan kasar pernah dilakoninya, dari kuli angkut, supir angkot hingga tukang es. Berkat kemauannya belajar, pria berdarah Arab-Betawi ini mampu menjadi pengusaha sukses. Setelah melewati krismon, bisnisnya pun terus beranak-pinak.
Kenangan berdagang es sekoteng pada 1980 di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, tak akan pernah dilupakan Hisyam Said Bawahab. Karena, itulah detik-detik awal perubahan drastis dirinya dari orang kecil menjadi pebisnis sukses seperti sekarang. Saat itu pria keturunan Arab-Betawi ini berkenalan dengan salah seorang pembeli es sekotengnya yang ternyata pemilik UI Metal Work (UMW), Umawar. Waktu itu dia baru pulang dari Inggris. Nawarin samaane mau nggak ikut dia kerja di perusahaan yang mau dibikinnya di bidang metal works, ujar Hisyam dengan logat Betawi yang kental.

 
Pria kelahiran 15 April 1954 ini mengaku saat itu ia tidak mengerti apa itu metal works. Metalitu besi. Works itu bekerja. Lalu kalau digabung, besinya diapain? katanya mengingat pertanyaan lugunya 30 tahun silam. Namun, ia pikir saat itu tak ada salahnya mencoba. Ia pun menerima tawaran sebagai staf pemasaran. Saya juga ngeliatin anak-anak bikin apa, ujarnya. Dua tahun kemudian UMW mulai mengkhususkan diri pada pembuatan perangkat dapur (kitchen equipment). Potensi bisnis ini besar karena saat itu belum banyak pemainnya. Hampir semua pengadaan barang untuk kategori ini di berbagai hotel dan perusahaan mengandalkan impor. Dengan keleluasaan seperti itu, UMW cukup berjaya saat itu. Di sinilah Hisyam banyak belajar tentang bisnis. Tahun pertama, banyak proses kerja yang perlu disesuaikan. Mesin bubut saya berdiameter 60 cm. Setelah sampai ke lokasi, ternyata yang harus dibubut berdiameter 1 meter. Saya harus balik lagi ke kantor, kata pria berusia 56 tahun ini sambil mengingat kerja kerasnya saat itu.

Setahun kemudian, pertumbuhan bisnis UMW turun. Pada momentum inilah Hisyam memilih merintis bisnis sendiri: memproduksi perangkat dapur dengan dibantu tiga karyawan. Hanya setahun berjalan, usaha ini kandas. Supaya dapurnya tetap mengepul, sulung dari 9 bersaudara ini kembali berjualan es. Ketika sedang duduk menanti pembeli es cendolnya di daerah Matraman, Jakarta Pusat, Hisyam ditawari seorang kawan baiknya untuk memakai gedung miliknya. Pake tuh tempat gue, kosong. Ntar kalau ada duit, baru bayar, ujar kawannya itu. Di gedung inilah ia menjalankan roda bisnisnya yang sempat terhenti, dan kembali diawali dengan tiga karyawan. Kali ini ia bertekad lebih serius. Pada 1985, secara resmi PT Hatindo Metal Utama berdiri — Hatindo adalah singkatan Hati Indonesia. Produk-produk yang dihasilkannya: meja, tempat cuci piring, pemanas, pendingin, exhaust van dan kompor. Di samping memproduksi, ia juga mengimpor produk lain seperti oven, mixer, steamer dan rice cooker besar yang kualitasnya lebih bagus.

Diakui Hisyam, awalnya ia tidak tahu persis seluk-beluk produksi dan pengadaan peralatan dapur. Namun, ia tak menolak order. Setelah order masuk, barulah ia pelajari struktur perangkat tersebut. Caranya, ia tak segan-segan membongkar barang impor (pendingin, misalnya) untuk mengetahui komponen di dalamnya. Dari sini, ia lalu membuat pendingin versi lokal. Uniknya, kliennya tak keberatan, sehingga Hisyam pun kerap meminta klien membeli perangkat impor yang mereka inginkan, lalu Hatindo akan menirunya.

Sedikit demi sedikit hasil dari bisnis ini ia kumpulkan. Selanjutnya, sebagian dana tersebut digunakan untuk membeli tanah dan membangun pabrik di Ciputat, Jakarta Selatan, seluas 1.000 m2. Sebagian lainnya ia gunakan untuk membeli mesin bekas dan bahan baku yang didapatnya dari kawasan Kota, Jakarta Barat. Seiring dengan pertumbuhan bisnisnya, karyawan pun bertambah. Pelanggannya tersebar di mana-mana, bahkan sampai luar Jawa. Rahasianya cuma satu: bisa membuktikan punya produk yang tidak kalah bagus kualitasnya dari produk luar negeri. Selanjutnya, ya mau capek dan kerja keras, ungkapnya sembari menambahkan, saat itu ia kian sering mengikuti berbagai pameran baik di dalam maupun di luar negeri. Melihat perkembangan usahanya yang pesat, Bank BNI menawarinya kredit. Saat itu ia pun mengambil Kredit Usaha Kecil BNI sebesar Rp 50 juta. Hisyam tidak membutuhkan waktu lama untuk melunasinya: hanya setahun.

Lama-kelamaan, bisnis ini mulai banyak diminati orang. Namun, Hatindo tak goyah. Perusahaan ini tetap melanjutkan pelayanan 24 jam terhadap konsumen. Kalau sore karyawan pulang, saya taruh dua karyawan untuk menjaga, takutnya ada telepon klien masuk, kata Hisyam. Kelebihan lain, Hatindo selalu percaya diri terhadap semua permintaan. Pantang bagi Hatindo menolak. Bagi Hisyam, tak ada yang tidak mungkin. Sesulit apa pun permintaan klien, selalu ada jalan keluarnya. Ia menekankan pada anak buahnya untuk secepat mungkin mengeksekusi permintaan klien. Penawaran tidak boleh lama. Orang telepon sekarang, ini hari juga harus sampai ke dia, ujarnya tandas. Penawaran di sini biasanya menyertakan gambar, perhitungan, spesifikasi, dan lain-lain yang terkait dengan order. Tidak ada kata besok. Lama pembuatan barang sekitar 1-3 bulan. Saya planning pakai kapal laut pengiriman barang impor. Tapi saya lihat outlet-nya sudah mau buka. Maka, saya ubah naikair plane, papar Hisyam mencontohkan salah satu cara kerjanya.

Prinsipnya: kibarkan bendera dulu. Nanti kalau bendera sudah berkibar, kerugian (uang) yang sebelumnya bisa kembali. Baginya, keuntungan merupakam hal nomor dua setelah pelayanan. Sampai-sampai kalau saya datang ke klien, saya bilang, Gue dateng ke sini bukan cari order.Gue datang cari lu, kata Hisyam. Rupanya cara tersebut cukup jitu untuk mengambil hati calon klien. Menurutnya, hal terpenting pertama adalah klien mau memakai jasanya. Jika jumlah klien sudah banyak, untuk cari klien baru ia cukup bilang, Masak ente gak mau pakai jasa kita?

Pendekatan ini cukup berhasil. Saat itu, hampir bisa dipastikan, kalangan restoran besar, perusahaan multinasional dan hotel berbintang lima (pada 1980-an dan 1990-an), menggunakan jasa Hisyam. Sebutlah, Hotel Hilton dan resto Ponderosa di Widjojo Center. Okupansi hotel sangat tinggi. Mereka sudah tidak mikir harga. Yang penting, siapa yang bisa cepat, dia yang dapat order, ujar ayah tiga anak ini. Bahkan, Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, pernah menjadi kliennya. Ia punya istilah yang unik untuk usahanya. Kepusingan orang kami ambil, kami jadiin duit. Kalau dipusingin lagi, orang malah lari, ungkapnya. Dan, ia menyebut manajemen usahanya sebagai gaya manajemen jalanan.

Pada 1985, ia berkenalan dengan Ron Muller, yang ketika itu merupakan pemegang master franchise Pizza Hut (PH) di Indonesia. Ron ternyata memercayakan pengadaan alat-alat dapurnya pada Hatindo. Ekspansi PH di Indonesia sangat cepat. Hanya dibutuhkan waktu empat tahun untuk membuka 75 gerai. Hatindolah yang ketiban rezeki mengerjakan perangkat dan instalasi dapur untuk 75 gerai PH saat itu. Hisyam mengaku, omset terbesar sampai sebelum 1995 berasal dari order PH. Malah, ia dipercaya memproduksi boks pengantar PH (ditempelkan di motor petugas). Dalam sebulan, Hatindo memproduksi ratusan ribu boks. Derasnya order dari PH membuatnya harus menyewa pabrik di Pulogadung, Jakarta Timur. Sepanjang malam, Hisyam tiada henti memperhatikan kelangsungan proses kerja di pabrik. Dari order boks pengantar piza saja, ia bisa meraih keuntungan Rp 30 juta/bulan — angka yang cukup besar kala itu. Selama sepuluh tahun ia mendapatkan order dari PH untuk produksi boks pengantar pizza. Nekuk uangnya aja di dompet ampe susah, ujar Hisyam berkelakar. Bisa dikatakan, periode 1985-95 merupakan masa jaya Hatindo. Saat itu jumlah karyawannya mencapai 250 orang.

Hisyam mengakui bisnis yang dijalaninya saat itu sangat menggiurkan. Gambarannya, harga ditentukan dari seberapa tinggi tingkat kesulitan dan harga barang yang diimpor. Seperangkat dapur untuk resto nilainya bisa mencapai Rp 300 juta/gerai. Marginnya 80%-100% per order. Ada tiga unsur perhitungan keuntungan: material, proses dan profit — perbandingannya sama. Dengan margin yang cukup besar itu, akhirnya ia berhasil menyelesaikan pembangunan pabrik barunya di Ciputat.

Sampai kemudian pada 1998 datanglah bencana itu: krisis moneter. Mayoritas klien lamanya tidak lagi berekspansi, bahkan banyak di antaranya yang menutup gerai. Alhasil, omset Hatindo merosot drastis. Sejak krismon, kami susah. Modal yang dibutuhkan besar, tapi untungnya tipis, ungkap Hisyam. Boleh jadi, itu karena nilai tukar rupiah yang anjlok drastis akibat krismon dan mahalnya bahan baku. Bahkan, kini ia tidak bekerja sama lagi dengan PH. Untunglah, ia masih bisa mendapat klien baru, di antaranya resto Dairy Queen, restosandwich Cali Deli dan pabrik sepatu.

Tahun 2000, pelan-pelan bisnis Hatindo mulai merangkak naik. Dan, pada 2001 ia memutuskan mulai mencoba bisnis lain. Setelah hanya menjadi pemasok perangkat dapur untuk resto piza, ia beralih menjadi pemilik resto sejenis, yang memakai merek Papa Ron’s Pizza. Gerai pertamanya ada di Warung Buncit. Gerai ini juga merupakan gerai Papa Ron’s pertama di Indonesia. Ia membeli lisensi franchise dari Ron Muller, pendirinya. Sukses dengan gerai pertama, Hisyam membuka gerai kedua dan ketiga di Permata Hijau, Jakarta Selatan, dan Depok. Hubungan baiknya dengan Ron Muller, yang diawali di Pizza Hut, masih terjalin sampai sekarang.

Diungkapkan Hisyam, modal pembangunan satu gerai Papa Ron’s tergolong besar. Khusus interior dan dapur memakan dana Rp 1,5 miliar. Ini belum termasuk modal tanah dan bangunan. Alhasil, nilai investasinya minimal Rp 5 miliar per gerai. Setiap gerai mempunyai perbedaan dalam periode kembali modal. Namun, ada beberapa gerai yang mampu meraihbreakeven point dalam waktu lima tahun. Satu gerai membutuhkan 25-35 karyawan.

Properti merupakan bisnis Hisyam selanjutnya. Lebih dari lima gedung di sepanjang jalan Warung Buncit merupakan properti yang dibangunnya. Sebenarnya, pada 1994 ia sudah merintis bisnis ini. Saat itu ia mencoba peruntungan pertama dengan membeli tanah dan membangun perumahan Pesona Agung (23 unit rumah) di Depok, seluas 2 ha. Pada 1996 semua rumah tersebut terjual. Satu rumah disisakannya sebagai rumah pribadinya. Margin yang diambilnya 50%-60%. Ini berbeda dari tren industri properti sekarang di mana margin yang diperoleh hanya 30%. Sekarang daya belinya lemah. Jadi, kami tidak bisa menahan lama.

Hisyam mengakui bisnis properti yang dijalaninya tidak berbadan hukum. Kegiatan bisnis ini

bersifat perorangan. Polanya adalah dengan membeli tanah di berbagai kawasan. Setelah dibangun untuk kepentingan ruko, gedung perkantoran atau perumahan, ia pun akan menjualnya.

Pelan tetapi pasti, proyek propertinya bertambah. Ia mencermati, tak ada rumah mewah yang tak laku. Alhasil, ia membangun 22 rumah di Sektor 9 Bintaro, dilanjutkan dengan membangun perumahan Pesona Eksklusif. Ia juga membangun 35 rumah serupa di kawasan pinggiran Jakarta seperti Ciputat, Supratman, Pondokrangon dan Jatimakmur. Beberapa di antaranya sedang dalam pembangunan. Prinsipnya, setiap ia menyelesaikan satu proyek pembangunan, walaupun belum terjual, tenaga kerja akan dialihkan untuk mengerjakan proyek pembangunan selanjutnya. Sayang bila ada tenaga tidak dimanfaatkan, ujar mantan anggota Dewan Pakar Partai Keadilan Sejahtera ini.

Selain sukses dengan bisnis perumahan, Hisyam membangun beberapa gedung di sepanjang Jalan Warung Buncit: Menara Takaful (gedung pertamanya), Menara Kospin, Ranch Market, dan beberapa ruko lain. Ia sengaja mengambil kawasan Warung Buncit. Alasannya, Daerahnya manis, kata Hisyam seraya menerangkan, daerah manis artinya cepat terjual. Padahal, diakuinya, harga tanah di wilayah ini tergolong mahal, kini mencapai Rp 10 juta/m2. Ada beberapa gedung miliknya yang laku terjual seharga Rp 20-an miliar di kawasan itu.

Tak hanya properti yang memikat Hisyam. Diam-diam ia merintis bisnis distributor pendingin dari Taiwan. Untuk itu, ia mendirikan anak usaha dengan nama PT Kota Jaya. Begitu produk Cina masuk dengan harga lebih murah, pendingin kami kalah harga, ujarnya. Sekarang Kota Jaya yang secara operasional ditangani anak pertama Hisyam juga membuat perangkat dapur berbahan dasar stainless steel.

Saat ini bisnis Hisyam beragam. Ia tak hanya berbisnis perangkat dapur, properti dan alat pendingin, tetapi juga alat kesehatan, biro perjalanan dan agensi periklanan. Akan tetapi, di bisnis-bisnis yang dirintis saudaranya itu, ia hanya menaruh kepemilikan saham, masing-masing sekitar 25%.

Bagi Hisyam, memulai bisnis tak perlu berpikir lama. Hanya ada satu pertimbangan utama: bisnis ini mempunyai potensi berkembang ataukah tidak. Selanjutnya, ia akan mengeksekusi rencana itu. Bisnis itu berbuat. Bukan ngomong. Ngga ada tuh kata nanti buat saya. Waktu saya muda, setahun ini bisa bikin berapa proyek. Jalan semua., ujarnya bangga.

Tahun ini Hisyam berencana membuka bisnis baru yang berkaitan dengan kartu belanja dan televisi kabel. Dikatakannya, setelah melintasi berbagai industri bisnis, ia banyak mendapat pelajaran berharga untuk tetap menjaga kelangsungan usaha. Kalau buka itu gampang,maintain-nya yang sulit, katanya. Ia berkeyakinan, berbisnis apa pun, selama masih ada kemauan dan kerja keras, pasti bisa dibangun.

Menurut Noragraito, Manajer Operasional PT Entertainment International Tbk. — perusahaan yang menaungi merek Papa Ron’s, salah satu sifat Hisyam yang menonjol adalah keterbukaan. Di setiap bisnisnya, Hisyam blak-blakan ngomongin soal modal dan keuntungan. Ia ingin karyawannya pun merasa memiliki perusahaan tersebut, kata lelaki 58 tahun itu. Hisyam juga tak pelit berbagi ilmu. Jika ada karyawannya yang merasa kesulitan mengerjakan tugas, Hisyam tak segan-segan memberitahu strategi pentingnya. Dia selalu bilang, ‘Ini sawah kalian. Kalau kalian serius menggarapnya, hasilnya pasti bagus dan kembali untuk kalian’, kata Noragraito menirukan perkataan Hisyam. Menurutnya, sifat itu terkadang menjadi bumerang bagi Hisyam. Banyak anak buahnya yang keluar karena mempunyai bekal tentang strategi berbisnis di industri yang sama.

Karakter Hisyam lainnya yang menonjol adalah kepeduliannya pada anak buah. Tidak lihat level. Asal karyawannya berprestasi dan ada keuntungan lebih, dalam setahun pasti ada saja anak buahnya yang dibiayai naik haji, ujar pria yang sudah 23 tahun mengenal Hisyam itu.

Kisah Sukses Raja Selang dan Regulator Gas

Dari hanya sebagai pedagang, Sukianto menjelma menjadi raja di bisnis selang dan regulator gas. Kini perusahaannya mulai merambah produk home appliancelainnya. Bagaimana pria yang hanya mengantongi ijazah SMA ini melakoninya?
Jeli membaca peluang. Itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan sosok Sukianto. Kejelian pria kelahiran Medan 18 Januari 1968 ini dalam membaca peluang bisnis telah mengubah jalan hidupnya, dari hanya sebagai karyawan biasa menjadi pengusaha yang sangat sukses.

 
Tahun 1986, karena keterbatasan biaya, Sukianto tak bisa melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Dengan mengantongi ijazah SMA, ia nekat merantau ke Jakarta untuk membantu pamannya yang memiliki usaha kelontong. “Saya berasal dari keluarga yang kurang mampu. Keinginan melanjutkan sekolah terpaksa harus saya pendam karena keterbatasan biaya,” ujar Sukianto mengenang.

Datang ke Jakarta, Sukianto membawa ambisi yang sangat besar, yaitu memperbaiki perekonomian dia dan keluarganya. Namun, ia pun sangat sadar bahwa ia punya banyak keterbatasan, termasuk minimnya bekal pendidikan.

Akan tetapi, Sukianto tidak mau menyerah pada keadaan. Ia sangat percaya, jika ia mau berusaha dengan mengerahkan seluruh kemampuan terbaiknya, hasilnya akan berbuah manis. Prinsip tersebut juga ia terapkan selama menjadi karyawan di bagian pemasaran PT Gunung Mas. Terbukti ia berhasil menjadi salah seorang karyawan yang melejit prestasinya.

Akhir tahun 1990, suami Sherly S. ini menapaki babak baru dalam perjalanan hidupnya. Bermodal uang tabungannya, ia memberanikan diri pindah kuadran menjadi pengusaha dengan mengibarkan bendera PT Multi Lestari (ML). Yang menarik, bisnis yang dipilihnya berhubungan dengan kebutuhan rumah tangga, khususnya dapur, yaitu menjual selang dan regulator gas. “Ide awal bisnis ini sebenarnya dari adik saya yang bekerja di perusahaan sejenis. Kami melihat bisnis ini cukup menguntungkan dan potensinya sangat besar,” ungkap Sukianto.

Langkah yang dilakukan Sukianto terbilang cukup nekat. Maklum, kala itu kompor gas belum menjadi pilihan masyarakat untuk keperluan memasak. Harga minyak tanah masih jauh di bawah karena mendapat subsidi dari pemerintah.

Namun, fakta tersebut tak membuat Sukianto patah semangat. Dia mengatakan, di luar negeri, gas sudah menjadi pilihan utama sebagai bahan bakar di dapur. “Saya percaya, tren itu juga akan berlaku di Indonesia,” ujar Sukianto meyakinkan dirinya ketika itu.

Sukianto membangun usahanya secara bertahap. “Awalnya kami hanya sebagai pedagang,” tutur ayah dua anak ini. ML mulanya hanya memasarkan produk yang dibeli dari importir. Produk itu kemudian dikemas ulang dan di-branding dengan menggunakan merek Gascomp. ML sendiri fokus dalam hal pemasaran yang saat itu lebih banyak dilakukan dengan poladirect selling dibanding pemasaran melalui peritel.

Gascomp mendapat sambutan pasar yang cukup baik. “Hampir tak ada hambatan berarti yang kami temui kala pertama memasarkan produk ini, karena kami hanya membidik kota besar pada tahap awal,” ujarnya lagi.

Melihat perkembangan yang cukup baik, tahun 1992, ML mulai mengimpor sendiri barang-barang yang dipasarkannya. Dengan pola ini, ML semakin gencar memasarkan produknya, karena bisa mengelola sendiri stok barang yang dimiliki. Perkembangan selanjutnya, ML mulai membuat desain dan inovasi sendiri, walaupun produksinya tetap dilakukan di luar negeri. “Kami mengembangkan usaha ini secara bertahap,” Sukianto menambahkan.

Memasuki era tahun 2000-an, pasar semakin berkembang, sehingga persaingan pun kian tajam. Menyikapi kondisi ini, ML harus lebih efisien. Maka, sejak tahun 2001, ML memindahkan produksi barangnya ke Indonesia. “Kami harus efisien dalam hal biaya karena persaingan mulai ketat,” kata Sukianto seraya menambahkan, biaya produksi di Indonesia bisa ditekan lebih rendah.

Walau proses produksi dilakukan di pabrik milik orang lain, lanjutnya, ML tetap memberlakukanquality control yang ketat. Bagi Sukianto, kualitas merupakan hal yang paling penting dan tidak bisa ditawar. Menurutnya, Gascomp dapat berkembang dan menjadi besar hingga sekarang karena konsisten dalam mempertahankan kualitas produknya.

Tahun 2006, kala pemerintah menggulirkan kebijakan konversi minyak tanah ke gas menjadi berkah bagi ML. Apalagi ML merupakan salah satu dari tiga perusahaan yang ditunjuk pemerintah sebagai pemasok tabung gas dan perlengkapannya dalam program konversi tersebut. Total hingga saat ini sudah lebih dari 15 juta paket (kompor, selang, regulator dan tabung gas) yang dipasarkan ML lewat jalur konversi tersebut.

Bersamaan dengan itu, ML pun menggelontorkan investasi untuk membangun pabrik di kawasan Jababeka, Bekasi. Tahun 2008, ML membuka pabrik kedua yang masih berlokasi di kawasan yang sama. “Total investasi yang sudah kami benamkan mencapai Rp 65 miliar,” Sukianto mengakui.

Bersamaan dengan beroperasinya pabrik kedua, ML merambah ke beberapa produk home appliance lainnya, seperti kompor gas, rice cooker, exhaust dan tabung gas ukuran 3 kg. Sukianto menyebutkan, ketika membangun pabrik sendiri, ML banyak belajar soal teknologi dari perusahaan asal Italia. Selain itu, ML pun menerapkan sistem manajemen mutu ISO 9001:2008. “Kami ingin semua proses sesuai standar agar bisa menghasilkan produk yang bermutu,” ia menegaskan.

Sekarang posisi ML di bisnis ini sudah cukup mapan dan disegani. Pasalnya, selama ini ML mampu mempertahankan kualitas produknya sehingga terus mendapat kepercayaan baik dari konsumen maupun peritel. “Kami tidak ingin bersaing dalam hal harga. Bagi kami yang paling utama adalah kualitas,” ia menandaskan.

Bukti bahwa ML sangat mengutamakan kualitas adalah kala pemerintah memberlakukan Standar Nasional Industri (SNI) tahun 2004. ML merupakan satu-satunya perusahaan yang melakukan penarikan produk dari pasaran hanya untuk melengkapi kode SNI pada produknya. “Biaya penarikan produk tergolong cukup besar, hingga Rp 6 miliar. Kami hanya ingin menaati aturan yang berlaku,” kata Sukianto lagi.

Menurutnya, untuk sampai pada posisi saat ini bukanlah perkara mudah. Pada awal perjalanannya ML hampir tidak menemukan hambatan yang berarti, tetapi ketika krisis moneter melanda negeri ini tahun 1997-1998, ML terkena imbas yang sangat parah. “Utang kami gagal bayar,” ungkap Sukianto.

Namun, Sukianto masih memiliki optimisme yang sangat tinggi. “Kami memutuskan untuk menjadwal ulang utang ketimbang harus pailit, karena kami masih bisa mencetak laba,” ujarnya. Seluruh utang, baik utang dalam negeri maupun luar negeri dijadwal ulang. “Tiga tahun kemudian kami sudah bisa rebound,” ia menjelaskan.

Menurut Jahja B. Soenarjo, bisnis regulator dan selang gas merupakan bisnis yang sangat menarik. Bisnis ini berkembang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir seiring bergulirnya kebijakan pemerintah tentang konversi minyak tanah ke gas. “Bisnis ini mempunyai potensi yang sangat besar ke depan,” ungkap Chief Operation Officer Dirextion Consulting ini.

Akan tetapi, lanjutnya, persaingan di kategori produk ini juga sangat ketat. “Ada lebih dari 80 merek yang beredar,” ujarnya. Maka, Jahja menyarankan agar Gascomp tetap konsisten menggarap pasar yang sudah ditekuninya selama ini, yaitu segmen menengah. “Gascomp jangan terjebak masuk ke segmen yang lebih bawah, karena bisa merusak pasar yang sudah ada.”

Sukianto sependapat dengan Jahja. Dia mengatakan, beberapa tahun lalu, ML memang pernah mencoba masuk ke segmen yang lebih bawah dengan mengusung merek yang berbeda. Namun kenyataannya, keberadaan merek tersebut malah menjadi beban. “Akhirnya sekarang kami putuskan hanya menggunakan merek Gascomp,” katanya.

Sejak tahun lalu, Sukianto melakukan spin off di perusahaanya. Dia membentuk satu perusahaan baru yaitu PT Gascomp Indonesia (GI) yang ditujukan sebagai badan hukum yang memasarkan produk Gascomp. “Multi Lestari hanya fokus dalam hal produksi, termasuk memproduksi produk orang lain.”

Dia menambahkan, untuk mengutilisasi mesin yang dimiliki, sejak tahun lalu, ML menerima pesanan produksi dari merek lain, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. “Kapasitas terpasang kami cukup besar, harus dimaksimalkan,” kata Sukianto.

Dengan terbentuknya Gascomp, pola distribusi yang digunakan Gascomp mengalami perubahan. Khusus di Pulau Jawa dan beberapa wilayah Sumatera, Gascomp menggunakan pola distribusi langsung dengan mengandalkan kantor cabang yang kini berjumlah 17. Kantor cabang itu tak hanya sebagai gudang dan pusat pemasaran, tetapi juga menjadi pusat layanan produk Gascomp. “Kami ingin lebih dekat dengan konsumen,” ujar Sukianto.

Jahja menambahkan, distribusi memang berperan sangat penting di bisnis ini. Menurutnya, langkah Gascomp untuk meningkatkan distribusinya sangatlah tepat. “Karena produk yang beredar sangat banyak, maka distribusi menjadi sangat penting. Konsumen harus mudah mendapatkan produk Gascomp,” ujarnya.

Menurut Jahja, langkah yang harus dilakukan Gascomp adalah mengedukasi pasar. Dia menyebutkan, saat ini masyarakat belum paham soal karekteristik produk selang dan regulator gas. “Produk ini punya daur hidup agar tetap aman digunakan. Jangan tunggu rusak baru diganti,” kata Jahja, yang menyarankan agar Gascomp lebih gencar lagi mengedukasi, khususnya lewat jalur below the line agar dapat langsung menyentuh target pasar dan konsumen.

Ke depan, Sukianto mengungkapkan, perusahaannya akan tetap konsisten dalam mengembangkan pasar. Masa depan merek Gascomp sangatlah baik. Ini bisa dilihat dari kontribusi penjualan yang mulai berimbang antara produk kompor, selang dan regulator gas. “Kami akan terus berinovasi untuk menghasilkan produk berkualitas dengan harga bersaing,” katanya menegaskan.

Sukianto berencana pula menjadikan Gascomp sebagai merek global. Saat ini ia mulai menjajaki memasarkan Gascomp ke luar negeri. “Kami sedang menjajaki ke beberapa negara Timur Tengah dan Asia Tenggara. Tapi fokus kami tetap di pasar dalam negeri.”

Kisah Sukses HB Naveen Menjadi Raja Multimedia

Bermodal tekad yang kuat, HB Naveen berhasil pindah kuadran secara mulus. Kini, Falcon Interactive menjadi salah satu perusahaan multimedia yang disegani di Tanah Air dan mulai menjajaki pasar internasional.
Jabatan mentereng dengan fasilitas kelas satu ternyata tak cukup buat meredam niat HB Naveen berpindah kuadran. Padahal, kala itu di usianya yang masih sangat muda, ia sudah menduduki posisi sangat penting, yaitu Direktur Bhakti Media.

 
Di perusahaan yang kemudian berubah nama menjadi MNC Corp. itu, Naveen dinilai punya potensi sangat bagus. Maklum, sebelumnya ia berhasil melambungkan program seperti Fear Factors, Who Wants to be A Millionaire, dan beberapa program lainnya. Karena alasan itu pulalah, keputusan Naveen mengundurkan diri sangat disayangkan oleh petinggi Bhakti Media.

Namun, tekad pria kelahiran Jakarta 12 Desember 1971 ini sudah bulat. “Saat itu adalah momentum yang sangat tepat,” ujar Naveen. Pertengahan tahun 2006, Naveen resmi mundur dari Bhakti Media untuk memulai petualangan baru sebagai wirausaha.

Tak sedikit “ongkos” yang harus dikeluarkan untuk pindah kuadran. Seluruh uang tabungan dan pesangon yang diperolehnya dari Bhakti Media dijadikan sebagai modal untuk mendirikan perusahaan yang membidangi multimedia yang dia beri nama Falcon Interactive. “Mobil pun saya tukar dengan yang lebih murah agar mendapat tambahan modal,” ungkap Naveen.

Bukan itu saja pengorbanannya. Naveen pun harus rela melepas seluruh atribut yang pernah melekat pada dirinya. “Saya turun langsung ke lapangan untuk menemui AE-AE (account executive) dari perusahaan telko,” ujarnya. Padahal, Naveen mengaku kenal dengan para petinggi di perusahaan telko itu. “Saya benar-benar mulai dari nol.”

Naveen menuturkan, salah satu alasannya memilih bidang multimedia, atau yang dia sebut sebagai new media, karena bidang ini merupakan bidang baru yang belum dikuasai oleh pemain besar. Dia menyebutkan, media-media tradisional sudah dikuasai oleh konglomerasi besar dengan modal berlimpah. “Di industri ini semua berstatus sama, sebagai start-up.”

Proyek pertama yang berhasil direngkuh Falcon adalah handset Esia Hidayah bekerja sama dengan PT Bakrie Telecom Tbk. Handset yang ditujukan untuk konsumen Muslim tersebut ternyata meraih sukses cukup besar. Lebih dari satu juta unit terjual. “Ini menjadikan semangat kami semakin tinggi,” kata Naveen.

Falcon pun kemudian menggandeng Flexi dan Kompas untuk meluncurkan Kompas Phone. Walau penjualan Kompas Phone tak sebaik Esia Hidayah, kehadiran produk ini semakin menancapkan nama Falcon di jajaran perusahaan telko di Indonesia. “Kami semakin banyak menjual aplikasi, baik yang berbasis teks maupun gambar ke perusahaan telko,” ia berujar.

Nama Falcon kian dikenal ketika masuk ke bisnis nada sambung pribadi (NSP). Tidak tanggung-tanggung, Falcon langsung menggandeng dua artis legendaris yang punya penggemar dalam jumlah yang masif, yaitu Iwan Fals dan Rhoma Irama. Kedua artis ini terbukti semakin melambungkan nama Falcon di jajaran pelaku industri multimedia di Tanah Air.

Melihat perkembangan perusahaan berjalan dengan sangat baik, rasa percaya diri Naveen pun makin tebal. Ia semakin yakin akan masa depan perusahaan dan bisnis yang dia geluti. “Semua yang berbasis mobile dan Internet punya potensi yang besar untuk terus berkembang,” ucapnya.

Naveen tidak asal ucap. Dia menyebutkan, dari tahun ke tahun jumlah pengguna ponsel di Indonesia terus meningkat signifikan. Demikian pula jumlah pengakses Internet yang terus tumbuh. “Itu adalah momentum kami untuk fokus di dua bidang tersebut,” kata Naveen, yang lalu memutuskan serius di dua bidang industri, yaitu teknologi dan entertainment.

Di bidang teknologi, Falcon tetap fokus dalam memasarkan aplikasi berbasis mobile lewat perusahaan telko. Selain itu, Falcon juga merambah ke bisnis portal Internet. Sekarang, Falcon setidaknya mengelola tiga portal, yaitu portal barang diskon (www.diskongokil.com), portal olah raga (www.cekskor.com) dan portal infotainment (www.lipstik.tv).

Walau bisnis Internet pernah mengalami crash pada awal 2000-an, menurut Naveen, bukan berarti bisnis tersebut sudah tidak memiliki potensi. Keadaan saat ini sangat jauh berbeda dibanding awal 2000-an, yang mana penetrasi PC dan Internet jauh lebih baik.

Sementara di bidang entertainment, Falcon mengembangkan sayap bisnisnya dengan merambah industri rekaman. “Dari NSP kami bergerak ke full track dan physical product,” ia menerangkan. Dua artis yang sebelumnya sudah mereka gandeng, Iwan Fals dan Rhoma Irama tetap dipertahankan. Falcon pun kemudian menggandeng artis yang tengah naik daun seperti Goliath, Rido Rhoma dan beberapa lainnya.

Di bisnis rekaman, Naveen tergolong cukup nekad dan berani mengambil risiko. “Kalau tidak ada risiko saya resah,” ujarnya sambil tertawa. Terbukti ia berani mengontrak (almarhum) Mbah Surip yang kala itu sudah ditolak oleh beberapa perusahaan rekaman lain karena dianggap tidak memiliki daya jual. Toh nyatanya, Mbah Surip lewat lagunya Tak Gendongberhasil meraih sukses besar.

Di bisnis rekaman, Naveen menganut prinsip yang sangat unik, yaitu tidak mau kalah. Dia menceritakan, suatu ketika ia pernah bertemu dengan boy band Smash dan ia menawari Smash bergabung dengan perusahaan rekamannya. “Saya tawarkan kepada mereka, kalian mau jadi kawan atau lawan. Karena mereka tidak menjawab, saya anggap mereka mau jadi lawan,” ceritanya. Dari situ, ia menggandeng personel Opera Van Java dan membentuk boy band yang diberi nama Smosh (pelesetan dari Smash).

Namun, mantan Manajer Akun McCann Ericsson ini sadar bahwa Smosh hanyalah proyek sesaat. Maka, format dan namanya pun diubah menjadi 7 Ikans yang merupakan pelesetan dari girl band 7 Icons. Terakhir, Falcon mengontrak Briptu Norman yang beberapa waktu lalu sempat menjadi buah bibir di dunia hiburan di Tanah Air. “Saya ingin melakukan bisnis ini dengan fun. Saya enjoy, konsumen juga suka,” ia menandaskan.

Di bisnis rekaman, Naveen berani mengklaim bahwa Falcon berada di posisi tiga besar. “Kami sudah menjadi label yang sangat diperhitungkan di negeri ini,” ujarnya. Dari industri rekaman, tahun ini Falcon mulai merambah bisnis film. Oktober ini, mereka meluncurkan film yang berjudul Mestakung, bekerja sama dengan Mizan. Adapun November nanti hendak diluncurkan film terbaru Rhoma Irama yang berjudul Sajadah Ka’bah. “Tahun depan kami rencananya akan membuat 6 film,” lanjutnya.

Naveen mengatakan, salah satu cita-cita yang belum tercapai adalah masuk ke program TV. Namun, hal itu sebentar lagi akan terwujud karena Falcon sudah mendapatkan kontrak dari salah satu stasiun TV untuk membuat 13 FTV. “Perjuangan kami di TV masih 1,5-2 tahun lagi,” ujarnya seraya menambahkan, Falcon tengah mencari rumah produksi untuk diakuisisi agar bisa mempercepat perkembangan Falcon di program TV.

Menurut Yoris Sebastian, Naveen sudah membawa Falcon pada track yang benar. Dalam menggarap industri kreatif, pengembangan sayap usaha harus terus dilakukan. “Di industri kreatif, kita tidak bisa hanya bertumpu pada satu bidang,” kata Yoris.

Selain harus bisa membaca pasar, Yoris menyebut bahwa intuisi juga sangat dibutuhkan dalam menggarap industri ini. Dalam hal ini, Yoris memuji Naveen sebagai sosok yang punya intuisi tajam. “Ketika mereka ambil Mbah Surip semua orang mencemooh karena dianggap tidak punya daya jual. Buktinya Mbah Surip sukses.”

Naveen sepakat dengan Yoris. Menurutnya, sebagai seorang wirausaha dia harus bisa membaca arah pergerakan pasar. Karena alasan itu, Naveen berani berinvestasi dengan membeli 10% saham salah satu perusahaan di Silicon Valley yang membidangi video streaming. “Kami melihat tren pasar akan terus bergerak, dari teks ke gambar, kemudian akan bergerak ke video,” ujarnya. Sayang, Naveen enggan menyebut besarnya investasi di perusahaan itu.

Naveen memang sangat agresif mengembangkan Falcon. Namun, hampir semua bisnis yang dia kembangkan adalah hasil pengembangan sendiri. “Kami jarang sekali melakukan akuisisi. Satu-satunya akuisisi yang kami lakukan adalah pada www.carakita.com,” ujarnya lagi.

Carakita.com merupakan pintu masuk Falcon ke bisnis pendidikan. Website yang membidangi kursus bahasa Inggris secara online ini tadinya dimiliki oleh orang Bali yang sangat mengerti bagaimana pola belajar bahasa Inggris bagi orang Indonesia. “Nantinya kami akan bawa carakita.com ke sekolah offline dan mobile,” katanya seraya menyebutkan, saat ini mereka tengah membangun sebuah sekolah di Bali untuk mendukung carakita.com.

Selain carakita.com, Falcon di tahun 2011 ini mengembangkan pusat belajar membaca Al Quran yang berlokasi di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, yaitu Quran Learning Center (QLC). Sama seperti carakita.com, QLC juga akan disinergikan dengan bisnis lainnya. “Nantinya semua bisnis kami akan masuk ke jalur mobile dan Internet,” ungkap lulusan Program Eksekutif dari Harvard University ini.

Naveen mengatakan, kini organisasi Falcon sudah berkembang sedemikian rupa. Total tenaga kerja yang tergabung di kelompok usaha ini mencapai lebih dari 200 orang. Adapun omset per tahun yang berhasil diraup Falcon mencapai Rp 400 miliar. “Organisasi ini harus terus berkembang dan satu komando. Dan saya masih menjadi sentral di organisasi ini,” ucapnya.

Dia mengatakan, gaya kepemimpinan yang diterapkannya selama ini adalah leading by example. Ia harus turun langsung ke lapangan, sambil memastikan semua berjalan sebagaimana mestinya. “Belum saatnya saya menjadi seperti Sir Alex Fergusson yang hanya berada di pinggir lapangan. Saya masih harus turun bermain, paling tidak sampai 10 tahun mendatang,” ungkapnya.

Sambil “bermain”, Naveen pun harus terus memompa motivasi jajaran di bawahnya. Menurutnya, sebagai perusahaan multimedia, Falcon harus terus berinovasi untuk melahirkan hal baru yang diminati pasar. “Kami harus bisa membaca tren dan menjadikannya sebagai peluang.”

Menurut Yoris, salah satu permasalahan di perusahaan seperti Falcon adalah ketergantungan pada satu individu. “Naveen bisa mengambil posisi seperti Steve Jobs yang sangat sentral dan menjadi otak perusahaan atau membangun organisasi yang inovatif. Saya berharap dia lebih memilih yang kedua,” ungkap Yoris seraya menambahkan, perusahaan seperti Falcon harus terus kreatif dan inovatif. “Itu hanya bisa dicapai jika kultur di perusahaan juga mendukung,” ujar penulis buku Creative Junkies ini.

Yang menarik, berbeda dari perusahaan lain yang berstatus start-up, Naveen tak sedikit pun berniat menjual usaha yang dibangunnya dari nol ini kepada investor asing. “Saya merasa tidak ada investor asing yang bisa membantu saya mengembangkan usaha ini. Ini teritori saya. Saya lebih mengerti karakter bisnis dan pasar Indonesia,” katanya tegas.

Naveen malah berencana membawa Falcon menjadi perusahaan publik. “Langkah ke sana sudah mulai kami rintis. Awal tahun 2012 kami akan melakukan beauty contest untuk mencariunderwriter,” katanya. “Menjadi perusahaan publik bukan untuk mencari dana, tapi agar kami lebih terkontrol.”

Bisnis yang digeluti Falcon, lanjut Naveen, masih punya masa depan yang sangat cerah. Maka, dia pun berani mengambil keputusan yang mengandung risiko. Seperti yang saat ini tengah dilakukannya, yaitu membeli 25 ribu handset yang nantinya akan dijadikanhandphone, ditujukan untuk pasar anak-anak. “Faktanya sekarang banyak anak-anak yang sudah menggunakan handphone, tapi handphone yang mereka gunakan adalah untuk orang dewasa. Kami akan luncurkan handphone yang khusus untuk anak-anak,” kata Naveen lagi.

“Nekad bukan berarti tanpa perhitungan. Yang pasti kami harus bisa membaca pergerakan pasar,” kata Naveen. Saat ini Naveen pun tengah membangun divisi internasional. Dia sudah menjajaki untuk masuk ke beberapa negara berkembang yang karakter pasarnya mirip dengan Indonesia, seperti Bangladesh, Nigeria, Filipina, dan beberapa negara lain. “Nantinya kami akan memasarkan aplikasi kami ke luar negeri,” katanya bertekad.

Kisah Sukses Ayam Bakar Wong Solo : Melebarkan Sayap dalam Senyap

Siapa bilang Grup Ayam Bakar Wong Solo “terbakar dan hangus”? Meski di Jakarta menciut, kinerjanya tetap solid. Perubahan strategi menjadi kuncinya bertahan dalam badai.
Apa kabar Resto Ayam Bakar Wong Solo?

Selama tiga tahun terakhir, jaringan resto asal Medan yang sempat beken di seputar Jabodetabek ini memang relatif tak terdengar gaungnya. Satu per satu gerainya tutup, sebagaimana bisa dilihat pada RM Wong Solo Ramawangun, Kalimalang ataupun Depok. Padahal 5-6 tahun lalu, resto ini sempat berpendar menjadi bintang di orbit resto keluarga karena menu ayam bakarnya yangmak nyuss. Melihat gelagat yang muram, tak mengherankan, tak sedikit orang yang mengatakan, jaringan resto ini sudah tamat riwayatnya. Seperti ayam bakarnya, ia seakan-akan hangus terbakar.

 
Anggapan ini sepintas sangat sahih. Anda yang tinggal di Jabodetabek bisa melihat resto Ayam Bakar Wong Solo (ABWS) menyusut drastis. Ambil contoh, pada masa puncaknya ada 13 gerai di Jakarta dengan skala besar (investasi di atas Rp 1,5 M per gerai), kini tinggal satu, di Casablanca, Jl. Lapangan Rose. Di luar itu memang masih ada dua gerai lagi, tetapi bukan resto besar yang stand alone, melainkan gerai lebih kecil dalam foodcourt gedung sebagaimana di Mal Ambasador. Namun, benarkah kelompok bisnis ini benar-benar remuk?

Simpan dulu asumsi itu. Grup Wong Solo (GWS) masih eksis. “Di Jabotabek resto kami yang pakai brand Ayam Bakar Wong Solo memang turun. Namun, di luar Jakarta kami tetap ramai dan tumbuh baik. Tiap bulan kami selalu buka cabang baru,” ujar Sugiri, Direktur Operasional GWS. Saat ini mereka telah memiliki 105 gerai (titik pelayanan). Tak hanya nama RM Ayam Bakar Wong Solo yang diusung. Nama lainnya adalah resto Ayam Penyet Surabaya, Mie Jogja Pak Karso, Iga Bakar Mas Giri dan Mi Ayam Jamur Medan. Lho?

Ya, GWS eksis dengan wajah dan strategi yang baru, yang merupakan jawaban atas dinamika bisnis yang melingkupinya. Diakui atau tidak, topik poligami yang sempat dikumandangkan Puspo Wardoyo, pendiri GSW, di berbagai kesempatan – bahkan jenis menu masakan di restonya pun ada yang dinamai Jus Poligami – berpengaruh besar. Di kota-kota yang pengaruh medianya begitu kuat seperti Jakarta dan Yogyakarta dampak kampanye beristri lebih dari satu itu sangat memukul resto ABWS.

Kampanye yang digalakkan menonjok balik ABWS yang positioning-nya adalah family resto. Tanpa dikomando, kalangan ibu-ibu – terutama — memboikot. Mereka membenci praktik poligami. Mereka tak suka Puspo. Mereka tak mau keluarganya menginjakkan kaki di resto yang di dalamnya ada Jus Poligami. Maka, sepilah resto ini.

Namun, Sugiri mengelak kemunduran ini karena dampak kampanye poligami. “Kami justru lebih terpukul saat kasus flu burung yang pertama dulu, tahun 2002. Itu berpengaruh besar dan memangkas keuntungan kami,” kata Sugiri yang bergabung dengan GSW sejak baru memiliki dua gerai. Selain itu, untuk gerai di Jakarta, menurutnya, penutupan lebih disebabkan mahalnya biaya operasional – lebih tepatnya biaya sewa properti restoran. Dia menyebut salah satu resto ABWS di Jakarta Timur yang ditutup karena biaya sewa yang peningkatannya luar biasa dalam tiga tahun. Awal menyewa Rp 75 juta/bulan. Namun 3-4 tahun kemudian melonjak jadi Rp 300 juta/bulan. “Itu jelas berat bagi jenis resto yang mengusung keunikan masakan tradisional seperti Wong Solo ini.”

Selain itu, tambah Sugiri, meski resto-resto itu tutup, tidak berarti semuanya merugi alias belum balik modal. Dia menyebut contoh resto di Jl. Margonda Raya, Depok, yang sudah tutup. “Yang di Depok itu sudah balik modal. Sudah berapa kali tepatnya saya lupa. Dan sekarang tambah lagi mendapat ganti rugi karena pembebasan tol,” Sugiri berpendapat.

Apa pun yang telah terjadi di masa silam, tampaknya kini GSW belajar dan berusaha bangkit dengan strategi dan wajah yang baru. Mereka juga boleh dikatakan tiarap. Tak ada publikasi walaupun terus melebarkan sayap dengan membuka cabang-cabang baru di luar Jabodetabek. Pengalaman panjang menggarap resto sejak 1997 tampaknya mengajarkan banyak hal tentang bagaimana karakteristik bisnis resto: easy come easy go. Pengunjung bisa membludak, bisa senyap. Bisa cepat menanjak, tetapi juga mundur mendadak.

Tanpa banyak berkoar, GWS bangkit dengan strategi baru: mengusung konsep multimerek, melalui kemitraan dengan sang pemilik merek. “Sekarang di grup kami ada delapan nama resto. Dulu kami hanya ada satu nama, RM Ayam Bakar Wong Solo,” Sugiri menjelaskan. Ke-8 merek itu adalah RM Ayam Penyet Surabaya, Mie Jogja Pak Karso, RM Iga Bakar Mas Giri, Mie Kocok Mang Uci, Mi Ayam Jamur Medan, Mi Ayam KQ 5, Steak KQ5 dan RM Ayam Bakar Wong Solo itu sendiri.

GWS kini menyebar di 105 titik, dan jangan dikira resto-resto itu semua berskala kecil. Contohnya, RM Ayam Penyet Surabaya yang kini tak kurang dari 16 gerai. Ukuran restonya besar, tak beda jauh dari ABWS. Iga Bakar Mas Giri yang kini sudah ada 12 gerai pun bukan kelas resto kecil.

Lebih dari itu, resto-resto itu juga dipenuhi pengunjung. RM Iga Bakar Mas Giri di Purwokerto (Jl. GOR Satria), misalnya, tiap hari sangat ramai. RM Ayam Penyet Surabaya pun biasa penuh dan bahkan di beberapa gerai konsumen harus rela antre. “Kami berusaha hadirkan konsep baru, dan alhamdulillah disambut baik. Tak disangka, di berbagai tempat, resto kami jadi trendsetter dan kemudian konsepnya ditiru pemain-pemain lain di daerah itu,” ujar Sugiri. Salah satunya, Mi Ayam KQ5. Ukuran restonya besar, di tepi jalan besar dan ramai, dengan memakai tenda pesta tetapi tidak bongkar- pasang. Di dalamnya menggunakan kursi dan meja plastik yang simpel. “Ini untuk segmen anak muda. Sambutannya luar biasa sehingga banyak ditiru pemain lain.”

Bagi GWS, kehadiran merek-merek baru ini membawa sejumlah berkah. Dari sisi pendapatan, Iga Bakar Mas Giri dan saudara-saudaranya sudah menyumbang 30% untuk pendapatan grup. “Sekitar 70% masih disumbang Ayam Bakar Wong Solo, apalagi ada kontribusi dari luar negeri,” kata Sugiri. Berkah lain, jumlah pekerja yang dilibatkan kini justru tertinggi dalam sejarah GWS. “Total pekerja yang terlibat sekitar 2.000 orang,” dia menghitung. Tahun 2004 baru 1.700 orang. Berkah lain?

Konsep multimerek ini membuat GSW berada di strategi yang mantap: berada di sebanyak mungkin segmen pasar. Dulu, ABWS hanya menyasar konsumen keluarga atau orang dewasa. Sekarang mereka bisa bermain di banyak lapisan: dari segmen anak muda hingga dewasa, dari keluarga hingga individu di kota-kota besar dan kota kabupaten yang tidak terlalu besar.

“Sekarang pilihan strategi kami lebih banyak. Kami menyesuaikan diri dengan kondisi lokasi dan memilih konsep resto yang paling cocok,” kata Sugiri. Dia menyebut contoh Mie Jogja Pak Karso, yang fleksible masuk ke kabupaten dan kota kecil. Pak Karso aslinya seorang penjual mi ayam biasa (skala kecil) di Muntilan (Magelang, Jawa Tengah), kemudian di-branding dan dikembangkan GWS hingga kemudian berkembang di banyak tempat. “Sekarang outlet Mie Jogja Pak Karso sudah 20-an. Pak Karso dapat pendapatan rutin (fee) tiap bulan dari GWS karena namanya kami pakai,” Sugiri menjelaskan.

Pemilihan lokasi adalah komponen yang kini semakin diperhatikan. GWS kian selektif. Bagaimana dengan pasar Jabodetabek? Nama ABWS masih dihindari. Jakarta juga tak terlalu dibidik. Mereka melingkar di Bogor, Depok, Bekasi dan Tangerang. “Sudah ada 14 outlet yang tidak memakai brand Wong Solo,” ujar Sugiri.

Untuk ABWS, mereka malah berupaya terus menggarap pasar luar negeri. Malaysia, misalnya. Di negeri jiran itu sudah ada tujuh gerai. Satu milik sendiri, sisanya milik franchisee. Pasar Malaysia mulai digarap pada 2005. “Butuh tiga tahun untuk pengenalan pasar di sana. Sejak tahun keempat sudah lepas landas.” kata Sugiri.

Penetrasi di Malaysia dimulai dari cabang di Ampang, negara bagian Selangor. Cabang pertama GWS di Malaysia ini diresmikan Menteri Pelancongan Malaysia saat itu, Datuk Sri Yahid Hamidi – kini menjabat Menteri Pertahanan Malaysia. Setelah itu diikuti pembukaan di Shah Alam (Selangor), Kampung Baru (Kuala Lumpur), Bandar Sri Permaisuri (Kuala Lumpur), Alor Star (Kedah Darul Aman) dan Bangi (Selangor). Semua resto menggunakan nama ABWS.

Pada hari-hari biasa, 500-600 orang berkunjung di setiap gerai. Pada Sabtu-Ahad dan hari libur, jumlahnya meningkat 800-1.000 orang per gerai. “Sambutan pasar di luar dugaan kami,” kata Sugiri. Yang membuatnya tambah semringah, 95% pengunjung adalah WN Malaysia, bukan TKI. “Kami senang Wong Solo bisa diterima dan menjadi tuan di negeri Malaysia,” kata Puspo Wardoyo.

Tak cuma strategi multimerek dan lokasi, GWS juga menjadi kian selektif dalam memilih investor selaku mitra bisnis. Belajar dari pengalaman, mereka kini tak ingin mengulang pola lama: mencari investor sebanyak-banyaknya secara latah. Yang dicari adalah yang bervisi dan berkomitmen sama karena model investor seperti ini yang biasanya mampu berkembang bersama. Sugiri menyebut contoh seorang mitra bisnisnya di Jakarta, Elvin Elviana, pemilik RM Wong Solo Casablanca Jakarta.

Elvin termasuk franchisee yang sukses bersama GWS. Ketika banyak cabang ABWS di Jabodetabek berguguran, cabang Casablanca milik Elvin tetap eksis dan ramai. Berdasarkan pantauan SWA di sebuah siang di bulan November, resto di Casblanca ini tak bisa disebut sepi. Pengunjungnya umumnya kalangan profesional yang sedang break makan siang ataupun mereka yang rapat santai sembari makan siang di luar kantor.

Menariknya, kerja sama dengan GWS tidak hanya di Casablanca. Elvin punya 11 gerai dengan berbagai jenis merek hasil kerja sama dengan GWS. “Selain satu visi, hubungan kami dengan GWS sudah sangat dalam. Suka-duka sudah kami lewati bersama. Kami justru menjadi teman untuk sharing dalam mengembangkan bisnis,” kata Elvin, pengusaha yang juga punya usaha perdagangan garmen.

Strategi pemilihan mitra bisnis yang lebih selektif juga dilakukan dalam mengembangkan gerai di luar negeri. Sugiri menyebut contoh di Malaysia, dari enam gerai yang dimiliki franchisee, investornya satu orang, Hashim Maman, mantan pemain timnas sepak bola Malaysia tahun 1980-an. “Dia bukan master franchise, namun lebih tepat disebut priority customer kami,” ujar Sugiri. Bermitra dengan Hashim, GWS cukup klop dalam mengembangkan pasar Malaysia walaupun tidak menutup mata bila ada investor lain yang bervisi sama.

Terkait manajemen pertumbuhan, secara umum GWS memasang target tiap bulan buka satu gerai. Untuk pasar Indonesia, pertumbuhan yang kini sedang digenjot terletak di Kalimantan dan Sulawesi. Menariknya, di luar Jawa, GWS tetap mengusung nama ABWS. Di Kalimantan Selatan, misalnya, sudah ada tujuh gerai ABWS dan dua gerai lagi sedang menunggu dibuka. Selain itu, juga hadir di Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Sulawesi Selatan dan Sulawesi Utara. “Kami terus keliling ke luar Jawa untuk buka peluang,” kata Sugiri.

Selain di Kalimantan dan Sulawesi, ABWS juga hadir di Aceh (dua gerai), Medan (dua) dan Palembang (satu). Sementara di Jawa, ABWS ada di wilayah-wilayah yang jauh dari Jabodetabek, yakni di Pekalongan, Ungaran, Semarang, Madiun, Malang, Kediri, Jombang, Gresik, Mojokerto dan Sidoarjo. Bagaimana dengan pasar Jabodetabek?

Manajemen GSW tak memungkiri pasar ini sangat besar dan menjanjikan. Namun, mereka tak ingin buru-buru kembali membangun imperium di wilayah ini. Di sini, ke-7 merek lain yang dibangun. Kemudian, karena biaya di pasar Jabodetabek terbilang tinggi (biaya sewa properti makin menggila), GWS menempuh strategi baru: mencari peluang kersa jama dengan pemilik properti. “Jadi bukan sewa, tetapi profit sharing, untuk mengurangi risiko,” kata Sugiri. Dia menceritakan, baru saja timnya menjajaki kemungkinan menyewa ruangan di Mal Casablanca City yang sedang dibangun. “Sewanya Rp 2 M untuk tiga tahun. Padahal, itu propertinya belum jadi. Kami tidak sanggup.”

Untuk menyewa pada gedung yang berdiri sendiri (stand alone) juga mahal. Ada yang Rp 300 juta/bulan. “Makanya pilihan strategi kami, daripada dipakai membuka satu outlet di Jakarta, uang yang jumlahnya sama lebih baik dipakai untuk modal membuka 4-5 outlet di luar Jakarta. Itulah yang kami lakukan beberapa tahun belakangan ini,” papar Sugiri. Dia kemudian merinci, dengan asumsi menggunakan jumlah modal yang sama, di luar Jakarta bisa membangun lima gerai dan sehari setiap gerai bisa mendapatkan omset Rp 10 juta, sehingga meraup Rp 50 juta. “Di Jakarta satu outlet bisa menghasilkan Rp 50 juta sehari, mana ada? Berat sekali mengejar omset itu di sini!” Sugiri menghitung. Biasanya, biaya investasi ABWS di Jakarta untuk satu gerai butuh Rp 2,5 M. Kalau kota satelit seperti Depok atau Bekasi masih bisa Rp 1,5-1,7 M.

Sugiri mengeluhkan, bagi para pelaku bisnis resto, pasar properti di Jakarta tidak sekondusif di Malaysia dan Singapura. Di kedua negara itu pola sewa umumnya bulanan. “Di sini sewanya maunya dibayar 3-5 tahun sekaligus dan maunya di depan,” katanya. Di Malaysia sebagaimana yang dia jalani sekarang, pola sewa umumnya 3+1. Pada bulan pertama, si penyewa membayar untuk empat bulan sesuai konsep 3+1 tadi (3 sebagai jaminan dan 1 untuk bayar sewa bulan ke-1). “Bulan ke-5 dan seterusnya dibayar per bulan, sangat meringankan,” ujarnya. Walaupun menangani pasar Jabodetabek tak gampang, GWS tetap akan menggarapnya dan terus menggodok strateginya.

Setelah periode “huru-hara” ketika kampanye poligami merebak, manajemen GSW kini bisa dikatakan lebih solid. Dari sisi pengelolaan bisnis, dalam pandangan Sugiri, “Bila dibandingkan (dengan sebelumnya), posisi kami lebih senang karena sekarang lebih tenang. Dulu senjata saya cuma satu, ABWS saja, sekarang ada delapan brand resto,” katanya. Pihaknya tinggal menyesuaikannya dengan lokasi dan kemudian memilih konsep resto yang paling cocok. “Dari sisi strategi bisnis, kini tersedia lebih banyak pilihan.”

Dengan pola yang sekarang dijalankan, manajemen GWS juga cukup puas karena terbukti bisa meraih pertumbuhan tahunan rata-rata 20%. Setiap bulan selalu bisa membuka cabang baru. Kini rata-rata per gerai mempekerjakan 20 orang. Bila dirata-rata per orang dibayar dengan standar UMP Rp 800 ribu (sudah dipertimbangkan mereka yang gajinya di atas Rp 1 juta seperti para manajer cabang dan asisten manajer, serta mereka yang UMP-nya masih di bawah Rp 800-an ribu), setiap bulan GWS membelanjakan Rp 1,6 M untuk karyawan (Rp 800 ribu x 2.000 orang). Artinya, dalam setahun bisa berbagi ke karyawan Rp 19,2 M. Angka yang tidak kecil tentunya.

Utomo Nyoto, pakar manajemen waralaba, melihat peluang GWS untuk berhasil dengan konsep multimerek cukup terbuka. ”Pola multibrand merupakan suatu pilihan. Harus diingat, dari sisi effort, upaya yang dibutuhkan akan lebih banyak dibandingkan dengan menggarapsingle brand. Namun, tentu saja selalu terbuka peluang untuk berhasil,” Utomo menjelaskan. Caranya: tidak dengan menu tunggal pada setiap merek. ”Kalau single-menu, biasanya harus istimewa citarasanya, atau sangat strategis lokasinya, atau supermurah harganya, supaya tercapai skala ekonomisnya,” katanya. Menurutnya, dalam industri kuliner, merek tidak menjadi destinasi kalau tidak ada menu yang khas, suasana yang khas, atau lokasi yang khas (strategis untuk bertemu).

Manajemen GWS tampaknya tetap yakin dan terus akan melaju, mengembangkan jumlah gerai. Di Malaysia ditargetkan tahun 2012 bisa menambah lima gerai. Bahkan, tahun 2016 ABWS dipatok tersebar ke semua ibukota di 11 negara bagian. Sebenarnya GSW saat ini bisa saja berlari kencang. Namun, ada keterbatasan pasokan tenaga kerja. Tidak mudah mengirim TKI untuk bisa bekerja di ABWS Malaysia karena sulitnya mendapatkan visa kerja. “Kalau pasokan TKI lebih lancar, kami bisa lebih cepat tumbuh karena di sana outlet kami ramai sekali. Apalagi, dalam mencari lokasi lebih mudah karena tata kota di sana lebih rapi dan terpola,” ungkap Sugiri.

Sugiri sangat optimistis terhadap masa depan bisnis yang dikelolanya. ”Pasar kami di Jakarta memang turun, namun kami mendapatkan gantinya di luar Jakarta. Di Jawa Timur, Aceh, Medan, Kalimantan, dan Sulawesi kami sama sekali nggak ada masalah. Jakarta ini memang agak unik. Tapi tantangan buat kami untuk bisa diterima di Jakarta,” ungkapnya.

Entah kapan mereka kembali ke Jakarta. Yang pasti, mirip lagu Koes Plus, mereka punya tekad, ”Ke Jakarta aku kan kembali.” Sekarang, mereka konsentrasi dulu mengepakkan sayap dalam kesenyapan.
Rumput Liar CERITA SUKSES

Rahasia Sukses Pendiri Facebook

Mark Zuckerberg mengguncang dunia setelah mendirikan Facebook pada tahun 2004. Facebook tak hanya mengubah cara orang berkomunikasi tetapi juga membuat pendirinya kaya raya. Apa rahasia sukses Mark Zuckerberg, sang pendiri Facebook? 
Ada sejumlah kunci suksesnya yang ditelaah oleh para ahli pengembangan bisnis, 7 di antara adalah sebagai berikut:

1.Mimpi.
Facebook didirikan bukan secara kebetulan. Zuckerberg merancangnya mulai dari mimpi. "Kami membangun sesuatu yang kami pikir bagus. Kami ingin membantu orang berbagi foto, video, dan berbagi pesan satu sama lain," ujarnya.
2. Berpikir Besar
Meski awalnya "proyek" kampus, Zuckerberg, berpikir bahwa denganFacebook cara berkomunikasi orang akan berubah. "Dengan memberi orang kekuatan untuk berbagi, kami membuat dunia lebih transparan," ujarnya.
3. Mulailah dari Kecil
Beruntunglah di zaman teknologi informasi ini karena suatu usaha bisa dimulai dari ukuran kecil tanpa kehilangan gema besarnya. Tak perlu menunggu modal besar untuk memulainya. Bisnis sukses seperti yang dilakukan Bill Gates (Microsoft) dan Steve Jobs (Apple) dimulainya juga dari kecil (garasi rumah). Begitu juga dengan Mark Zuckerberg yang mulai membangun Facebook dari kamarnya yang kecil.
4. Percaya pada Diri Sendiri
Memulai bisnis tentu bukan pekerjaan mudah. Namun bekal pengetahuan dan kemampuan bisa mempermudahnya. Percaya pada kemampuan diri sendiri menjadi hal paling penting. "Saya memulai bisnis website ketika masih 19 tahun. Saya tak tahu apa-apa soal bisnis. Tetapi kunci simpelnya adalah, jika kita memulainya dari sesuatu yang lebih mudah, kita pasti bisa membuat suatu progress (kemajuan)," katanya. Jadi mulailah dari hal yang paling mudah, jangan tinggal diam.
5. Ikuti Gairah
Pekerjaan apa yang membuat kita bergairah? Di situlah bakal sukses kita berada. Zuckerberg begitu menyukai duduk berlama-lama di depan komputer sejak anak-anak untuk membuat suatu program. Gairah itu ia pelihara hingga kuliah. Kendatipun ia drop-out, bukan berarti gairahnya berkurang. Justru ia makin tertantang hingga lahirlah Facebook.
6.Tekun dan Fokus
Fokuslah pada impian kita dan tekunlah mengerjakannya. Jangan cepat menyerah karena tak ada sukses yang didapat dengan mudah, termasuk prestasi ajaib yang diraih Zuckerberg dalam membangun Facebook. "Orang berpikir bahwa kami membangunnya seperti fiksi. Padahal kami harus bekerja keras. Kami duduk di depan komputer selama enam tahun untuk membuat kode," katanya.
7. Tak Perlu Takut Menghadapi Para Raksasa
Zuckerberg memulai Facebook dengan impian website itu akan jadi jantung industri internet. Padahal saat itu sudah ada raksasa yang sulit digoyahkan, yaitu Google. Namun selalu ada jalan baru, model baru, atau peluang baru yang belum digarap pihak lain. Karena itu tak perlu takut memulai hal yang baru dan bersaing menghadapi raksasa. Selama kita yakin apa yang dilakukan adalah sesuatu hal baru dan potensial menjadi raksasa, tak perlu takut memulainya. Keberanian adalah modal utama orang-orang sukses. Buktinya, meski sudah ada raksasan, Facebooktumbuh menjadi raksasa baru.
Nah, seperti apa impian Anda? Mulailah dari kecil, tekun menggarapnya, tetap jaga gairahnya, dan jangan takut bersaing. Sukses berada di depan kita.

Kisah sukses Heidemarie Schwermer, 16 Tahun Hidup Tanpa Uang

Bisakah Anda membayangkan hidup tanpa uang? Seorang wanita berumur 69 tahun ini sudah membuktikan bahwa hal itu bukanlah mustahil. 
Selama 16 tahun belakangan ini, wanita bernama Heidemarie Schwermermenjalani hidupnya tanpa uang sepersen pun. "Petualangan" hidupnya yang unik ini berawal dari kejengkelannya terhadap perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Heidemarie menyebutkan bahwa sekarang ini masyarakat makin konsumtif dan rakus.


Pada masa kecilnya, Heidemarie pernah mengalami kekurangan kebutuhan hidup karena menjadi pengungsi yang melarikan diri dari pasukan Rusia selama PD II. Lalu pada akhir tahun 1960-an, Heidemarie pernah tinggal di Chile selama satu tahun. Di negara inilah, ia melihat kemiskinan yang parah. Begitu kembali ke kampung halamannya, Jerman, ia menikah dan memiliki dua anak. Ia lalu bercerai dan pindah ke Dortmund pada 1982. Di sanalah ia membuka praktik psikoterapi.
Lalu pada 1994 lahirlah ide untuk memulai sebuah usaha toko pertukaran tempat orang bisa melakukan barter barang dan jasa. Keberhasilan usahanya ini membuat Heidemarie mengambil keputusan besar pada 1996: ia berhenti dari pekerjaannya dan menyumbangkan semua barang miliknya, kecuali hal kecil yang bisa masuk ke dalam koper dan ransel, pindah dari rumah sewaannya, menutup rekening banknya, dan membatalkan asuransi kesehatannya.
Janda beranak dua ini pun meninggalkan rumah yang nyaman pada 1996 setelah anak-anaknya mulai meninggalkan rumah dan hidup mandiri. Sejak tahun itulah, Heidemarie mampu membuktikan keyakinannya sendiri bahwa ia dapat hidup tanpa uang. Ia bisa mendapatkan semua yang dibutuhkannya dengan barter dan mendapatkan hadiah. Pada awalnya, gaya hidup seperti ini hanya dijadikan sebagai eksperimen selama satu tahun saja. Tapi karena merasa makin sejahtera dan bahagia, Heidemarie tetap menjalankan hidup tanpa uang hingga saat ini.

"Saya ingin memahami apa yang berlangsung dalam pikiran manusia. Tapi hal itu ternyata belumlah cukup. Saya masih ingin melakukan lebih banyak lagi bagi dunia ini," jelas Heidemarie.
Heidemarie menuangkan seluruh pengalaman hidupnya dalam buku. Buku pertamanya, The Star Money Experiment cukup sukses di pasaran dan uang hasil dari penjualan bukunya itu diberikan ke orang-orang di jalanan. Kemudian, ia menelurkan buku-buku sukses lainnya dan meminta penerbit memberikan royaltinya untuk amal. "Cara ini dapat membuat banyak orang bahagia, bukan hanya satu orang saja," kata Heidemarie perihal keputusannya menyumbangkan seluruh royalti penjualan bukunya.
Heidemarie menghidupi dirinya dengan seluruh kemampuan yang ia bisa. Bahkan, ia sempat berlibur ke luar negeri, dengan membarter tiket perjalanan dengan imbal jasanya sebagai guru dan psikoterapis. "Saya tidak pernah kekurangan makanan, pakaian atau teman-teman. Saya tak mau hidup saya dibuat stres dengan diperintah oleh uang atau tagihan dan keserakahan. Saya mengalir saja dalam hidup," katanya.
Saking uniknya, perjalanan hidup Heidemarie ini bahkan menjadi subjek dalam sebuah film dokumenter bertaraf internasional dengan judul "Living Without Money" garapan sutradara Line Halvorsen. "Film ini tidak mengajarkan Anda bagaimana untuk hidup tanpa uang, tetapi ini adalah potret seorang wanita yang membuat pilihan sangat berani dan inspiratif," jelas Halvorsen.
Heidemarie sendiri mengaku tidak berusaha untuk mencari pengikut, tapiia berharap apa yang dilakukan ini bisa membantu orang lain untuk merefleksi gaya hidup mereka dan hubungan mereka dengan sesamanya.